
UMN Tingkatkan Ekosistem Kewirausahaan Mahasiswa Bersama Wadhwani Foundation
Mei 8, 2026
PPAr Clinic UMN Kupas Dinamika Profesi Arsitektur Bersama Praktisi Nasional
Mei 11, 2026Kolaborasi Mahasiswa UMN dan Pradita University Tembus Juara Nasional Lewat Desain Pavilion Pascabencana

Tim gabungan mahasiswa Arsitektur Universitas Multimedia Nusantara dan Teknik Sipil Pradita University menunjukkan sertifikat penghargaan usai meraih Juara 3 pada kompetisi Hackathon #3 ARCH:ID 2026 di ICE BSD City pada 26 April 2026.

Tim gabungan mahasiswa Arsitektur Universitas Multimedia Nusantara dan Teknik Sipil Pradita University menunjukkan sertifikat penghargaan usai meraih Juara 3 pada kompetisi Hackathon #3 ARCH:ID 2026 di ICE BSD City pada 26 April 2026.
TANGERANG – Dalam waktu hanya enam jam, sekelompok mahasiswa dari lintas disiplin ilmu harus merancang sebuah ruang yang bukan sekadar berdiri setelah bencana, tetapi juga mampu memulihkan kehidupan masyarakat di dalamnya. Di tengah tekanan waktu kompetisi Hackathon ARCH:ID 2026, tim gabungan mahasiswa Arsitektur Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Teknik Sipil Pradita University mencoba menerjemahkan situasi pascabencana menjadi desain yang cepat dibangun, kontekstual, dan tetap manusiawi.
Tim yang terdiri dari Nicholas Dustin Dipraja (Arsitektur UMN 2024), Dzulfiqar Andrewiatmojo (Arsitektur UMN 2024), Giovanni Naomi (Arsitektur UMN 2024), serta Lim Gabriel Milano (Teknik Sipil Pradita University 2024) tersebut berhasil meraih Juara 3 dalam kompetisi Hackathon #3 ARCH:ID 2026 yang berlangsung di Hall 8 ICE BSD City pada 26 April 2026. Dalam kompetisi tersebut, peserta ditantang merancang “Post-disaster Community Pavilion” menggunakan SketchUp dalam waktu terbatas dengan mempertimbangkan kekuatan desain, pemilihan material, kemudahan pembangunan, dan kenyamanan bagi masyarakat yang akan menggunakannya.
“Konsep utamanya adalah PTDH (Pulih, Tangguh, dan Humanis). Kami berharap pavilion yang didesain bisa menjadi ruang baru bagi warga di lokasi yang terdampak dari bencana banjir,” ujar Nicholas Dustin Dipraja selaku perwakilan tim.
Alih-alih hanya menghadirkan tempat pengungsian sementara, tim mencoba merancang paviliun yang tetap relevan, bahkan setelah masa darurat selesai. Mereka melihat bahwa masyarakat pascabencana tidak hanya membutuhkan perlindungan fisik, tetapi juga ruang sosial yang mampu membantu proses pemulihan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, konsep “Pulih, Tangguh, dan Humanis” diterjemahkan menjadi paviliun modular yang dapat dibangun dengan cepat dan fleksibel sesuai kebutuhan masyarakat. Setiap modul dirancang berukuran 6×12 meter dan dapat disesuaikan kembali menjadi ukuran yang lebih kecil agar lebih realistis dari sisi biaya maupun waktu pembangunan.
“Pavilion ini dirancang sebagai ruang ‘Pulih’ untuk pemulihan sosial, ‘Tangguh’ dalam menghadapi kondisi pasca bencana, dan ‘Humanis’ dengan menempatkan kebutuhan komunitas sebagai pusat desain. Kami memulai perancangan desain yang berangkat dari manusia sehingga konsep ini mendekati kemampuan manusia yang ada di lokasi agar bisa terbangun dan menjadi pavilion yang memulihkan kondisi,” jelas Dustin.

