
Menghidupkan Warisan: Buku Kisah Para Perintis Kompas Gramedia Hadir sebagai Legacy dan Inspirasi Bangsa
Agustus 12, 2026
Gambar: Diskusi untuk melihat akurasi dari AI dan Augmented Reality lesi ginjal (kiri belakang): Monica, (Kiri depan): irmawati, (Kanan): dr. Edvin. Dok: pribadi
Jakarta (13/08/2026) – Tim peneliti dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berupaya mengembangkan Artificial Intelligence (AI) dan Augmented Reality untuk membantu terdeteksinya kelainan ginjal oleh dokter.
Tim peneliti dari UMN beranggotakan Dosen Fakultas Teknik Informatika Dr. Irmawati, S.Kom., M.M.S.I. dan Dosen Fakultas Teknik Komputer Monica Pratiwi, S.ST., M.T. Sementara itu, tim klinisnya beranggotakan dr. Edvin Prawira Negara, dr. Alfryan Janardhana, dr. Ahmad Irsyad Syafrani, dan Dr. dr. Besut Daryanto, Sp.B., Sp.U(K) dari Departemen Urologi. Penelitian juga melibatkan Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, Sp.Rad(K) dari Departemen Radiologi RSUD, Dr. Saiful Anwar dan FK UB.
“Kerja sama antara peneliti teknologi dan dokter sangat penting supaya AI yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan layanan kesehatan dan bisa dipakai dengan tepat di lingkungan klinis,” kata Dr. Irmawati dari UMN dalam press releasenya.
Lewat penelitian ini, tim gabungan tersebut berupaya membantu mendeteksi kelainan ginjal lewat teknologi AI dan Augmented Reality, contohnya batu ginjal dan kanker ginjal. Teknologi yang digunakan pun memakai citra CT Scan dan menggunakan analisis metode radiomik. Metode tersebut mampu mengubah gambar medis menjadi data yang bisa diukur. Harapannya, data yang didapatkan tadi bisa memberikan informasi terkait bentuk, ukuran, tekstur, lokasi, dan karakteristik jaringan yang tidak selalu mudah dikenali lewat pengamatan visual.

Gambar: Deteksi lesi secara otomatis dan simulasi operasi yang dilakukan kepada pasien
AI kemudian memproses data tersebut, lalu menggunakan Augmented Reality untuk menampilkan hasil analisis tadi dalam bentuk visual tiga dimensi. Hal ini diharapkan bisa membantu dokter melihat posisi ginjal, letak batu atau tumor, serta hubungannya dengan pembuluh darah dan jaringan di sekitarnya secara lebih jelas.
Diharapkan, sistem teknologi ini bisa membantu dokter menentukan diagnosis, merencanakan terapi, dan mempersiapkan operasi dengan lebih tepat. Tak hanya itu, tampilan visual yang dibuat dari Augmented Reality tadi diharapkan bisa mempermudah dokter menjelaskan kondisi dan rencana pengobatan pasien kepada keluarganya.
Sejauh ini, penelitian ini berhasil menemukan model AI radiomik ginjal, dokumen studi kelayakan, dan aplikasi berbasis web untuk memproses dan menampilkan hasil analisis citra medis. Langkah selanjutnya adalah melakukan penguatan pengujian dan validasi klinis, sebelum teknologi ini kemudian bisa digunakan secara luas untuk melayani pasien.
By Putu Wiena | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



