
Dosen Perhotelan UMN Borong Juara Nasional Lewat Inovasi Pembelajaran Digital di HOSPITOUR 2026
Mei 13, 2026
Ilustrasi liputan lingkungan hidup (Sumber: Freepik.com)
Di tengah meningkatnya krisis iklim, kebakaran hutan, polusi, dan kerusakan lingkungan, isu lingkungan semestinya menjadi prioritas utama dalam pemberitaan. Namun, realitas menunjukkan hal sebaliknya. Liputan lingkungan hidup masih kerap kalah saing dibandingkan berita politik, ekonomi, maupun hiburan. Kondisi ini tidak terlepas dari berbagai faktor, baik struktural dalam industri media maupun perilaku audiens.
Padahal, media memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik dan mendorong perubahan sosial dalam konteks jurnalisme lingkungan hidup. Ketika perhatian terhadap isu ini rendah, dampaknya tidak hanya pada kualitas informasi, tetapi juga rendahnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Berikut adalah alasan mengapa liputan isu lingkungan sering kurang mendapat perhatian. Simak penjelasannya berikut sobat UMN!
1. Dominasi Isu Politik dan Ekonomi di Media
Salah satu alasan utama berita lingkungan dinilai kurang mendapat perhatian adalah prioritas media yang lebih condong pada isu politik dan ekonomi. Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Jurnal Studi Jurnalistik tahun 2021 menyebutkan bahwa media lebih banyak menyajikan isu lingkungan dari sudut pandang hukum yang dibingkai dalam konteks politik daripada literasi tentang lingkungan. Hal ini menandakan bahwa isu lingkungan lebih cenderung ditampilkan sebagai komoditas politik sehingga minim dalam penerapan prinsip jurnalisme lingkungan.
Baca juga: Siap-Siap! UMN Garap Proyek Jurnalisme Lingkungan dari Hibah Pulitzer Center
2. Isu Lingkungan Dianggap Kurang “Menarik”
Media sangat dipengaruhi oleh banyaknya jumlah pembaca dan klik sehingga menjadi tolok ukur perhatian audiens. Berita viral, konflik politik, atau sensasi sosial cenderung lebih mudah menarik pembaca dibandingkan isu lingkungan yang sering bersifat kompleks dan jangka panjang. Akibatnya, isu lingkungan hanya muncul ketika terjadi peristiwa besar seperti bencana alam. Selain itu, isu lingkungan sering membutuhkan penjelasan ilmiah yang tidak sederhana. Informasi ini bisa terasa berat bagi audiens jika tidak didukung dengan penyajian yang menarik. Alhasil, isu lingkungan kalah bersaing dengan konten yang lebih ringan dan cepat dicerna.
3. Kompleksitas dan Kurangnya Konteks dalam Peliputan
Masalah lingkungan seperti perubahan iklim, deforestasi, atau krisis air melibatkan banyak faktor seperti sains, kebijakan, ekonomi, hingga sosial budaya. Kompleksitas ini membuat jurnalis harus bekerja lebih keras untuk menyederhanakan tanpa mengurangi akurasi. Namun, liputan lingkungan sering dikritik karena kurang memberikan konteks yang memadai atau latar belakang yang cukup. Hal ini menyebabkan audiens sulit memahami urgensi masalah tersebut. Akibatnya, berita seputar lingkungan tidak begitu mendesak bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga: Jurnalistik di Era Digital, Kenali Tantangan dan Peluangnya
4. Keterbatasan Sumber Daya dan Spesialisasi Jurnalis
Tidak semua media memiliki jurnalis khusus yang paham akan isu lingkungan secara komprehensif. Padahal, jurnalisme lingkungan membutuhkan keahlian khusus, termasuk pemahaman sains dan kemampuan investigasi. Jurnalis sering harus menyesuaikan diri dengan tuntutan redaksi, sumber informasi, dan kondisi lapangan yang bisa memengaruhi kualitas dan fokus liputan lingkungan. Oleh karena itu, liputan lingkungan sering tidak digarap secara mendalam.
5. Rendahnya Minat dan Literasi Publik
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah audiens itu sendiri. Ketertarikan masyarakat terhadap isu lingkungan masih relatif rendah, terutama jika dibandingkan dengan isu yang berdampak langsung secara ekonomi atau sosial. Ketika demand rendah, media pun cenderung tidak memprioritaskan supply. Akibatnya minat rendah → liputan sedikit → kesadaran rendah → minat tetap rendah.
Kurangnya perhatian terhadap liputan isu lingkungan merupakan hasil interaksi kompleks antara industri media, jurnalis, dan audiens. Mulai dari dominasi isu lain, kompleksitas materi, hingga rendahnya literasi publik, semuanya berperan terhadap fenomena ini. Padahal, di era krisis iklim seperti sekarang, jurnalisme lingkungan hidup justru menjadi semakin penting. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya dari media, jurnalis, maupun masyarakat untuk meningkatkan perhatian terhadap isu lingkungan secara lebih serius.
Tertarik mempelajari jurnalisme lingkungan langsung dari praktisi yang terlibat dalam proyek internasional? Program Studi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara membuka kesempatan bagi kamu untuk belajar sekaligus terlibat dalam produksi konten nyata seperti podcast dan liputan mendalam. Kunjungi website resmi UMN untuk mengetahui informasi pendaftaran dan program studi lebih lanjut.
Sumber:
By Reyvan Maulid | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




