
Bagaimana Peran Strategi Komunikasi Untuk Mendukung Kesetaraan Gender Dalam Isu Keberlanjutan
November 27, 2025
UMN Kenang Warisan Nilai Jakob Oetama pada Dies Natalis ke-19
November 28, 2025
*Created with AI assistance and manually refined
Tangerang, (02/04/2026) – Center for Sustainability UMN memperkuat pendekatan pengelolaan emisi karbon melalui pengukuran yang lebih terstruktur dan berbasis data. Upaya ini dilakukan untuk memahami profil emisi kampus secara lebih komprehensif serta menjadi dasar dalam merancang langkah penurunan emisi yang terarah.
Emisi karbon merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Sejak awal diresmikan, Center for Sustainability UMN telah mengembangkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang melibatkan seluruh civitas akademika, termasuk melalui kolaborasi dengan departemen terkait dalam pengumpulan data dan pengelolaan emisi karbon di lingkungan kampus.
“Komitmen pengelolaan energi mulai dimaksimalkan pada tahun 2025, seiring dengan penggunaan gedung UMN yang sudah optimal. Proses perhitungan ini juga melibatkan beberapa program studi untuk melihat data dari berbagai perspektif dan memperdalam analisis,” ucap Maria Advenita Gita Elmada, selaku Manager Center for Sustainability UMN.
Bagi Maria, pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aspek operasional, tetapi juga terhubung dengan proses pembelajaran. Edukasi terkait pengurangan emisi karbon diperkenalkan kepada mahasiswa melalui program Sustainability 101, yang merupakan short course wajib bagi seluruh mahasiswa UMN. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai jejak karbon serta didorong untuk lebih bijak dalam mempertimbangkan penggunaan energi dalam kehidupan sehari-hari dan di masa depan.
Mahasiswa memperoleh edukasi mengenai pengurangan emisi karbon, dengan harapan dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan penggunaan energi di masa depan.
“Berdasarkan hasil perhitungan dari Building Management, rencana jangka pendek UMN adalah melakukan pengurangan konsumsi listrik sebesar 2% dari baseline tahun 2025. Target ini mulai diimplementasikan pada tahun 2026 melalui penguatan kebijakan operasional, optimalisasi penggunaan fasilitas, dan efisiensi konsumsi listrik di tingkat gedung,” papar Maria.
Selain pendekatan teknis, Maria juga menekankan pentingnya intervensi berbasis perilaku melalui kampanye di lingkungan kampus. Upaya ini dilakukan untuk mendorong perubahan kebiasaan dalam penggunaan energi oleh civitas akademika.
“Beberapa inisiatif yang telah dilakukan antara lain edukasi penggunaan fasilitas seperti tombol lift, dorongan praktik car sharing, pengurangan penggunaan listrik melalui kebiasaan sederhana seperti mencabut perangkat saat tidak digunakan, serta penggantian lampu ke LED dan integrasi kampanye keberlanjutan dalam berbagai mata kuliah dan organisasi mahasiswa,” tambah Maria.
Pendekatan ini didukung oleh hasil perhitungan emisi berbasis Greenhouse Gas (GHG) Protocol tahun 2025. Berdasarkan hasil inventarisasi, intensitas emisi UMN tercatat sebesar 0,32 tCO2e per civitas akademika, yang digunakan sebagai baseline dalam pengelolaan emisi ke depan.
“Angka intensitas emisi sebesar 0,32 tCO2e per civitas akademika ini kami gunakan sebagai titik awal. Benchmarking terus dilakukan dengan mengacu pada studi dan praktik penghitungan emisi di berbagai universitas. Dalam konteks tersebut, posisi UMN saat ini dapat dikatakan relatif efisien, meskipun masih terdapat ruang untuk perbaikan, terutama dari sisi konsumsi energi listrik,” jelas Maria.
“Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kontribusi emisi terbesar UMN saat ini berasal dari penggunaan listrik sebagai sumber utama operasional kampus. Hal ini mencerminkan karakter aktivitas universitas yang bergantung pada energi untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan operasional, sehingga fokus intervensi diarahkan pada efisiensi energi dan pengelolaan konsumsi listrik,” lanjut Maria.
Melihat tantangan ke depan, Maria menekankan bahwa pengelolaan emisi tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada keterlibatan civitas akademika. Oleh karena itu, pendekatan edukasi dan peningkatan kesadaran tetap menjadi bagian penting dalam strategi yang dijalankan.
“Upaya pengurangan emisi memerlukan partisipasi bersama. Perubahan perilaku dalam penggunaan energi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung efektivitas strategi yang telah dirancang,” ucap Maria.
Ke depan, UMN akan terus mengembangkan pendekatan pengukuran emisi dengan mengacu pada standar GHG Protocol. Maria menegaskan bahwa saat ini UMN mulai melakukan pengembangan perhitungan sebagian emisi Scope 3 secara bertahap, termasuk aspek air dan limbah, untuk mendapatkan gambaran emisi yang lebih komprehensif.
“Dalam merespon perubahan iklim yang semakin signifikan, kami akan terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi seperti sensor untuk pengelolaan penggunaan listrik, memperkuat riset, serta meningkatkan kesadaran civitas akademika melalui pendekatan berbasis pengetahuan,” tutup Maria.
By Rachel Tiffany | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



