
Tertarik Software Engineering with AI? Kenali Jurusan Informatika UMN
Oktober 19, 2026
Ilustrasi software engineer (Sumber Gambar: Unsplash/Compagnons)
Perkembangan artificial intelligence (AI) membuat cara software engineer bekerja ikut berubah. Saat ini, berbagai AI coding tools dapat membantu menulis kode, menemukan bug, menjelaskan fungsi program, hingga memberikan saran untuk menyelesaikan masalah pemrograman. Kondisi ini membuat calon mahasiswa bertanya. Kalau AI sudah bisa coding, apakah masih perlu belajar software engineering?
Jawabannya tetap perlu. Namun, kemampuan yang dibutuhkan tidak lagi hanya sebatas menulis baris kode. Calon software engineer perlu memahami bagaimana sebuah software dirancang, bagaimana memberikan instruksi yang tepat kepada AI, serta bagaimana memastikan kode yang dihasilkan benar-benar aman, efisien, dan sesuai kebutuhan. Lalu, apa saja yang perlu dipelajari? Simak penjelasan berikut sobat UMN!
1. Pahami Dasar Pemrograman
AI memang dapat membantu menghasilkan kode, tetapi calon software engineer tetap perlu memahami dasar pemrograman. Konsep seperti algoritma, struktur data, logika pemrograman, database, dan pemahaman tentang bagaimana program bekerja menjadi fondasi penting. Mahasiswa tidak hanya menerima kode dari AI, tetapi juga dapat memeriksa apakah kode tersebut masuk akal.
Misalnya, AI dapat menghasilkan sebuah fungsi berdasarkan instruksi pengguna. Namun, calon engineer tetap perlu mengetahui apakah fungsi tersebut menghasilkan output yang benar, memiliki performa yang baik, dan sesuai dengan kebutuhan aplikasi. Karena itu, belajar coding di era AI bukan melulu menghafalkan setiap syntax. Fokusnya adalah memahami logika di balik kode.
Baca Juga: Bukan Hanya Kerja di Lapangan, Engineer Juga Bisa Remote Working
2. Belajar Problem Solving
Software engineering pada dasarnya adalah menyelesaikan masalah. Ketika mendapatkan sebuah kebutuhan dari pengguna, software engineer harus mampu mengidentifikasi masalah, memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil, kemudian menentukan solusi yang dapat diterapkan melalui software.
AI dapat membantu menawarkan solusi, tetapi manusia tetap perlu menentukan apakah solusi tersebut relevan. Kemampuan problem solving juga membuat calon mahasiswa tidak terlalu bergantung pada AI. Ketika hasil yang diberikan AI tidak sesuai, mereka dapat menganalisis masalah dan mencari pendekatan lain.
3. Pahami Cara Bekerja dengan AI
AI tidak harus dilihat sebagai pengganti software engineer. Bagi calon mahasiswa, AI justru dapat dipelajari sebagai alat kerja baru. Kemampuan memberikan instruksi yang jelas kepada AI, mengevaluasi hasilnya, melakukan debugging terhadap kode yang dihasilkan, dan mengombinasikan output AI dengan pengetahuan teknis menjadi bagian dari proses kerja yang semakin relevan.
Artinya, calon software engineer tidak hanya perlu belajar “coding”, tetapi juga belajar AI collaboration. Kemampuan tersebut memungkinkan engineer menggunakan AI untuk pekerjaan tertentu sambil tetap mempertahankan kontrol terhadap kualitas software yang dibuat.
Baca juga: Interested in Becoming a Computer Systems Student? Here Are The Entry Requirements!
4. Pelajari Software Architecture
Semakin kompleks sebuah aplikasi, semakin penting pemahaman mengenai bagaimana berbagai komponen software saling terintegrasi. Calon software engineer perlu mengenal konsep seperti application architecture, API, database, cloud computing, dan bagaimana sebuah sistem dirancang agar dapat dikembangkan dan dipelihara.
AI mungkin dapat menghasilkan potongan kode untuk suatu fitur. Namun, membangun aplikasi yang kompleks membutuhkan keputusan mengenai bagaimana berbagai fitur tersebut dihubungkan. Inilah salah satu alasan mengapa pemahaman software architecture tetap penting di tengah perkembangan AI.
5. Jangan Mengabaikan Cybersecurity
Kode yang dihasilkan AI tidak otomatis aman. Software engineer tetap perlu memahami potensi kerentanan seperti authentication problems, insecure data handling, injection, maupun kesalahan konfigurasi. Pengetahuan cybersecurity membantu calon engineer melihat software dari sudut pandang yang lebih luas.
Mereka tidak hanya bertanya, “Apakah program ini bisa berjalan?” tetapi juga “Apakah program ini aman digunakan?” Di era AI, kemampuan mengevaluasi dan mengamankan kode menjadi semakin relevan karena proses pengembangan software dapat berlangsung lebih cepat.
6. Belajar Testing dan Code Review
Salah satu perubahan penting dalam software engineering with AI adalah semakin pentingnya kemampuan memeriksa hasil kerja AI. Kode yang terlihat benar belum tentu bebas dari kesalahan. Karena itu, calon software engineer perlu memahami software testing, debugging, dan code review.
Mereka harus mampu menguji apakah program bekerja sesuai kebutuhan dan menemukan bagian yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, AI dapat membantu mempercepat proses pembuatan kode, sementara engineer tetap bertanggung jawab terhadap kualitas hasil akhirnya.
7. Pahami Kebutuhan Pengguna
Kemampuan teknis saja tidak selalu cukup untuk membangun software yang berguna. Software engineer perlu memahami kebutuhan pengguna dan menerjemahkannya menjadi solusi teknis. Hal ini membutuhkan kemampuan komunikasi, analisis kebutuhan, dan pemahaman terhadap konteks bisnis atau masalah yang ingin diselesaikan.
AI dapat membantu membuat kode berdasarkan instruksi, tetapi kualitas hasil akhirnya tetap bergantung pada seberapa jelas masalah yang ingin diselesaikan. Karena itu, calon mahasiswa juga perlu membangun kemampuan komunikasi dan berpikir kritis sejak awal.
Jadi, apakah calon mahasiswa masih perlu belajar coding? Ya. Namun, tujuan belajar coding perlahan berubah. Jika sebelumnya coding sering dipahami sebagai kemampuan menulis kode secara manual, perkembangan AI membuat pemahaman terhadap logika, arsitektur, problem solving, testing, keamanan, dan kemampuan mengevaluasi kode menjadi semakin penting.
Calon software engineer tidak harus berkompetisi dengan AI dalam hal siapa yang paling cepat menulis kode. Mereka justru perlu belajar bagaimana menggunakan AI secara bijak sambil tetap memahami teknologi yang digunakan. Artinya, AI dapat membantu menulis kode, tetapi software engineer tetap perlu memahami mengapa kode tersebut dibuat, bagaimana kode tersebut bekerja, dan apakah kode tersebut benar-benar menyelesaikan masalah
Punya ketertarikan pada teknologi dan ingin berkarier sebagai software engineer yang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan? Kenali lebih dalam skill yang dibutuhkan untuk jadi software engineer berbasis AI, mulai dari pemrograman, pengembangan software, hingga pemahaman AI dan machine learning. Temukan program studi dan fasilitas pembelajaran yang dapat mendukung perjalananmu di bidang teknologi melalui Universitas Multimedia Nusantara. Mari persiapkan diri untuk menghadapi kebutuhan industri digital masa depan.
By Reyvan Maulid | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




