
Kuliah Tamu Intercultural Communication: Memahami Perbedaan, Membangun Koneksi
Oktober 11, 2026
Kuliah tamu Informatika UMN bersama CTI Group (Dok. CorCom UMN)
Tangerang, (09/10/2026) – Program Studi Informatika UMN berkolaborasi dengan CTI Group menyelenggarakan kuliah tamu Artificial Intelligence (AI) for Cybersecurity “Evolusi AI dalam Pentesting dan Threat Detection” yang menghadirkan praktisi industri untuk membahas perkembangan AI dan keamanan siber.
Kuliah tamu Informatika UMN dan CTI Group menjadi bentuk implementasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, sekaligus komitmen UMN dalam menyiapkan dan membekali mahasiswa dengan pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja nantinya.
Kuliah tamu ini diawali dengan pengenalan CTI Group dan program magang untuk mahasiswa oleh Widya Marcelina selaku Education Partnership. Ia turut menyambut antusias kolaborasi antara UMN dan CTI Group yang terus terjalin dengan baik.
“Kami membuka peluang magang melalui program CTIZENSHIP dari CTI Group untuk mahasiswa Program Studi Informatika UMN. Program magang ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja langsung kepada mahasiswa, tetapi juga mendorong mereka untuk terus mengasah kemampuan. Saya berharap nantinya para mahasiswa dapat bergabung dan menjadi bagian dari CTI Group,” ucap Widya.
Kuliah tamu ini menghadirkan Septian Agil Saputra selaku Security Consultant Defenxer CTI Group sebagai narasumber. Pada sesi ini, Agil membahas berbagai topik, mulai dari lanskap AI dan keamanan siber, AI dalam cyber threats, skill and career preparation, hingga demo Hermes Agent.
“Saat ini, penggunaan AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan dalam keamanan siber, tetapi sudah menjadi bagian dari praktik keamanan itu sendiri. Pengalaman saya sebagai white hat adalah menghadapi black hat setiap hari karena mereka meretas perusahaan atau individu menggunakan berbagai teknik. Peran AI menjadi penting bagi white hat dan kita tidak bisa menolaknya, karena kita juga bisa tertinggal dalam menghadapi para hacker,” ucap Agil.
Menyambung pembahasan mengenai lanskap AI dan keamanan siber saat ini, Agil menjelaskan bahwa AI bukan hanya sebatas chatbot. Ia melihat adanya tiga gelombang perkembangan AI, yaitu gelombang pertama berupa static tools, gelombang kedua ketika AI berperan sebagai co-pilot, dan gelombang ketiga berupa agentic AI, yaitu AI yang mampu merencanakan dan menjalankan tindakan berdasarkan tujuan yang diberikan.
“Menurut analisis saya, dalam agentic AI, manusia berperan sebagai supervisor yang menentukan apakah suatu tindakan dapat dilanjutkan atau tidak. Agentic AI memiliki otonomi yang tinggi, dapat merencanakan dan mengeksekusi tindakan sendiri. Namun, tetap diperlukan persetujuan manusia karena kalau tidak, sistem bisa mengacaukan server”, tegas Agil.
Bagi Agil, saat ini masih banyak tools yang mengklaim menggunakan teknologi AI-driven, padahal tidak semuanya benar-benar menggunakan komponen Large Language Model (LLM) dalam proses otomatisasinya. Ia juga menyoroti risiko keamanan pada aplikasi yang dikembangkan menggunakan AI, terutama jika developer tidak memeriksa kembali logika dan validasi data, seperti pada aplikasi transaksional dan perbankan. Selain itu, penggunaan LLM perlu memperhatikan validasi keluaran agar tidak memicu tindakan yang tidak diinginkan.
“Tren 2026, LLM bisa digunakan untuk melakukan bypass dan tidak dilaporkan, sehingga bisa menjadi ekosistem model uncensored untuk offensive automation. Kalau berada di tangan orang yang salah, ini bisa berbahaya. Ada juga isu dual use dan governance, termasuk bagaimana data pelanggan bisa disalahgunakan,” jelas Agil.
Bagaimana Peran AI di Masa Depan dan Kemampuan yang Perlu Disiapkan?

Pemaparan materi kuliah tamu oleh Agil (Dok. CorCom UMN)
Sebagai praktisi, Agil memaparkan sejumlah hard skills yang diperlukan mahasiswa untuk menghadapi perkembangan teknologi dan mempersiapkan karier mereka ke depannya. Kemampuan dasar tersebut meliputi pemahaman networking, bahasa pemrograman, agent orchestration literacy, hingga prompt engineering.
“Tidak hanya pemahaman dan ilmu saja, tentu kalian tetap perlu mengasah soft skills yang diperlukan nantinya, mulai dari penulisan laporan, kemampuan komunikasi untuk menjelaskan hal teknis kepada audiens nonteknis, hingga etika dan aspek legal”, papar Agil.
Bagi Agil, mahasiswa bisa mulai mempersiapkan kemampuan tersebut sejak di bangku perkuliahan. Upaya ini dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan melalui berbagai platform, terlibat dalam acara atau kompetisi, hingga mengambil sertifikasi untuk mengukur kemampuan yang dimiliki.
Pada akhir kuliah tamu, Agil berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak khawatir akan tergantikan oleh AI. Menurutnya, AI tidak sepenuhnya dapat menggantikan pekerjaan di bidang informatika karena manusia masih memiliki peran penting, terutama dalam pengambilan keputusan dan tanggung jawab.
“AI itu hanya mesin dan tidak memiliki tanggung jawab. Kita sebagai manusia masih memiliki peran untuk mengambil sebuah aksi, maka fundamental menjadi penting. Sama halnya, selama kita menambahkan value pada kemampuan kita, tentu kita tidak akan tergantikan oleh AI”, tutup Agil.
By Rachel Tiffany | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




