
Memperkuat Kolaborasi, FSD UMN dan KUMA Kembangkan Peluang Kerjasama Akademik
November 6, 2026
Gathering PJJIK UMN 2026: Merajut Kehangatan dan Kebersamaan Tanpa Batas Jarak
November 6, 2026
Rossalyn Asmarantika memaparkan hasil riset dalam webinar yang diselenggarakan secara daring (Dok. UMN)
TANGERANG, 5 November 2026 – Program Studi Jurnalistik dan Kreator Konten, Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN), menggelar webinar dan diseminasi riset publik bertajuk “Peluang Kartun Editorial di Media Digital dalam Menjaga Demokrasi” secara daring pada Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini membahas peluang pengembangan kartun editorial sebagai medium kritik sosial dan ekspresi publik di tengah transformasi media digital.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Reviving Editorial Cartoons for Digital Democracy yang didukung oleh TIFA Foundation dan CIVICUS Alliance. Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Rossalyn Asmarantika, Dosen Jurnalistik UMN; Tommy (Thomdean), kontributor Harian Kompas, The Jakarta Post, The Strategy, dan Kontan.co.id; Citra Dyah Prastuti, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI); serta Eva Danayanti, Country Programme Manager IMS Indonesia sekaligus Dosen UMN. Diskusi dipandu oleh Dr. Niknik M. Kuntarto, Ahli Linguistik Forensik dan Dosen UMN.
Koordinator Program, Aditya Heru Wardana, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mendorong kembali penggunaan kartun editorial sebagai salah satu bentuk penyampaian pendapat masyarakat. Menurutnya, kartun memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan kritis melalui humor dan satir.
Melalui program tersebut, tim juga menyelenggarakan empat sesi pelatihan bagi pers mahasiswa. Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk menghasilkan dan memublikasikan karya kartun editorial. Selain itu, dilakukan riset untuk melihat tantangan dan peluang pengembangan kartun editorial di tengah perubahan media.
Perwakilan TIFA Foundation turut menekankan pentingnya ruang berekspresi dalam demokrasi. Kartun editorial, menurutnya, bukan hanya produk hiburan, melainkan bagian dari praktik jurnalistik yang dapat mendukung kebebasan berekspresi dan partisipasi publik. Perkembangan media digital juga dinilai dapat membuka kesempatan untuk menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda.
Riset Mengungkap Tantangan Kartunis Editorial
Dalam pemaparan riset, Rossalyn Asmarantika menjelaskan bahwa penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap delapan kartunis editorial dari lima kota, yaitu Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Medan. Beberapa informan bahkan telah menekuni profesi tersebut selama puluhan tahun.
Penelitian tersebut menggali perjalanan karier kartunis, posisi mereka di ruang redaksi, dampak efisiensi media, peralihan ke platform digital, peluang monetisasi, hingga tekanan dan ancaman terhadap kebebasan berkarya.
Salah satu temuan yang disoroti adalah semakin terbatasnya ruang bagi kartun editorial di media massa. Sejumlah media tidak lagi menyediakan halaman khusus kartun, sementara kartunis editorial turut terdampak kebijakan efisiensi perusahaan. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap regenerasi kartunis di Indonesia.
Selain itu, perubahan sistem penghargaan jurnalistik turut menjadi perhatian. Kategori kartun editorial dalam Anugerah Adinegoro disebut tidak lagi tersedia sejak 2023. Hal tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai semakin terbatasnya ruang apresiasi bagi karya kartun editorial.
Meski menghadapi berbagai tantangan, penelitian ini melihat bahwa kartun editorial masih memiliki potensi untuk berkembang melalui media digital. Format visual yang dekat dengan audiens dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan kritik sosial, meningkatkan literasi politik, dan menjangkau generasi muda.
Kartun Editorial sebagai Bagian dari Praktik Jurnalistik
Tommy (Thomdean) membahas proses kreatif dan tanggung jawab seorang kartunis editorial dalam menyampaikan kritik. Menurutnya, pekerjaan tersebut tidak hanya membutuhkan kemampuan menggambar, tetapi juga kepekaan terhadap isu dan pemahaman terhadap informasi yang akan disampaikan.
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan kartun editorial melibatkan pengumpulan informasi, penyusunan gagasan, hingga pembuatan sketsa yang kemudian diserahkan kepada editor. Revisi juga menjadi bagian dari proses tersebut.
“Memang tugas kita adalah sebagai anjing penjaga, kita menyerukan sesuatu yang tidak benar. Perkara nanti ada perubahan yang positif, itu adalah bonus,” ungkap Tommy.

