
Arsitektur vs Desain Interior: Perbedaan, Lama Kuliah, dan Jalur Profesi Arsitek
April 28, 2026
Kuliah Tamu FIKOM UMN bersama Kamidia Radisti Ungkap Strategi Public Speaking “From Fear to Clarity”
April 29, 2026Belajar Langsung dari Industri, Mahasiswa Magister Desain UMN Dalami Place-Making di M Bloc Space

Mahasiswa Magister Desain Universitas Multimedia Nusantara bersama dosen pengampu mengabadikan momen kuliah lapangan di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), sebagai bagian dari pembelajaran berbasis industri.

Mahasiswa Magister Desain Universitas Multimedia Nusantara bersama dosen pengampu mengabadikan momen kuliah lapangan di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), sebagai bagian dari pembelajaran berbasis industri.
TANGERANG – Sore itu, kawasan Blok M tidak sekadar menjadi lalu-lalang anak muda yang mencari tempat berkumpul. Di antara deretan bangunan yang telah direvitalisasi, sekelompok mahasiswa Magister Desain Universitas Multimedia Nusantara berjalan menyusuri dan membaca ulang makna sebuah ruang di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Bagi mereka, kunjungan pada Sabtu (18/4/2026) itu bukan sekadar agenda kuliah lapangan, melainkan upaya untuk memahami bagaimana desain benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah “Sustainable Regenerative Theory Double“. Dosen pengampu, Dr. Suwito Casande, S.Sn, M.Ds., melihat adanya kebutuhan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana konsep regeneratif bekerja dalam realitas. Ia menilai bahwa pendekatan teoritis saja tidak cukup untuk menjawab kompleksitas desain saat ini, terutama ketika mahasiswa dituntut untuk mampu merespons perubahan sosial, budaya, dan ekonomi secara bersamaan. Dalam konteks tersebut, M Bloc Space dipilih karena dianggap berhasil menjadi contoh nyata bagaimana sebuah ruang dapat dihidupkan kembali dengan pendekatan yang adaptif dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar ruang kreatif, M Bloc Space menjadi representasi dari konsep place-making yang kini semakin relevan dalam industri desain. Melalui tema “The Art of Place-Making: Kolaborasi Multidisiplin di Balik M Bloc Space”, mahasiswa diajak memahami bahwa desain bukan lagi praktik yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari pertemuan berbagai disiplin, mulai dari desain, bisnis, hingga sosial budaya, yang saling beririsan dalam membentuk pengalaman ruang. Dalam pengamatan di lapangan, mahasiswa melihat bagaimana sebuah tempat tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga melalui narasi, aktivitas, dan komunitas yang menghidupinya.
“Yang ingin dicapai dalam kegiatan ini sebetulnya adalah pemahaman mahasiswa bahwa desain bukan cuma entitas tunggal, tapi juga saat ini desain dituntut untuk dapat adaptif dengan mengintegrasikan bukan cuma ilmu desain saja. Namun, juga sudah mampu melibatkan tinta disiplin itu sebabnya mata kuliah ini memang menjawab beban yang diberikan oleh kurikulum M.Ds. atau Magister Desain, terutama pada aspek interdisiplin,” jelas Suwito.
Transformasi M Bloc Space sendiri menjadi studi kasus yang diamati secara langsung oleh mahasiswa Magister Desain UMN. Bangunan bekas Peruri yang sebelumnya kehilangan fungsi kini dihidupkan kembali menjadi ruang kreatif yang aktif dan mampu menarik berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, dampaknya meluas hingga menghidupkan kembali kawasan Blok M yang sempat mengalami stagnasi.

Mahasiswa Magister Desain UMN mendengarkan penjelasan dari praktisi Handoko mengenai konsep sustainable pada kawasan Blok M.
Pendekatan pembelajaran berbasis lapangan ini pun, menurut Suwito, pada akhirnya menjadi strategi penting dalam pendidikan Magister Desain, terutama karena sebagian besar mahasiswanya merupakan praktisi. Ia menilai pemahaman terhadap konsep regeneratif akan sulit dicapai jika hanya mengandalkan teori di ruang kelas, tanpa melihat bagaimana konsep tersebut diterapkan secara nyata di lapangan.
Mahasiswa, lanjutnya, tidak hanya belajar dari hasil akhir sebuah desain, tetapi juga memahami proses, tantangan, serta kompleksitas pengambilan keputusan yang terjadi di baliknya. Pengalaman ini mencakup bagaimana sebuah ruang harus terus beradaptasi terhadap kebutuhan pengguna, mulai dari perubahan perilaku pengunjung hingga penyesuaian fasilitas yang lebih inklusif.
“Pembelajaran berbasis lapangan ini juga sebetulnya satu strategi untuk bisa memberikan kesempatan buat mahasiswa untuk bisa belajar langsung pada praktisi yang memang sudah menerapkan konsep regeneratif, karena memang akan cukup sulit teori ini hanya dipahami dalam ruang-ruang kelas tanpa adanya contoh bagaimana konsep regeneratif ini diterapkan secara riil,” tutur Suwito.
Dari perspektif mahasiswa, pengalaman ini memberikan pemahaman baru tentang bagaimana desain bekerja dalam realitas. Steve Adrianto, mahasiswa Magister Desain UMN Batch 1, melihat bahwa pembelajaran di lapangan memberikan dimensi yang berbeda dibandingkan di kelas. Ia menilai bahwa desain yang relevan adalah desain yang mampu membaca perubahan zaman sekaligus memahami kebutuhan pasar yang terus berkembang.
“Pembelajaran yang penting buat saya adalah desain itu harus berkembang sesuai jaman dan mengamati kebutuhan pasar di lapangan,” ungkap Steve.
Lebih jauh, Steve juga menyoroti perubahan preferensi generasi muda dalam memaknai ruang publik. Menurutnya, kejenuhan terhadap ruang tertutup, seperti pusat perbelanjaan mendorong munculnya kebutuhan akan ruang yang lebih terbuka dan kontekstual, seperti yang ditawarkan oleh M Bloc Space.
“Karena sudah mulai jenuhnya anak muda sekarang dengan tempat healing di dalam gedung, contohnya mal, lebih suka konsep di luar gedung,” kata Steve.
Pada akhirnya, kuliah lapangan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga ruang refleksi bagi mahasiswa dalam melihat peran desain ke depan. Mereka tidak lagi sekadar belajar menciptakan bentuk, tetapi juga memahami bagaimana desain dapat menjadi alat untuk menghidupkan kembali ruang, membangun identitas, serta menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Dalam konteks ini, desain tidak berhenti sebagai produk, melainkan menjadi proses yang terus beradaptasi untuk menghubungkan masa lalu, kebutuhan saat ini, dan kemungkinan di masa depan.
“Kuliah lapangan di M Bloc ini mampu memberikan dampak untuk mahasiswa, yaitu memiliki keterampilan untuk bisa merancang konsep circular urban design yang jelas adaptif inovatif, juga sesuai dengan kondisi secara kontekstual. Kemudian, juga mampu menjadi insan yang peka memberdayakan kapasitas lokal memecahkan masalah pada masyarakat dengan menggunakan ilmu desain,” tutup Suwito.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



