
Dosen FIKOM UMN Wakili Indonesia dalam Program IVPP Parul University, India
April 17, 2026
Foto bersama jajaran Kemenekraf, rektorat & dekanat UMN, dan AINAKI (Dok. UMN)
Tangerang, (16/04/2026) – Fakultas Seni dan Desain (FSD) UMN mendapat kunjungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenekraf RI), Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kunjungan ini ditujukan untuk membahas perkembangan industri animasi Indonesia melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri.
Saat ini, industri animasi di Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan dengan hadirnya berbagai karya anak bangsa yang mulai menembus pasar global. Dalam konteks ini, UMN menjadi salah satu perguruan tinggi yang berkontribusi dalam mencetak talenta baru di bidang animasi, yang tercermin melalui komitmen untuk membangun ekosistem pendidikan yang mendukung proses pembelajaran serta mendorong lahirnya talenta yang mampu bersaing di industri. Diskusi ini dibuka oleh Rektor UMN, Dr. Andrey Andoko, yang memaparkan perspektif perguruan tinggi dalam mendukung perkembangan industri animasi.

Sambutan dan pembukaan diskusi oleh Rektor UMN (Dok. UMN)
“Bangga rasanya hari ini UMN dapat membuka dialog bersama Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan AINAKI. Ini menjadi kesempatan yang baik untuk kami, sehingga nantinya kami bisa terus mengikuti kebutuhan industri animasi Indonesia dan menjadi talent incubator. Tentu untuk memajukan Indonesia dan mendukung kemajuan ekonomi kreatif, utamanya lewat sektor animasi. ”, ucap Andrey.
Andrey juga memaparkan bagaimana seluruh mahasiswa di UMN tidak hanya dibekali dengan teori tapi juga praktik industri yang nyata, secara ekosistem kurikulum dan riset UMN menekankan pada dua bidang yakni Artificial Intelligence (AI) dan Sustainability. Serta fasilitas-fasilitas lab yang setara dengan industri, sehingga nantinya setelah lulus mahasiswa siap dengan dunia kerja.
Melanjutkan diskusi tersebut, Dekan Fakultas Seni dan Desain (FSD) UMN, Muhammad Cahya Mulya Daulay, S.Sn., M.Ds., turut memaparkan secara lebih rinci mengenai ekosistem pendidikan di UMN.

Pemaparan diskusi oleh Dekan FSD UMN (Dok. UMN)
“Ekosistem pendidikan ini terimplementasikan di UMN dengan baik, dan lewat konsistensi ini juga dibuktikan dengan pencapaian yang ada, mulai dari pencapaian akreditasi ACQUIN, QS Ranking by Subject Art and Design, Scimago Institution Ranking (SIR)”, tambahnya.
Ia menambahkan bahwa FSD UMN berkomitmen untuk terus mengembangkan talenta kreatif melalui lingkungan kampus yang kolaboratif, baik dengan pihak internal maupun eksternal. Komitmen ini diwujudkan melalui ekosistem kreatif antara semua stakeholder, baik Prodi, Fakultas, Kampus, Industri, dan Asosiasi, tentunya bersama Pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
“Secara khusus, jika kita membicarakan Film & Animasi, dosen-dosen UMN memang terlibat aktif dalam asosiasi dan juga industri; cukup banyak praktisi industri yang menjadi pengajar di UMN,” jelas Cahya.
Cahya juga menjelaskan komitmen nyata ini dibuktikan dengan bagaimana mahasiswa, alumni, dan dosen, khususnya pada program studi Film & Animasi, sudah banyak yang terlibat juga dalam proyek film-film di Indonesia, mulai dari Jumbo, KKN Desa Penari, One Piece, Na Willa, Spider-Man: Across the Spider-Verse, Guardians of the Galaxy, dan berbagai karya film lainnya. Sebagai tambahan, Cahya juga memaparkan keterlibatan UMN secara berkala pada Festival Film Indonesia (FFI).
Melanjuti diskusi, Teuku Riefky Harsya selaku Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, juga memaparkan bagaimana saat ini pemerintah Indonesia mendukung pengembangan industri animasi sebagai bagian dari penguatan sektor ekonomi kreatif nasional.

