
Apa Itu Jejak Karbon Digital? Dampaknya dan Cara Mahasiswa Bisa Menguranginya
Juni 10, 2026
Thrifting merupakan salah satu tindakan ramah lingkungan yang bisa diterapkan oleh mahasiswa. (Sumber:Unsplash/Hugo Clement)
Pernahkah kamu membayangkan bahwa pakaian yang kamu kenakan hari ini bisa menyelamatkan Bumi? Di tengah krisis limbah tekstil yang semakin mengkhawatirkan, thrifting atau berbelanja pakaian bekas muncul sebagai gerakan sustainable fashion yang patut dilirik, terutama oleh mahasiswa.
Thrifting adalah salah satu bentuk paling nyata dari sustainable fashion karena memperpanjang umur pakaian dan mengurangi kebutuhan produksi baru.
Baca juga: Menyelami Program Keberlanjutan dan di Universitas Multimedia Nusantara.
Dampak Lingkungan dari Fast Fashion
Fast fashion telah memperparah krisis ini. Model bisnis ini mendorong konsumen untuk membeli pakaian dengan frekuensi tinggi dan menggantinya dengan cepat. Menurut perkiraan UNEP 2023, industri fesyen menyumbang sekitar 10% emisi karbon global—bahkan lebih besar daripada gabungan emisi penerbangan internasional dan pelayaran laut .
Sebagai alternatif, sustainable fashion menawarkan pendekatan yang berbeda: membeli lebih sedikit, memilih pakaian berkualitas, dan memprioritaskan pakaian bekas yang layak pakai. Thrifting adalah jantung dari sustainable fashion karena tidak memerlukan sumber daya baru sama sekali.
Selain itu, limbah tekstil juga menyumbang terhadap masalah mikroplastik. Ketika pakaian sintetis dicuci, mereka melepaskan partikel mikroplastik, dengan lebih dari 500.000 ton yang berakhir di lautan setiap tahunnya, sehingga menciptakan risiko ekologis jangka panjang .
Manfaat Thrifting bagi Lingkungan
Thrifting menawarkan solusi nyata dalam praktik sustainable fashion. Ketika kamu membeli pakaian bekas yang masih layak pakai, kamu memperpanjang umur pakaian tersebut dan berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 44% dibandingkan dengan membeli pakaian baru .
Penelitian lain mengonfirmasi hal ini. Sebuah studi yang mempublikasikan temuan di jurnal Sustainability pada tahun 2025 mencatat bahwa pengumpulan 10.772 unit pakaian berhasil mengalihkan 2.311 kg (sekitar 5.095 pon) pakaian dari tempat pembuangan akhir. Selain manfaat lingkungan, 45,86% dari item yang terkumpul juga diberikan kembali kepada masyarakat lokal, menciptakan dampak sosial yang positif —sebuah aspek penting dalam sustainable fashion yang holistik.
Fakta lain yang mencengangkan: emisi karbon dari satu pakaian baru adalah 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan beratnya jika dibandingkan dengan pakaian bekas. Artinya, setiap kali kamu memilih thrifting, kamu secara langsung membantu mengurangi jejak karbonmu secara signifikan. Inilah mengapa para pegiat sustainable fashion menjadikan thrifting sebagai pilar utama dalam gerakan mereka.
Baca juga: 5 Jurusan Kuliah yang Fokus pada Green Technology.
Mengapa Mahasiswa Harus Mulai Thrifting?
Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam sustainable fashion. Generasi Z saat ini dilaporkan membeli pakaian bekas 250% lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Pasar global pakaian bekas diproyeksikan mencapai 218 miliar dolar AS pada tahun 2026, menunjukkan pertumbuhan yang pesat .
Penelitian yang dilakukan terhadap 345 responden muda di Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Jakarta menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan meningkat di kalangan Gen Z, meskipun harga dan estetika vintage tetap menjadi alasan utama.
Beberapa alasan mengapa mahasiswa ideal untuk memulai thrifting sebagai bagian dari gaya hidup sustainable fashion:
- Hemat anggaran: Pakaian bekas jauh lebih terjangkau dibandingkan pakaian baru, cocok untuk kantong mahasiswa .
- Penampilan unik: Thrifting menawarkan model pakaian terbatas dan vintage yang tidak pasaran, sehingga memungkinkan ekspresi gaya personal tanpa mendukung fast fashion.
- Dampak lingkungan nyata: Dengan thrifting, kamu secara aktif mengurangi limbah tekstil dan jejak karbon—inti dari fashion berkelanjutan.
- Membangun kesadaran: Thrifting mengajarkan nilai-nilai konsumsi berkelanjutan sejak dini, sehingga kamu menjadi duta sustainable fashion di lingkungan kampus.
Baca juga: Fasilitas dan Teknologi Hijau di Kampus Modern Berkelanjutan.
Kesimpulan
Thrifting bukan sekadar tren, tetapi gerakan nyata dalam sustainable fashion untuk menyelamatkan lingkungan dari krisis limbah tekstil. Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki kesempatan emas untuk memulai gaya hidup yang berkelanjutan.
Setiap pakaian bekas yang kamu beli adalah satu pakaian baru yang tidak perlu diproduksi, satu sumber daya alam yang terselamatkan, dan satu langkah menuju bumi yang lebih hijau. Sustainable fashion dimulai dari pilihan kecilmu hari ini.
Mulai sekarang, jadikan thrifting sebagai pilihan cerdas untuk mendukung sustainable fashion!
By Levina Chrestella Theodora
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




