
Perluas Jejaring Global, UMN Bahas Peluang Kolaborasi dengan Italian Embassy to Indonesia dan Uni-Italia
Mei 12, 2026
Tim mahasiswa UMN bersama dosen pembimbing, Ar. Irma Desiyana, S.Ars., M.Arch. foto bersama usai menorehkan juara pertama di ajang Hackathon #1 ARCH:ID 2026.
TANGERANG – Mahasiswa Program Studi Arsitektur dan Teknik Fisika Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim yang terdiri dari Justin Christian Hamzah, Gilig Setyo Rahardjo, Farhan Sidqi Purnawan, dan Nicholas Pranata berhasil meraih juara ke-1 pada Hackathon #1 ARCH:ID 2026 bertajuk “Climate-Responsive Transit-Oriented Housing” yang berlangsung di ICE BSD City pada 24 April 2026.
Dalam kompetisi satu hari tersebut, para peserta ditantang untuk merancang hunian vertikal berbasis Transit-Oriented Development (TOD) di kawasan MRT Blok A, Jakarta Selatan, dengan menggunakan Autodesk Forma sebagai alat utama eksplorasi desain dan simulasi lingkungan. Tidak hanya dituntut menghasilkan desain yang estetis, peserta juga harus mampu menjawab isu urban, integrasi transportasi publik, hingga tantangan iklim melalui pendekatan berbasis data.
Bagi tim UMN, kemenangan ini bukan sekadar soal menghasilkan rancangan yang menarik secara visual. Sejak awal, mereka berupaya menghadirkan desain yang mampu menjawab persoalan konektivitas kawasan, kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat, dan kondisi mikroiklim tapak yang semakin relevan di tengah isu perubahan iklim.
“Kami mencoba untuk menghadirkan desain dengan konsep yang berfokus pada pemecahan masalah urban berupa konektivitas wilayah, fungsi yang kontekstual terhadap kebutuhan kawasan, dan massa bangunan yang kontekstual terhadap microclimate tapak. Tiga fokus utama ini kami coba padukan sehingga keseluruhan hasil desain bukan hanya bagus (enak dilihat) tetapi benar, sesuai, dan tepat,” ujar Justin Christian Hamzah, mahasiswa Arsitektur UMN angkatan 2022.

Rancangan Climate-Responsive Transit-Oriented Housing karya tim mahasiswa UMN memadukan fungsi hunian, ruang publik, dan integrasi transportasi publik dalam satu kawasan yang responsif terhadap kondisi iklim Jakarta.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi rancangan hunian vertikal yang tidak berdiri sebagai bangunan eksklusif semata, melainkan menjadi bagian dari ekosistem mobilitas publik di kawasan MRT Blok A. Tim melihat perkembangan transportasi publik di Jakarta sebagai peluang untuk menciptakan ruang hidup yang lebih terintegrasi dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Melalui rancangan tersebut, penghuni maupun pengguna MRT diproyeksikan dapat berpindah langsung dari area transportasi menuju bangunan tanpa harus keluar dari area stasiun. Pendekatan ini dinilai mampu mendorong penggunaan transportasi publik sekaligus menciptakan koneksi sosial dan ekonomi baru di kawasan sekitar.
“Bangunan kami harus ‘benar’ dulu dalam menjawab permasalahan kawasan serta merespons iklim Jakarta, sebelum benar-benar dapat ‘ditampakkan,’” kata Gilig Setyo Rahardjo, mahasiswa Arsitektur UMN angkatan 2021.
Tidak berhenti pada integrasi kawasan, tim juga menaruh perhatian besar terhadap isu kenyamanan termal dan respons bangunan terhadap iklim tropis Jakarta. Dalam proses pengembangan desain, mereka memanfaatkan Autodesk Forma untuk melakukan simulasi terhadap berbagai parameter lingkungan, mulai dari paparan matahari, kelembapan udara, kecepatan angin, hingga tingkat kenyamanan termal.
Pendekatan berbasis simulasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama karya mereka. Proses desain tidak berjalan secara linear, tetapi melalui berbagai iterasi dan pengujian untuk menemukan konfigurasi bangunan yang paling optimal.
