Persiapan Seorang Creator Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dalam Bidang Creative Industries

Persiapan Seorang Creator Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dalam Bidang Creative Industries

pameran desain komunikasi visual dkv ultigraph universitas multimedia nusantara umn universitas terbaik di jakarta

Pembicara Nor Marini Moktar dan Nur Lallatul Husna Mohammad Yusof dalam acara Ultigraph 8 (Dok. UMN)

 

Tangerang – Creative Industries berhubungan erat dengan orang-orang dunia seni. Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, Ultigraph 8 mengundang tiga pembicara dari Universitas Teknologi Mara Malaysia untuk berbagi pengetahuan di UMN pada hari Kamis (31/10).

Pada seminar ini kepanitiaan Ultigraph 8 mengundang Nor Marini Moktar, Nur Lallatul Husna Mohammad Yusof dan Nur Hazwani Zolkifly untuk membahas tentang bagaimana seorang creator perlu mengambil sikap dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

“Industri 4.0 berfokus pada transisi menjadi proses produksi komputerisasi dan robotisasi yang akan mempengaruhi bisnis model sehingga bisnis model tersebut mengalihkan fokusnya terhadap customers,” jelas Nor Marini Moktar.

Menurut Marini bisnis model pada era Industry 4.0 dipengaruhi oleh 3 gelombang utama, yaitu Digital Customers, Digital Enterprise dan Digital Operation Wave. Digital Customers meliputi kita semua, Digital Enterprise meliputi bagaimana perusahaan berusaha beradaptasi dengan kebutuhan Industry 4.0, dan Digital Operation Wave meliputi perubahan proses produksi dari yang menggunakan Human Power menjadi Komputer dan Robotisasi.

Setelah itu, Husna menjelaskan bagaimana seorang creator dapat mengubah seni mereka menjadi sebuah bisnis. Ia berkata “Dilema seorang artis adalah mereka tidak ingin menjual karya seni mereka tetapi pada saat yang sama mereka memerlukan biaya untuk hidup”. Oleh karena itu Husna pun membahas 10 langkah yang perlu dilakukan oleh seorang creator untuk mempermudah bisnis mereka dalam era Industri 4.0 yang mengutamakan customers.

Langkah pertama adalah seorang creator perlu membuat suatu produk seni yang bagus karena tidak ada orang yang ingin membeli produk seni yang buruk, setelah itu creator tersebut juga perlu untuk mempelajari target pasar mereka agar mereka dapat fokus berkarya sesuai dengan target pasar mereka. Tidak lupa seorang creator juga perlu mengikuti trend yang sedang terjadi agar produk mereka tidak ketinggalan zaman. Seorang creator juga perlu untuk membuat sebuah proposal bisnis yang sederhana dimana proposal tersebut dapat menjelaskan tujuan dari bisnis mereka secara tidak membingungkan. Proposal tersebut juga perlu direview oleh sang creator secara berkala agar dia dapat tetap berjalan sesuai dengan tujuan awalnya. Creator juga perlu membuat komunitas dan fans dimana dia juga perlu membuat agar koneksi dengan komunitas atau fans tersebut dapat dilakukan dengan mudah. Seorang creator juga perlu memprioritaskan customersnya. Terakhir, seorang creator harus mengulangi langkah langkah tersebut jelas Husna.

“Inovasi adalah sebuah ide yang berubah menjadi produk yang dapat dipegang, disentuh, dan dijual ke masyarakat dimana ide tersebut datang dari kebutuhan atau keinginan masyarakat,” tutup Hazwani. Seorang creator harus berinovasi dan mengetahui kelebihan dan kekurangannya sendiri untuk memanfaatkan kekurangan pesaingnya sebagai sebuah opportunity. (*/YC)

*by Christofer Kemal Horas – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi InformatikaSistem Informasi Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | ManajemenKomunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan | International Program, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id