
UMN dan National Formosa University Buka Ruang Kolaborasi Akademik Internasional
Oktober 1, 2026
Membuka Ruang Kolaborasi, BKSAP DPR RI dan UMN Diskusikan Perkembangan AI
September 30, 2026Konten Menarik Tak Cukup, Rektor UMN Soroti News We Can Use di Era News Creator

Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D. (di tengah) menyampaikan pandangannya dalam Diskusi Bulanan September 2026 bertajuk “News Creator sebagai Peluang Revenue Baru bagi Media” yang digelar AMSI bersama UMN di Hall Dewan Pers, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D. (di tengah) menyampaikan pandangannya dalam Diskusi Bulanan September 2026 bertajuk “News Creator sebagai Peluang Revenue Baru bagi Media” yang digelar AMSI bersama UMN di Hall Dewan Pers, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
TANGERANG – Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bersama Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) membahas kehadiran news creator sebagai salah satu peluang pengembangan revenue baru bagi industri media. Dalam Diskusi Bulanan September 2026 bertajuk “News Creator sebagai Peluang Revenue Baru bagi Media” di Hall Dewan Pers, Jakarta, Selasa (29/9/2026), perspektif akademisi turut menyoroti bagaimana perubahan pola konsumsi informasi memengaruhi cara media memproduksi dan mendistribusikan konten.
Rektor UMN Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D. menilai keberhasilan konten creator tidak hanya bergantung pada daya tariknya. Konten juga perlu memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh audiens.
“Konten-konten creator yang sukses karena apa yang disajikan itu tidak hanya menarik, bagi saya, tapi kemudian juga saya merasakan manfaatnya,” ungkap Andrey.
Diskusi tersebut mempertemukan perspektif industri dan akademisi mengenai perubahan ekosistem media digital. Selain Andrey, kegiatan menghadirkan Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika dan Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail. Kegiatan juga dihadiri mahasiswa UMN, insan pers, dan masyarakat sipil.
Dalam paparannya, Wahyu menyoroti perubahan pola generasi muda dalam menemukan berita. Gen Z kini dapat menemukan informasi melalui berbagai bentuk konten dan platform, sehingga media perlu menyesuaikan cara menyampaikan informasi agar tetap dapat menjangkau audiens.
Wahyu melihat news creator sebagai salah satu respons terhadap perubahan tersebut. Di media sosial, news creator dapat mengambil sejumlah peran, mulai dari memperjelas informasi, menghangatkan isu, menyelidiki sesuatu, hingga menjadi komentator.
“Jawabannya adalah news creator, bagaiaman supaya media mainstream juga punya social media presence yang kuat,” kata Wahyu.

Akademisi dan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengikuti Diskusi Bulanan September 2026 bertajuk “News Creator sebagai Peluang Revenue Baru bagi Media” di Hall Dewan Pers, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Perubahan cara audiens menemukan berita tersebut juga menjadi perhatian Rektor UMN Andrey. Menurutnya, masyarakat kini lebih berorientasi pada informasi yang mereka butuhkan tanpa selalu menjadikan sumber media sebagai pertimbangan utama.
“Orang lebih mencari informasi yang dia butuhkan terlepas sumbernya dari mana,” kata Andrey.
Andrey mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep ‘news we can use’. Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang memiliki manfaat sebenarnya bukan hal baru dalam perkembangan jurnalistik. Perkembangan media sosial kemudian memperkuat konsep tersebut melalui perubahan cara informasi didistribusikan kepada masyarakat.
Ketika media sosial semakin kuat, audiens juga menghadapi arus informasi yang semakin banyak. Dengan waktu yang terbatas, masyarakat tidak selalu secara aktif mencari berita, tetapi dapat menerima informasi berdasarkan apa yang muncul di platform yang mereka gunakan.
Kondisi tersebut membuat media perlu mempertimbangkan kualitas sekaligus strategi distribusi konten. Menurut Andrey, konten perlu disampaikan melalui tempat dan waktu yang sesuai agar dapat menjangkau audiens yang dituju.
“Sehingga dengan berbagai macam disrupsi informasi ini, kita juga harus memikirkan konten seperti apa yang layak kita sajikan dan kemudian menjadi diminati orang lain,” jelas Andrey.
Dalam konteks news creator, Andrey juga melihat adanya kesinambungan dengan profesi jurnalistik. Menurutnya, perubahan istilah dari jurnalis ke news creator tidak semestinya menghilangkan proses jurnalistik dalam menghasilkan sebuah konten.
“Justru istilah jurnalisitk itu sendiri, content yang di-create tadi memang diciptakan melalui proses kerja jurnalistik di mana kemudian di situ berbasis pada fakta,” kata Andrey.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai strategi media dalam menghadapi perubahan perilaku audiens. Dari sisi ruang redaksi, Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail menjelaskan bahwa media perlu terus belajar menghadapi disrupsi dan menyesuaikan pendekatan berdasarkan karakter platform.
Tirto.id, misalnya, membedakan alur kerja tim website dan media sosial. Tim website berfokus pada konten yang mendalam, lengkap, berbasis riset, dan sesuai kebutuhan pembaca, sedangkan tim media sosial mengembangkan konten yang lebih santai, jenaka, dan visual untuk menjangkau audiens yang lebih muda.
Perbedaan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan konsumsi informasi juga berdampak pada cara media mengembangkan produk jurnalistik. Produksi dan distribusi konten menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan hubungan dengan audiens sekaligus membuka ruang bagi pengembangan model bisnis media.

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Senin (11/5/2026). Kerja sama tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri media. (dok. Instagram @amsi_id)
Pembahasan tersebut juga memiliki kaitan dengan kerja sama AMSI dan UMN yang telah berlangsung sebelumnya. Kedua institusi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) di Gedung Kompas Gramedia pada 11 Mei 2026. Kolaborasi tersebut mempertemukan dunia pendidikan dan industri media untuk mendukung ekosistem pers dan jurnalisme yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
Bagi UMN, perubahan industri media juga menjadi perhatian dalam pendidikan jurnalistik. Andrey menilai pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya perlu memberikan teori jurnalistik, tetapi juga berbagai keilmuan yang dapat dikembangkan menjadi spesialisasi sesuai kebutuhan industri.
“Itu kalau dari sisi pendidikan. Apa yang diberikan teman-teman di Prodi [Jurnalistik] tidak hanya teori-teori jurnalistik saja, tetapi juga berbagai macam keilmuan yang bisa menjadi spesialisasi dari masing-masing tadi,” tutup Andrey.
Diskusi AMSI dan UMN tersebut memperlihatkan perubahan yang dihadapi industri media dalam menjangkau audiens digital. Di tengah perkembangan news creator dan pencarian model revenue baru, perspektif industri dan akademisi bertemu pada kebutuhan untuk memahami audiens, menyesuaikan distribusi konten, serta tetap mempertahankan proses jurnalistik berbasis fakta.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id