Tim mahasiswa Arsitektur UMN dan Teknik Sipil Pradita University saat mengikuti proses perancangan Post-disaster Community Pavilion dalam kompetisi Hackathon #3 ARCH:ID 2026 di ICE BSD City.
Desain paviliun tersebut juga tidak berhenti pada fungsi kedaruratan. Tim memikirkan bagaimana bangunan tetap hidup dan dimanfaatkan masyarakat dalam kondisi normal. Open space pada pavilion memungkinkan area tersebut digunakan sebagai tempat aktivitas warga, mulai dari kios jualan untuk pemulihan ekonomi hingga tribun menonton pertandingan sepak bola karena lokasinya berada di dekat lapangan warga.
Pendekatan tersebut lahir dari proses pembelajaran yang selama ini mereka dapatkan di bangku kuliah. Dustin menjelaskan bahwa mahasiswa Arsitektur UMN dibiasakan untuk mendesain berdasarkan konteks dan kebutuhan nyata pengguna, bukan semata mengejar bentuk visual bangunan.
Selain mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, tim juga memikirkan aspek keberlanjutan dari bangunan yang dirancang. Paviliun dibuat sebagai bangunan permanen agar tidak menghasilkan limbah berlebih setelah masa darurat selesai dan tetap dapat digunakan warga dalam jangka panjang.
Pemahaman tersebut, menurut Dustin, banyak dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran di Arsitektur UMN yang menekankan desain kontekstual dan sustainability dalam setiap proses perancangan.
“Di setiap perancangan kami selalu diajarkan untuk mendesain sesuai konteks, apa yang perlu itulah yang dirancang. Bahkan, setiap desain juga harus memikirkan sustainability-nya, makanya desain pavilion kami memang dirancang untuk bangunan permanen agar tidak menghasilkan waste dan bisa digunakan terus menerus oleh warga di sekitar,” ungkap Dustin.
Kompetisi Hackathon ARCH:ID 2026 sendiri mengangkat tema “Skema Sintesa – Architecture of Engagement”, yang menempatkan praktik arsitektur sebagai bentuk kolaborasi lintas disiplin dan lintas skala. Dalam waktu enam jam, seluruh peserta dituntut menghasilkan solusi desain yang inovatif, relevan secara sistemik, serta layak difabrikasi. Di tengah tekanan waktu tersebut, tim mahasiswa UMN harus bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi lain.
“Puji Tuhan dapat juara 3. Sesuatu yang luar biasa sih untuk mahasiswa semester 4 bisa bersaing di kompetisi desain yang membutuhkan waktu cepat. Kami juga bisa mengimbangi dan menyaingi kompetensi mahasiswa PTN dari mahasiswa semester 6 dan 8. Untuk saya pribadi juga dalam bulan yang sama menempati juara 3 pada lomba sayembara di Semarang merupakan sesuatu yang luar biasa dan tidak pernah diduga sebelumnya bahwa seorang mahasiswa yang baru saja menyentuh digital desain bisa bersaing dengan kakak tingkat yang lebih berpengalaman,” kata Dustin.
Keberhasilan tersebut turut mendapat apresiasi dari Kaprodi Arsitektur UMN Hedista Rani Pranata, S.Ars., M.Ars.. Menurutnya, kurikulum Arsitektur UMN memang dirancang agar mahasiswa mampu menghadapi tantangan industri nyata melalui pendekatan sustainability dan pemanfaatan teknologi BIM.
Mahasiswa tidak hanya belajar desain dari sisi estetika, tetapi juga memahami aspek lingkungan, sosial, hingga proses kerja digital yang terintegrasi. Pembelajaran juga diarahkan pada problem-solving dan studi kasus nyata agar mahasiswa terbiasa menghadapi kompleksitas dunia profesional sejak dini.
Ia menilai capaian mahasiswa dalam kompetisi nasional tersebut menjadi bukti konsistensi kualitas dan semangat kompetitif mahasiswa Arsitektur UMN. Namun, prestasi tersebut juga menjadi pengingat untuk terus berkembang dan berani menghadapi tantangan yang lebih besar.
“Namun, pencapaian ini tidak membuat kami berpuas diri. Justru sebaliknya, hal ini menjadi motivasi tambahan bagi kami untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan dan mendorong mahasiswa untuk berani mencoba tantangan yang lebih besar. Kami berharap prestasi ini juga bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi adik-adik tingkat agar semakin percaya diri untuk ikut berkompetisi,” kata Hedista.
Bagi Dustin, pengalaman mengikuti Hackathon tersebut semakin memperkuat pandangannya mengenai peran arsitek di tengah masyarakat. Ia menilai desain yang baik bukan hanya tentang tampilan visual, melainkan bagaimana sebuah bangunan benar-benar mampu menjawab kebutuhan penggunanya.
“Sangat penting dalam merancang sesuatu yang kontekstual dan tidak mementingkan diri sendiri untuk menonjol dari segi desain. Selalu mengutamakan fungsi bangunannya dahulu dan bentuk bangunan akan bisa menyesuaikan. Buat apa bagus tapi tidak berfungsi maksimal,” ujar Dustin.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



