
Pengertian Sustainability Communication dan Perannya di Era Modern
Juni 8, 2026
Dosen UMN Dipercaya Isi Posisi Strategis di Kepengurusan Nasional ASPRODI DKV Indonesia 2026-2030
Juni 8, 2026
Donny Fernando saat mendokumentasikan objek dalam sebuah penugasan lapangan. (Sumber: UMN)
Tangerang, Rabu (27/05/2026) – Alumni program studi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kini sukses meniti karier sebagai jurnalis foto di media ternama, National Geographic Indonesia. Ketertarikannya pada dunia jurnalistik berawal sejak menjalani perkuliahan.
Menjadi saksi mata dari peristiwa-peristiwa besar yang kelak tercatat dalam sejarah adalah impian bagi sebagian orang. Bagi Maximilian Georgius Donny Fernando—alumnus program studi Jurnalistik UMN, tidak hanya pada tingkat Sarjana (S1) tetapi juga Pascasarjana (S2), impian itulah yang menuntun langkahnya masuk ke dunia jurnalistik. Kini, ia berhasil berkarier sebagai jurnalis visual di National Geographic Indonesia.
“Saya sebenarnya memilih jurnalisme itu berdasarkan sebuah keinginan bahwa saya ingin berada di lokasi yang sama ketika sebuah sejarah sedang terjadi. Misalnya, berita-berita hebat atau berita-berita besar yang sedang terjadi, saya ingin berada di tempat tersebut,” ucap pria yang akrab disapa Donny ini.
Perjalanannya membentuk kepekaan jurnalistik tidak lepas dari masa-masa perkuliahannya di UMN. Donny mengungkapkan bahwa dua mata kuliah yang paling berpengaruh terhadap kariernya saat ini adalah In Depth Journalism dan Komunikasi Antar Budaya yang dipertajam dari jenjang S1 hingga S2.
“Di In Depth Journalism, kita belajar tentang bagaimana mencoba untuk meriset sesuatu. Nah, di National Geographic Indonesia itu salah satu yang membuat visual kita menjadi dalam adalah kita tahu apa yang kita foto, bagaimana kita memotretnya, dan mengapa kita memotret visual tersebut. Itu dari riset, jadi foto kita sangat kontekstual pada akhirnya,” jelas Donny mengenai pentingnya riset dalam dunia fotografi jurnalistik.
Selain kemampuan teknis dan riset yang mendalam, lingkungan akademis UMN juga menempa sisinya sebagai seorang manusia. Donny menceritakan bagaimana tugas-tugas lapangan semasa kuliah, seperti meliput unjuk rasa buruh, pembuatan dokumenter, hingga meliput pertandingan sepak bola, telah mengajarkannya arti dari sebuah kesetaraan di hadapan narasumber.
“Pelajaran yang saya dapatkan selama di kampus itu, jalanan adalah guru kedua. Kita tidak boleh memandang rendah orang lain, dan juga kita tidak boleh memandang rendah diri kita di mata orang lain. UMN waktu itu mengajarkan saya untuk belajar menjadi manusia yang menempatkan diri sebaik mungkin kepada narasumber-narasumber dan subjek-subjek yang akan kita temui,” tuturnya.
Seiring dengan itu juga, ketertarikan Donny pada dunia fotografi sendiri sudah mengakar sejak ia menduduki bangku kuliah. Baginya, masa-masa menjadi mahasiswa adalah momen terbaik untuk melakukan eksperimen dan belajar dari kegagalan. Titik balik yang memantapkan hatinya untuk bertahan di jalur ini terjadi saat ia menjalani program magang.
“Saya merasa jatah trial and error dalam fotografi sudah saya habiskan pada saat saya di kampus. Momen yang membuat saya akhirnya terus fokus di fotografi itu saya rasa saat pertama kali magang. Saya diterjunkan langsung ke dalam situasi unjuk rasa besar 411 pada tahun 2016 dan di lapangan merasakan bahwa journalism life itu seperti ini. Pekerjaan ini punya nilai taruhan besar, itu yang membuat saya kayak, ‘Oh, value pekerjaan ini sangat besar karena taruhannya pun besar.’ Ketika risikonya besar, berarti reward-nya juga lumayan besar,” papar Donny.
Lebih jauh melangkah ke dunia profesional bersama National Geographic Indonesia, Donny juga merasakan perbedaan yang cukup signifikan dibanding masa kuliahnya dulu. Jika saat kuliah ia belum sepenuhnya menaruh perhatian detail pada sekelilingnya, dunia kerja menuntutnya untuk membuka mata lebih lebar.