Tommy (Thomdean) sedang menyampaikan pandangannya mengenai peran kartunis editorial dalam menyampaikan kritik melalui karya visual.(Dok. UMN)
Ia juga menekankan bahwa kekuatan sebuah kartun tidak semata-mata terletak pada kualitas gambarnya, tetapi pada pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.
“Yang utama adalah bukan gambarnya, tetapi pesannya itu sampai enggak? Pesannya itu sesuai enggak dengan yang kita mau?” ujarnya.
Menurutnya, kartun editorial dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, termasuk dalam membahas isu-isu seperti literasi keuangan dan investasi.
Sementara itu, Citra Dyah Prastuti menyoroti strategi media dalam mempertahankan keberadaan kartun editorial di tengah perubahan perilaku audiens. Ia menilai kartun editorial masih relevan karena dapat menjadi bagian dari identitas dan karakter sebuah media.
Ia juga mengajak media untuk tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan halaman atau page views. Loyalitas pembaca dan kemampuan media membangun hubungan dengan audiens perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan produk jurnalistik.
Citra turut menyinggung potensi kartun sebagai medium kampanye, edukasi, dan aktivisme. Menurutnya, pengembangan karakter visual yang kuat dapat membantu media membangun kedekatan dengan pembaca sekaligus menjaga keberlanjutan karya kartun editorial.

Citra Dyah Prastuti membahas strategi media dalam mengembangkan kartun editorial sebagai bagian dari identitas media (Dok. UMN)
Memperkuat Identitas Visual dan Kedekatan dengan Audiens
Eva Danayanti membahas perubahan perilaku audiens yang semakin banyak mengakses informasi melalui media sosial. Kondisi ini mendorong media untuk mengembangkan konten visual yang lebih interaktif dan sesuai dengan kebiasaan audiens, terutama generasi muda.
Ia mencontohkan sejumlah media yang memanfaatkan karakter dan unsur budaya lokal dalam karya visualnya, seperti Babat ID di Jawa Tengah dan Teknokra dari Universitas Lampung. Pendekatan tersebut dapat membuat kritik yang disampaikan terasa lebih dekat dengan pengalaman masyarakat.
“Dengan mengembangkan karakter yang identitas visualnya memang unik, punya kepribadian, kemudian punya gaya kritik, juga dekat dengan budaya dan pengalaman audiens,” jelas Eva.

Eva Danayanti menjelaskan pentingnya pengembangan karakter visual yang dekat dengan budaya dan pengalaman audiens (Dok. UMN)
Menurutnya, karakter visual yang konsisten dapat menjadi identitas bagi media sekaligus membangun komunitas pembaca yang loyal. Dengan demikian, pengembangan kartun editorial tidak hanya berfokus pada jumlah tayangan, tetapi juga pada hubungan jangka panjang dengan audiens.
Diskusi ini menunjukkan bahwa keberadaan kartun editorial masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah transformasi digital. Meski menghadapi tantangan berupa efisiensi industri media, perubahan pola konsumsi informasi, dan keterbatasan ruang berekspresi, kartun editorial tetap berpotensi menjadi bagian penting dari jurnalisme.
Melalui riset, pelatihan, dan kolaborasi antara akademisi serta praktisi media, program Reviving Editorial Cartoons for Digital Democracy diharapkan dapat mendorong regenerasi kartunis editorial dan memperkuat peran karya visual sebagai medium kritik, edukasi, serta penjaga demokrasi.
By Manuela Salomonsz | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




