
Dari Ruang Kelas ke Industri Global, Informatika UMN Resmikan Kolaborasi Bersama SaverGlobal, Australia
September 21, 2026Sulap Kanal Banjir Timur Jakarta, Karya Mahasiswa Arsitektur UMN Raih Juara 2 IAI

Tim mahasiswa Arsitektur UMN, terdiri dari Reno Alvero Soe, Gema Ibrahim Ahmada, Donny Aditya Natanael, Pramudya Abimanyu, dan Affan Ahsan (kiri-kanan) meraih Juara 2 dalam Sayembara TITIK 2026 yang digelar Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). (dok. Pramudya Abimanyu)

Tim mahasiswa Arsitektur UMN, terdiri dari Reno Alvero Soe, Gema Ibrahim Ahmada, Donny Aditya Natanael, Pramudya Abimanyu, dan Affan Ahsan (kiri-kanan) meraih Juara 2 dalam Sayembara TITIK 2026 yang digelar Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). (dok. Pramudya Abimanyu)
TANGERANG – Lima mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Multimedia Nusantara (UMN) meraih Juara 2 dalam Sayembara TITIK 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta pada Sabtu (05/09/2026). Mengangkat tema “Penataan Lingkungan Binaan Bantaran Kanal Banjir Timur Jakarta”, sayembara tingkat nasional ini mengajak peserta mengembangkan gagasan desain kawasan dengan mempertimbangkan fungsi lanskap serta kebutuhan fasilitas publik.
Tim mahasiswa UMN yang terdiri dari Pramudya Abimanyu, Gema Ahmada, Donny Aditya Natanael, Reno Alvero Soe, dan Affan Ahsan, seluruhnya berasal dari Program Studi Arsitektur angkatan 2022. Dalam kompetisi yang diikuti sekitar 200 tim dari kategori mahasiswa tersebut, mereka mengusung karya berjudul “Co-Exist”, sebuah konsep yang berupaya mempertemukan fungsi infrastruktur Banjir Kanal Timur (BKT), aktivitas masyarakat, dan keberadaan lingkungan eksisting dalam satu rancangan.
Menurut Abimanyu, gagasan tersebut berangkat dari pengamatan terhadap aktivitas masyarakat yang telah berlangsung di kawasan BKT. Selain menjalankan fungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir, kawasan tersebut juga dimanfaatkan warga untuk berolahraga maupun berjualan. Tim kemudian melihat kebutuhan untuk menata berbagai aktivitas tersebut agar dapat berlangsung berdampingan dengan fungsi utama BKT.
“Konsep karya kita di sayembara kemarin namanya ‘Co-Exist’, intinya ‘Co-Exist’ ini ingin menata ulang Kanal Banjir Timur (BKT) agar fungsi aslinya sebagai infrastruktur pengendali banjir bisa berdampingan secara harmonis dengan aktivitas organik warga yang sering olahraga maupun berjualan di sana,” jelas Abimanyu.

Panel desain “Co-Exist” karya tim mahasiswa Arsitektur UMN dalam Sayembara TITIK 2026. (dok. Pramudya Abimanyu)
Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam desain, tim mengembangkan tiga prinsip utama, yaitu Preserve, Connect, dan Share. Ketiga prinsip tersebut menjadi kerangka dalam menentukan elemen kawasan yang perlu dipertahankan, ruang yang perlu dihubungkan, serta fasilitas yang dapat digunakan bersama oleh masyarakat.
Abimanyu menjelaskan, pendekatan yang digunakan tim juga berangkat dari pemahaman bahwa sebuah lanskap dapat menjalankan lebih dari satu fungsi. Dalam perancangannya, tim mengacu pada pemikiran Kato dan Ahern (2009) mengenai fungsi lanskap yang mencakup aspek ekologis, sosial, ekonomi, dan rekreatif. Pemikiran tersebut kemudian diterapkan untuk memastikan berbagai fungsi dapat hadir secara berdampingan tanpa mengganggu fungsi utama BKT.
“Pendekatan yang kita tawarkan disini konsep ‘Eco-Exist’, yaitu bagaimana BKT tidak hanya dilihat sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga bisa menjadi ruang publik bagi masyarakat. Kami mengacu pada pemikiran Kato dan Ahern (2009), bahwa sebuah lanskap sebenarnya bisa memiliki beberapa fungsi sekaligus, baik ekologis, sosial, ekonomi, maupun rekreatif. Dari situ, kami menerapkan tiga prinsip, yaitu Preserve, Connect, dan Share, supaya fungsi-fungsi tersebut bisa saling berdampingan tanpa mengganggu fungsi utama BKT sebagai infrastruktur pengendali banjir,” ungkap Abimanyu
Ketiga prinsip tersebut selanjutnya diwujudkan dalam sejumlah elemen desain. Pada aspek aktivitas ekonomi dan mobilitas, tim merancang paviliun modular yang berfungsi untuk menata area UMKM sekaligus menyediakan tempat tunggu transportasi. Rancangan ini menjadi salah satu cara tim mengakomodasi aktivitas yang telah berkembang di kawasan BKT ke dalam ruang yang lebih terorganisasi.

