
Dosen UMN Dipercaya Isi Posisi Strategis di Kepengurusan Nasional ASPRODI DKV Indonesia 2026-2030
Juni 8, 2026Aksi Nyata Mahasiswa UMN Transformasi Pasar Papringan Jadi Destinasi Ramah Pengunjung

Mahasiswa Program Studi Strategic Communication Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jennyferlius Lis Fernanda, saat berada di Peta Zona 2 Pasar Papringan yang mencakup area kerajinan tangan hingga kuliner. (dok. Jennyferlius Lis Fernanda)

Mahasiswa Program Studi Strategic Communication Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jennyferlius Lis Fernanda, saat berada di Peta Zona 2 Pasar Papringan yang mencakup area kerajinan tangan hingga kuliner. (dok. Jennyferlius Lis Fernanda)
TANGERANG – Mahasiswa Program Studi Strategic Communication Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jennyferlius Lis Fernanda, mengembangkan sistem navigasi berbasis peta zonasi untuk membantu pengunjung menjelajahi Pasar Papringan, Temanggung, Jawa Tengah. Karya yang menjadi bagian dari tugas akhir dalam program “Social Impact Initiative (SII)” tersebut lahir dari pengalaman langsung Jenny saat menemukan banyak pengunjung kesulitan mencari lokasi kuliner dan fasilitas di kawasan pasar.
“Setiap dari kita pasti memiliki beragam ide ketika dihadapkan situasi tertentu. Begitu juga dengan saya, ketika pertama kali datang ke Dusun Ngadiprono dan tentunya Pasar Papringan, saya bahkan bingung harus bertindak apa. Tetapi situasi tersebut dan juga pengalaman ketika mengikuti secara langsung gelaran Pasar Papringan, saya jadi bisa mengerti apa keperluan warga setempat yang bisa saya wujudkan,” kata Jenny.
Pasar Papringan sendiri telah dikenal luas sebagai destinasi wisata berbasis komunitas yang mampu menarik ribuan pengunjung. Keunikan suasananya di bawah hutan bambu menjadikan pasar ini potensi ekonomi yang besar bagi pengembangan desa wisata. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat kendala teknis yang kerap ditemui di lapangan.
Jenny menuturkan bahwa banyak pengunjung seringkali bertanya mengenai lokasi fasilitas kepada peserta program. Bahkan, pengunjung kerap salah mengira mahasiswa sebagai panitia karena atribut rompi yang dikenakan. Di sisi lain, mahasiswa juga sering kesulitan membantu distribusi logistik pedagang karena belum memahami tata letak pasar yang kompleks.

Antrean pengunjung terlihat di Pasar Papringan, Temanggung, yang ramai dikunjungi pada saat gelaran berlangsung. (dok. Jennyferlius Lis Fernanda)
Pengalaman tersebut menjadi titik awal lahirnya proyek yang kemudian dikembangkan Jenny selama mengikuti program di Pasar Papringan. Ia merancang sistem navigasi yang praktis, namun tetap fleksibel. Ia menemukan bahwa posisi lapak pedagang di Pasar Papringan bersifat dinamis dan berubah pada setiap gelaran. Hal ini membuat penanda permanen sulit diterapkan.
Sebagai solusinya, Jenny mengembangkan konsep pin kayu yang dapat dipindahkan sesuai dengan perubahan posisi lapak setiap minggunya. Namun, proses perancangannya tidak berhenti pada pembuatan denah lokasi. Ia juga harus menyesuaikan desain dengan kondisi khas Pasar Papringan yang terus berubah.
“Dalam proses perancangan, ditemukan bahwa posisi lapak dapat berubah pada setiap gelaran sehingga peta tidak memungkinkan untuk menggunakan penanda yang bersifat permanen. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, diterapkan sistem pin kayu yang dirancang secara khusus agar dapat dipindahkan sesuai kebutuhan,” kata Jenny.
Peta yang dikembangkan Jenny dibagi ke dalam tiga zona utama dan ditempatkan di titik-titik strategis Pasar Papringan. Selain berfungsi sebagai media informasi, peta tersebut juga menjadi sarana komunikasi antara pengelola pasar dan pengunjung dalam menemukan berbagai lokasi yang tersedia.
Proses pengembangannya dilakukan melalui diskusi bersama Spedagi Movement selaku inisiator dan pendamping Pasar Papringan. Berbagai aspek dipertimbangkan, mulai dari pemilihan material hingga keberlanjutan penggunaan dalam jangka panjang. Antusiasme warga dan pengelola pasar terhadap kehadiran peta ini pun cukup tinggi karena dinilai membantu pengunjung, terutama mereka yang baru pertama kali datang.

