
Belajar Langsung dari Industri, Mahasiswa Magister Desain UMN Dalami Place-Making di M Bloc Space
April 29, 2026
UMN Resmikan Kolaborasi bersama Rosewood Hotel Hong Kong!
April 30, 2026
Pelaksanaan kuliah tamu Public Speaking 101 bersama Radisti (Dok. UMN)
Tangerang, (27/04/2026) – UMN Library berkolaborasi bersama Penerbit Buku Kompas menyelenggarakan kuliah tamu untuk Fakultas Ilmu Komunikasi bersama Kamidia Radisti selaku presenter dan Miss Indonesia 2007. Kuliah tamu ini membahas topik Public Speaking 101 “From Fear to Clarity”, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai strategi public speaking, tidak hanya sebagai keterampilan, tetapi juga sebagai sebuah seni dalam berkomunikasi.
Public speaking menjadi salah satu kemampuan yang mendasar dan diperlukan di berbagai bidang. Kemampuan public speaking tidak hanya mengasah kepercayaan diri, tetapi juga membentuk cara seseorang menyampaikan gagasan secara jelas, terstruktur, dan berdampak. Pada kesempatan ini, Kamidia Radisti turut membagikan berbagai tips public speaking kepada mahasiswa UMN.
“Public speaking itu tidak hanya berbicara di depan orang banyak, tapi kita perlu tahu pesan dan isi apa yang ingin kita sampaikan. Tentunya, penyampaian ini juga lebih kompleks jika kita gali lebih dalam lagi. Bagi saya diperlukan emosi dan perasaan disaat kita berbicara di depan publik, sehingga diperlukan level pengendalian emosi yang tinggi”, jelas Radisti.
Radisti juga memaparkan bagaimana sebagian besar orang kerap kali mengaitkan pada audiens jika tidak memahami pesan yang disampaikan. Faktanya, hal ini bisa terjadi juga karena pembicara yang grogi atau pesan sulit dipahami oleh audiens atau ‘soulless’, dapat terjadi karena intonasi maupun pembawaan yang kurang jelas.

Pemaparan materi oleh Radisti pada kuliah tamu Public Speaking 101 (Dok. UMN)
“Seni public speaking tidak hanya kemampuan verbal saja, namun bahasa tubuh (nonverbal) menjadi salah satu pendukung kita. Public speaking itu mencakup 10% pesan, 20% suara, dan 70% non-verbal. Non-verbal ini bisa dinilai dari tatapan mata, pergerakan tubuh, dan ruang gerak. Maka, bagaimana pembawaan diri kita di depan publik menjadi penting”, tambahnya.
Pada kesempatan ini, Radisti juga menegaskan bagaimana berbicara dihadapan publik tidak harus menyampaikan segala pesan secara detail. Hal terpenting adalah membangun rasa ingin tahu dan kepercayaan audiens pada kita, serta memahami materi secara mendalam bukan menghafal.
“Strategi yang bisa digunakan pada saat teman-teman melakukan public speaking yakni dengan menggunakan ‘flow of mind’ dengan strategi What – So – Now. Tentukan topik yang ingin disampaikan, eksplor hal-hal yang terdapat pada topik dan yang terakhir tentukan pesan yang akan disampaikan pada audiens. Dengan menggunakan strategi ini, saya yakin akan mempermudah teman-teman untuk menentukan pesan”, tegasnya.
Selain penyampaian pesan, Radisti juga menyampaikan bagaimana limitasi waktu juga menjadi salah satu faktor penting saat kita melakukan public speaking. Dengan limitasi waktu ini, hal yang perlu disiapkan secara padat adalah pembukaan, isi konten (masalah) hingga closing yang mencakup call to action audiens diakhir.
“Dalam melakukan public speaking memahami audiens menjadi penting, kita perlu tahu bagaimana lawan bicara kita, sehingga pesan kita benar-benar dipahami dan dapat berdampak. Bagi saya, seni public speaking adalah komunikasi yang berdampak dan tidak hanya menyampaikan narasi saja”, tutup Radisti.
By Rachel Tiffany | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.