Penyampaian materi dan diskusi oleh Menteri Ekonomi Kreatif RI (Dok. UMN)
“Dialog antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah menjadi penting bagi kami untuk kebaikan industri animasi Indonesia. Saya ingin kolaborasi antara sektor semakin kuat dan dapat menjadi mesin baru ekonomi Indonesia. Presiden Prabowo sendiri melihat bagaimana industri kreatif saat ini menjadi aset dan mesin baru untuk mendukung pergerakan ekonomi Indonesia melalui lapangan kerja baru dan mendorong kewirausahaan baru”, ucap Teuku.
Saat ini, Menteri Ekonomi Kreatif RI telah meningkatkan subsektor ekonomi kreatif, salah satunya Film & Animasi yang menjadi prioritas utama. Fokus dalam pengembangan subsektor ini adalah mendorong Intellectual Property (IP) lokal dengan kualitas dunia. Menurut Teuku, perkembangan animasi di Indonesia saat ini layak untuk dikembangkan hingga internasional.
“Menurut data yang ada saat ini, 50% generasi muda cukup banyak mengisi industri kreatif. Selain karena pekerjaan yang fleksibel, mereka dapat bekerja sesuai keinginan mereka. Lewat data ini. Kementerian Ekonomi Kreatif akan berkomitmen penuh untuk mengawal dan memperkuat pengembangan industri kreatif di Indonesia, serta memperkuat kolaborasi strategis antara pemerintah, perguruan tinggi dan pelaku industri sebagai fondasi percepatan ekosistem”, tegas Teuku.
Teuku meyakini UMN dapat berperan sebagai inkubator nyata talenta digital dan menghasilkan IP lokal berkualitas, sehingga UMN tidak hanya memberikan ruang akademik, tetapi juga menghadirkan fasilitas berstandar industri dan memastikan link and match dengan kebutuhan industri benar-benar berjalan. Bagi Teuku, lewat sinergi antara UMN, AINAKI, dan Kementerian Ekonomi Kreatif dapat mendukung visi Indonesia sebagai IP Powerhouse yang mampu bersaing pada tingkat global.
Memperkaya diskusi ini, Daryl Wilson selaku Ketua Umum AINAKI juga turut menyampaikan pandangannya.

Ketua Umum AINAKI dalam diskusi bersama Kemenkraf dan UMN (Dok. UMN)
“AINAKI sudah bergerak sejak 1998, dulu memang asosiasi kami cukup eksklusif namun seiring berjalannya waktu kami sadar bahwa pihak swasta tidak bisa bergerak sendiri, sehingga kami terus memperluas kolaborasi kami salah satunya dengan perguruan tinggi di Indonesia. Lewat banyaknya perusahaan, perguruan tinggi, maupun pemerintahan yang bergabung dengan AINAKI, saat ini kita bisa turut serta mewadahi kolaborasi antarsektor, ucap Daryl.
Sejalan dengan komitmen UMN dan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dalam pengembangan talenta-talenta muda di Indonesia, Daryl melihat perkembangan industri animasi di Indonesia saat ini yang semakin pesat. Bagi Daryl, perkembangan ini tidak hanya meningkatkan kualitas IP lokal saja, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru. Salah satu contohnya adalah animasi Jumbo yang melibatkan 500 animator Indonesia.
“Terkait IP, tentu seiring berjalannya waktu secara grafik Indonesia sudah meningkat, namun perlu ditegaskan bahwa IP tidak hanya menciptakan hal baru, tapi juga karakter dan cerita yang berkesan untuk masyarakat. Dengan visi UMN sebagai talent incubator, dan visi Kementerian EKRAF menjadi IP Powerhouse, saya yakin dengan kolaborasi lintas sektor dapat memberikan dampak pada skala internasional nantinya”, tutup Daryl.
By Rachel Tiffany | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.