Tim mahasiswa Arsitektur UMN saat mempresentasikan karya “Co-Exist” dalam penjurian finalis Sayembara TITIK 2026 di M Bloc Space, pada Minggu (30/08/2026). (dok. Pramudya Abimanyu)
Tim juga memasukkan fasilitas publik yang mendukung kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah toilet portabel ramah lingkungan yang menggunakan limbah plastik. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan sarana publik sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pemilihan material.
Aspek lingkungan juga menjadi pertimbangan dalam merancang area bermain anak. Tim mahasiswa Arsitektur UMN merancang struktur taman bermain secara memanggung dan menyesuaikannya dengan posisi pohon eksisting. Dengan pendekatan tersebut, desain tidak mengharuskan pohon yang telah ada untuk ditebang dan dapat mengurangi kebutuhan pengerasan pada kawasan.
Sejak awal proses perancangan, aspek keberlanjutan memang menjadi bagian dari arah desain yang dikembangkan tim. Abimanyu menjelaskan bahwa penggunaan material organik dan material daur ulang menjadi bagian dari strategi mereka. Selain itu, tim berupaya mempertahankan area hijau dan kondisi pohon yang telah ada di kawasan.
“Dari awal kita merancang desain ini mengarah ke sustainability, dengan menggunakan material-material organik, material daur ulang, dan kita juga meminimalisir pengerasan sehingga masih banyak area hijaunya, desain kita juga berusaha untuk tidak menebang atau mengurangi eksisting pohonnya sehingga desain kita memang bergerak dengan menghargai potensi alam eksisting,” jelas Abimanyu.
Upaya mempertahankan kondisi eksisting tersebut sejalan dengan prinsip Preserve yang menjadi salah satu fondasi konsep “Co-Exist”. Bagi tim, potensi lingkungan yang sudah tersedia tidak harus dihilangkan untuk menghadirkan ruang baru. Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan bentuk dan posisi rancangan.
Sementara itu, prinsip Connect diarahkan untuk menghubungkan ruang dan aktivitas yang sebelumnya terfragmentasi. Prinsip tersebut memungkinkan berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan dapat memiliki hubungan ruang yang lebih baik. Adapun Share digunakan untuk menghadirkan ruang bersama yang dapat mengakomodasi beragam fungsi dan kebutuhan masyarakat.
Melalui ketiga prinsip tersebut, tim mengarahkan rancangan “Co-Exist” untuk membentuk lingkungan yang berkelanjutan, inklusif, dan adaptif. Hubungan antara manusia, ruang publik, dan alam menjadi bagian dari pendekatan desain yang mereka tawarkan dalam menjawab persoalan penataan bantaran BKT.
Di balik pengembangan konsep tersebut, kelima mahasiswa mengerjakan proses perancangan secara kolaboratif. Abimanyu mengatakan, proses dimulai melalui brainstorming dan analisis sebelum dilanjutkan dengan pembuatan diagram serta pengembangan rancangan. Pada tahap tiga dimensi, setiap anggota mengerjakan bagian berdasarkan fungsi yang berbeda.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses mengikuti sayembara. Kelima anggota tim tidak hanya perlu mengembangkan gagasan desain, tetapi juga menyatukan hasil analisis dan berbagai ide ke dalam satu konsep yang memiliki arah perancangan yang sama.
Kompetisi tersebut juga menjadi salah satu pengalaman terakhir mereka sebagai mahasiswa Arsitektur UMN. Karya “Co-Exist” kemudian berhasil meraih Juara 2 dan masuk dalam 10 karya terbaik untuk kategori voting karya favorit. Bagi Abimanyu, capaian tersebut menjadi pengalaman yang berkesan karena diraih bersama teman-teman seperjuangan menjelang akhir masa perkuliahan.
“Perasaannya yang pasti senang, apalagi ini mungkin sayembara terakhir sebagai mahasiswa karena emang udah di semester akhir,” ungkap Abimanyu.
Selain hasil kompetisi, proses yang dilalui selama sayembara memberikan pengalaman tersendiri bagi tim. Kesempatan untuk mengembangkan rancangan secara bersama-sama sekaligus menguji gagasan arsitektur terhadap persoalan nyata menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam menyelesaikan masa studi.
Abimanyu menilai pengalaman paling berharga dari kompetisi tersebut tidak hanya terletak pada penghargaan yang diperoleh, tetapi juga pada kesempatan untuk meraih capaian tersebut bersama rekan-rekan yang telah melalui proses pengerjaan dari awal hingga akhir.
“Sebenarnya banyak pengalaman yang bisa didapat dari sayembara ini, tapi mungkin yang paling berharga, bisa dapetin penghargaan di akhir masa kuliah bareng temen-temen seperjuangan,” tutup Abimanyu.
Melalui “Co-Exist”, Pramudya Abimanyu dan tim menawarkan gagasan penataan BKT yang berupaya mempertemukan kebutuhan infrastruktur, aktivitas masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui pemanfaatan potensi eksisting, pengaturan ruang dan aktivitas, serta penyediaan fasilitas publik yang mempertimbangkan kondisi kawasan.
Capaian Juara 2 dalam Sayembara TITIK 2026 sekaligus menjadi salah satu penanda perjalanan kelima mahasiswa Arsitektur UMN di penghujung masa perkuliahan. Melalui proses perancangan yang kolaboratif, mereka tidak hanya mengembangkan sebuah karya kompetisi, tetapi juga menerapkan gagasan arsitektur yang menempatkan keberlanjutan, ruang publik, dan kondisi lingkungan eksisting sebagai bagian dari proses perancangan.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id