“Ketika saya di UMN, saya belum pay attention ke sekitar. Tapi ketika saya sudah di Natgeo, waktu sudah mengajarkan saya untuk lebih menaruh perhatian detail pada sekitar saya, baik alam ataupun manusia, kemudian segala isinya baik satwa, flora, fauna, maupun kebudayaan,” tambahnya.
Keseharian Donny kini dipenuhi dengan persiapan yang matang sebelum terjun ke lapangan untuk sebuah penugasan besar (grand expedition). Proses di balik layar sebuah karya foto National Geographic melibatkan diskusi intensif dengan rekan penulis demi menekan ego fotografer, riset visual di internet untuk menemukan sudut pandang (angle) baru yang belum pernah dieksplorasi, hingga proses kurasi yang ketat.

Donny Fernando dalam salah satu penugasan dokumentasi lapangan untuk proyek visual dan feature National Geographic Indonesia. (Sumber: UMN)
“Setiap hari foto harus di-backup ke hardisk supaya menghindari file crash. Saya mengkurasi foto saya sendiri dan juga foto kontributor seluruh Indonesia sebelum dibawa ke editor. Kami dari Indonesia juga harus melaporkan feature kami ke Natgeo US di Washington melalui email,” kata Donny membagikan proses kerja di belakang layarnya.
Dari sekian banyak penugasan yang telah ia lalui, salah satu momen yang paling berkesan dan membanggakan bagi Donny adalah ketika fotonya berhasil terpilih menjadi sampul majalah National Geographic Indonesia edisi “Puspara Mahakam”. Foto tersebut lahir dari sebuah ketidaksengajaan dan kesigapan dalam hitungan sepersekian detik saat ia dan timnya sedang tersesat di perairan.
“Kapal saya sendirian dan sudah suntuk banget. Tiba-tiba di sebelah kanan saya belibis merah terbang ramai sekali. Teman saya teriak, ‘Donny! Arah jam 3 kamu!’ Saya langsung balik kanan, saya tidak melihat apa yang saya foto, hanya modal percaya. Seperti blind shot lah sebenarnya. Saya motret sebanyak-banyaknya dan pas sadar, ‘Ini adalah cover saya.’ Saya merasa kesigapan saya masih bisa diandalkan,” kenangnya dengan antusias.
Meski menghasilkan karya yang indah, tantangan yang dihadapi di lapangan tidaklah mudah. Penugasan di alam terpencil sering kali mempertemukannya dengan cuaca ekstrem yang tidak bersahabat, medan berbahaya yang hampir membuat kendaraannya masuk jurang, hingga ancaman hewan liar yang mematikan.
“Tantangan terberat tentu cuaca yang sudah sangat tidak menentu sekarang. Kedua, ancaman-ancaman spesies yang ada. Misalnya, saat saya di Taman Nasional Wasur di Merauke, ancaman terbesar kami adalah ular-ular beracun Black Papua. Itu menjadi sebuah spesies yang membuat saya agak kepikiran banyak ketika ingin bergerak,” ungkapnya mengenai sisi ekstrem dari pekerjaannya.
Berbicara soal tantangan, melihat perkembangan almamaternya saat ini, Donny menilai UMN terus tumbuh dalam mencetak profesional kreatif. Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan besar yang harus dihadapi institusi pendidikan seiring dengan bergesernya model bisnis industri media.
“Tinggal UMN positioning-nya di mana nih, apakah melihat media itu sebagai bisnis yang sunset atau bisnis yang bergeser? Saya rasa UMN mulai menjaring kolaborasi juga, tidak hanya dengan pelaku media konvensional, tapi mulai dengan industri-industri kreatif yang menampilkan cara baru bercerita dalam aspek jurnalistik,” ungkapnya.
Baca juga: 3 Program Studi UMN yang Mendukung Sustainability
Menutup perbincangan, bagi para mahasiswa kreatif yang kerap ragu akan prospek industri visual di masa depan, Donny menegaskan bahwa era saat ini justru menempatkan visual di posisi yang sangat krusial. Namun, ia berpesan bahwa kunci utama untuk memenangkan persaingan di tengah ribuan orang adalah dengan menemukan orisinalitas dan identitas visual diri sendiri.
“Saya akan mengutip kutipan Pandji Pragiwaksono, ‘Menjadi berbeda sedikit lebih baik daripada menjadi baik.’ Jadi, sekarang orisinalitas dan autentik itu penting. Your visual identity speak about your identity, itu yang menjadi kunci. Umur kalian masih muda, habiskan jatah salahnya, perbanyak trial, jangan patah semangat kalau salah. Tetap napak bumi dan juga selamanya belajar, karena kita berhenti hidup ketika kita berhenti belajar,” tutup Donny dengan memberikan motivasi kepada adik-adik tingkatnya di UMN.
By: Tangika Valencia
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id