“Climate change bukan lagi hanya sekedar ‘konsep’ yang akan terjadi, tetapi merupakan hal yang sudah kita semua hidupi, sehingga sebagai seorang perancang, merupakan sebuah tanggung jawab dan keharusan untuk merespons hal ini untuk memastikan perencanaan nantinya bukan hanya fungsional, tapi layak untuk dihuni dan digunakan untuk manusia,” ujar Justin.
Dalam proses tersebut, peran Nicholas Pranata dari Program Studi Teknik Fisika UMN menjadi bagian penting dalam memastikan desain benar-benar responsif terhadap lingkungan. Nicholas membantu tim menerjemahkan data-data fisika bangunan ke dalam pertimbangan desain yang dapat diaplikasikan secara langsung oleh tim arsitektur.
Melalui simulasi berbasis parameter seperti Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT), Universal Thermal Climate Index (UTCI), kecepatan angin, dan kelembapan udara, tim dapat mengidentifikasi area-area yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi penghuni. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan fungsi ruang hingga strategi ventilasi alami pada bangunan.
“Kolaborasi teknik fisika dan arsitektur akan terus dibutuhkan untuk mencapai dua tujuan SDG ini,” ujar Nicholas Pranata, mahasiswa Teknik Fisika UMN angkatan 2021, merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 9 tentang Industry, Innovation, and Infrastructure serta nomor 11 tentang Sustainable Cities and Communities.

Tim mahasiswa UMN mempresentasikan konsep Climate-Responsive Transit-Oriented Housing pada ajang Hackathon ARCH:ID 2026 di ICE BSD City, Jumat (24/04/2026).
Kolaborasi lintas disiplin ini juga menjadi perhatian penting di lingkungan Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) UMN. Dekan FTI UMN, Dr. Eng. Niki Prastomo, S.T., M.Sc., menilai kemenangan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di UMN semakin relevan dengan kebutuhan industri dan tantangan masa depan.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman teoritis, tetapi juga kemampuan untuk bekerja dalam tim lintas bidang, menerapkan ilmu dalam konteks nyata, dan menghasilkan solusi yang aplikatif dan berdampak.
“Arsitektur kuat dalam desain ruang, konteks pengguna, dan kualitas lingkungan binaan, sementara Teknik Fisika memperkuat aspek performa bangunan, kenyamanan termal, efisiensi energi, dan analisis teknis. Ketika keduanya berkolaborasi, solusi yang dihasilkan dapat menjadi lebih utuh, kreatif, terukur, dan berdampak,” ujar Niki.
Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi Arsitektur UMN, Hedista Rani Pranata, S.Ars., M.Ars. Ia mengungkapkan bahwa kolaborasi antara Arsitektur dan Teknik Fisika UMN sebenarnya telah terjalin melalui berbagai kegiatan akademik, mulai dari exchange lecture hingga riset dosen bersama.
Ke depan, UMN bahkan tengah mengembangkan kemungkinan tugas akhir kolaboratif antarprogram studi untuk memperkuat pendekatan multidisiplin dalam menjawab tantangan industri dan isu keberlanjutan.
“Sebenarnya selama ini kami cukup erat dengan exchange lecture dan research dosen bersama. Bahkan, kami sedang menggodok sistem Tugas Akhir kolaborasi antar-Prodi [Arsitektur UMN dan Teknik Fisika UMN], karena memang kedua Prodi ini punya concern yg mirip,” ujar Hedista.
Bagi Justin dan tim, kemenangan ini menjadi penutup manis dalam perjalanan mereka mengikuti ARCH:ID sebagai mahasiswa aktif. Setelah sebelumnya meraih Juara 2 pada kompetisi serupa tahun lalu, tahun ini mereka berhasil membawa pulang posisi tertinggi.
“Kesan nya pasti sangat bersyukur dan senang, terutama karena tahun ini adalah tahun terakhir kami bisa ikut serta di Hackathon ARCH:ID sebagai mahasiswa aktif, dan di tahun ini kami bisa dapat juara 1,” ujar Justin.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