Pengunjung terlihat mengamati peta zonasi di Pasar Papringan, Temanggung. Zona 2 pada peta tersebut mencakup area kerajinan hingga area kuliner, yang digunakan sebagai panduan untuk membantu navigasi di dalam area pasar. (dok. Jennyferlius Lis Fernanda)
Di balik implementasi proyek tersebut, terdapat filosofi pembelajaran yang menjadi dasar penyelenggaraan “Social Impact Initiative”. Sekretaris Program Studi Strategic Communication UMN sekaligus Dosen Strategic Communication UMN, Irwan Fakhruddin, S.Sn., M.I.Kom., menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas dan berhadapan langsung dengan realitas sosial di masyarakat.
Program “Social Impact Initiative (SII)” merupakan program pembelajaran imersif yang mengintegrasikan teori akademik dengan pengalaman kerja lapangan secara nyata. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung dan menghadirkan solusi yang memberikan dampak nyata bagi komunitas lokal. Program ini terbagi dalam beberapa skema proyek, termasuk Revitalisasi Desa, Humanity Project, dan Social Forestry, yang dirancang untuk mendorong mahasiswa terlibat langsung dengan berbagai isu sosial di masyarakat.
Program yang berlangsung sejak 6 April hingga 6 Juni 2026 tersebut mendorong mahasiswa untuk hidup dan berinteraksi langsung dengan masyarakat guna memahami berbagai persoalan yang dihadapi komunitas setempat, sekaligus merancang solusi yang relevan dan berdampak nyata.
Menurut Irwan, “Social Impact Initiative” berfokus pada transformasi karakter mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya kontribusi nyata bagi komunitas lokal. Program ini menjadi salah satu inisiatif khas Prodi Strategic Communication UMN yang menekankan keterhubungan antara teori dan praktik.
“Kami percaya bahwa pendidikan sebenarnya akan terlihat saat mahasiswa secara langsung dapat memberikan solusi atas realita dan permasalahan sosial, mengerti akan tanggung jawab sosial dan mengimplementasikan segenap kemampuan mereka untuk kebaikan yang berdampak,” kata Irwan yang juga merupakan inisiator program “Social Impact Initiative”.
Sebelum diterjunkan ke lokasi, mahasiswa mendapatkan pembekalan yang mencakup aspek akademik, teknis, hingga community engagement untuk membantu mereka memahami konteks sosial di lapangan. Pendekatan ini dinilai penting mengingat sebagian besar peserta berasal dari lingkungan urban dengan pengalaman yang berbeda dari masyarakat desa.
Melalui interaksi langsung, mahasiswa diajak memahami kebutuhan komunitas sebelum merancang solusi yang relevan dan berkelanjutan.
“Kami mengacu ke tiga pilar: 1) Humanitarian Value – Empathy & Care, Social Justice & Equality, dan Solidarity & Sustainability; 2) Humanistic Approach – Human-centered Learning, Character Building, Global Responsibility; 3) Academic & Community Services – Theory into Practice, Holistic Mentoring, Continuous Reflection,” jelas Irwan.
Peta navigasi tersebut kemudian diperkenalkan kepada pengunjung melalui kegiatan bertajuk “Susur Jejak Papringan”, yang mengajak peserta menjelajahi berbagai titik di pasar dengan panduan peta sekaligus mengenal lebih dekat elemen-elemen yang membentuk pengalaman khas Pasar Papringan.
Bagi Jenny, salah satu momen paling berkesan terjadi ketika ia melihat pengunjung mulai berinteraksi langsung dengan peta yang telah dirancangnya. Respons tersebut menjadi tanda awal bahwa solusi yang ia kembangkan benar-benar digunakan oleh masyarakat.
Selain digunakan untuk mencari lokasi kuliner, peta tersebut juga menarik perhatian pengunjung yang berhenti untuk memperhatikan detailnya, bahkan menjadikannya latar untuk berfoto. Pengalaman ini memperkuat keyakinan Jenny bahwa ide sederhana dapat berkembang menjadi solusi yang berdampak ketika diwujudkan secara nyata.
“Saya berharap teman-teman mahasiswa UMN bisa berani sih untuk menuangkan idenya dan mewujudkannya jadi sebuah karya nyata,” ujar Jenny.
Sejalan dengan itu, Irwan menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa menggabungkan kompetensi dengan kepedulian sosial. Melalui “Social Impact Initiative”, mahasiswa didorong untuk belajar bersama masyarakat dan menjadikan kebutuhan komunitas sebagai dasar penciptaan solusi.
“Prinsip utama yang harus dipegang adalah ‘Learning by Doing’ – on-site learning, real situation exposure, dan simulasi nyata, Berbasis Komunitas – memastikan partisipasi masyarakat sebagai basis penciptaan solusi (bottom-up approach), no ‘I’ but ‘WE’. Selalu rendah hati, pegang selalu falsafah ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’, jadikan dirimu gelas setengah kosong di mana pun, kapan pun,” ungkap Irwan.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



