
Peluang Karir yang Menjanjikan Bagi Lulusan DKV UMN di Era Industri Kreatif Digital
Maret 14, 2026
Cara Tepat Menentukan Jurusan Kuliah Sesuai Minat dan Karir dengan Panduan Memilih Prodi di UMN
Maret 17, 2026
Film “Setan Alas!” karya horor yang melibatkan talenta UMN dan telah tayang di bioskop Indonesia.
Film Indonesia dengan konsep meta-horor, “Setan Alas!”, resmi tayang di jaringan bioskop Indonesia dejak 5 Maret 2026 lalu setelah sebelumnya berkeliling di sejumlah festival film internasional. Di balik produksi film tersebut, terdapat kontribusi sivitas Universitas Multimedia Nusantara (UMN), baik di depan layar maupun di balik layar.
Salah satunya adalah alumni Program Studi Film UMN angkatan 2015, Winner Wijaya, yang berperan sebagai “Amir”. Dalam film “Setan Alas!”, “Amir” digambarkan sebagai salah satu mahasiswa yang terjebak dalam situasi mencekam ketika menghabiskan akhir pekan di sebuah vila tua bersama teman-temannya. Situasi berubah drastis ketika salah satu dari mereka terbunuh secara misterius, sementara upaya untuk keluar dari hutan justru membawa mereka semakin dekat dengan ancaman kekuatan supernatural.
Menurut Winner, perjalanan film tersebut hingga akhirnya tayang di bioskop memerlukan waktu yang cukup panjang. Ia mengungkapkan bahwa tim produksi harus menunggu lebih dari dua tahun untuk mendapatkan jadwal penayangan di bioskop Indonesia.
“Tentunya sangat senang akhirnya film kami dapat kesempatan untuk ditayangkan di jaringan bioskop Indonesia setelah mengantre untuk mendapatkan jadwal tayang selama lebih dari dua tahun,” ujar Winner.

Winnier Wijaya [paling kiri] saat pemutaran film “Setan Alas!” di Toronto Reel Asian International Film Festival 2024. (dok. Winner Wijaya)
“Reaksi penonton luar biasa, banyak yang teriak, tertawa keras sampai terguling-guling, sumpah, dan tepuk tangan yang cukup lama di akhir film,” katanya.
Setelah itu, film tersebut juga berkompetisi dalam kategori film horor terbaik di Fantastic Fest, yakni salah satu festival film genre terbesar di Amerika Serikat. Film ini kemudian kembali diputar di Toronto Reel Asian International Film Festival 2024 yang memperluas jangkauan penontonnya di tingkat internasional.
Bagi Winner, keterlibatannya dalam “Setan Alas!” juga menjadi pengalaman penting karena film ini merupakan debutnya sebagai aktor dalam film panjang. Ia mengaku sempat merasa gugup saat menjalani proses syuting, tetapi pengalaman belajar akting sebelumnya membantunya memahami dinamika produksi film.

“Setan Alas!” menjadi pengalaman penting bagi Winner Wijaya karena menjadi debutnya sebagai aktor dalam film panjang. (dok. Winner Wijaya)
Proses syuting dilakukan di sebuah vila di kawasan Kaliurang, Yogyakarta, yang dikenal oleh warga sekitar memiliki reputasi angker karena menjadi tempat kasus bunuh diri dan pembunuhan. Meski demikian, proses produksi film berlangsung dengan lancar. Winner bahkan mengingat salah satu kejadian tak terduga pada hari pertama syuting ketika mobil yang dikemudikannya dalam sebuah adegan tiba-tiba tidak dapat direm.
“Di depan mobil ada tenda kru kamera dan berbagai peralatan kamera, mereka berlari berhamburan saat mobil semakin mendekat. Akhirnya, saya menarik tuas rem tangan, mobil berdecit lalu berhenti, sayangnya ada slider kamera yang penyok tertabrak. Ternyata mobil itu adalah mobil kesayangan sutradaranya. Bayangkan saja, hari pertama shooting dan membuat kekacauan seperti itu, saya merasa bersalah. Untungnya, Mas Yos [sutradara film “Setan Alas!] menanggapi dengan bercanda,” cerita Winner di balik produksi film “Setan Alas!”

Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual UMN, Clemens Felix Setiyawan, S,Sn., M.Hum. saat proses pre-sound post untuk film “Setan Alas!” di Lab Sound Design UMN. (dok. Clemens Felix Setiyawan)
Selain di depan layar, kontribusi sivitas UMN juga hadir dalam aspek musik film. Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual UMN, Clemens Felix Setiyawan, S,Sn., M.Hum., terlibat sebagai pengarah musik dalam produksi film “Setan Alas!”.
Felix menjelaskan bahwa pendekatan musikal dalam film ini dirancang berdasarkan naskah dan diskusi intens dengan sutradara. Ia juga menambahkan karakter khusus yang hanya ada di film “Setan Alas!”, yaitu bernuansa tradisional.
“Karena film ini bukan film horor biasa, tetapi meta-horor, jadi otomatis sound design dan film music scoring-nya harus bisa membawa ke suasana meta-horor tidak hanya suasana tegang dan misteri saja,” jelas Felix.

Proses rekaman untuk musik di film “Setan Alas!”. (dok. Clemens Felix Setiyawan)
Proses kreatif penggarapan musik dimulai dari bedah naskah bersama sutradara untuk mengidentifikasi kebutuhan suara dan musik di setiap adegan. Setelah produksi berjalan, Felix kemudian menyusun berbagai aset suara dan komposisi musik yang disesuaikan dengan perkembangan setiap scene dalam film.
“Musik dalam film berfungsi untuk penguat suasana. Lalu, adegan yang ada pada film tersebut, baik itu suasana gembira, sedih, tegang maupun suasana-suasana yang lainya, sangatlah membutuhkan musik untuk supaya suasana film tersebut sampai kepada penonton film,” kata Felix.
Dalam proses produksinya, penggarapan musik di film ini juga melibatkan ekosistem kreatif di lingkungan UMN. Felix mengajak dosen, alumni, serta staf laboratorium kampus untuk berkolaborasi dalam proyek tersebut, termasuk dalam produksi lagu tema film berjudul “Dalang Setan” yang diproduksi di Laboratorium Fakultas Seni dan Desain UMN. Menurut Felix, keterlibatan sivitas kampus dalam proyek profesional merupakan cara untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa.
Felix juga menyontohkan bagaimana pengalaman praktik diberikan kepada mahasiswa melalui mata kuliah Sound Design di Program Studi DKV UMN. Dalam perkuliahan tersebut, mahasiswa UMN diminta membuat berbagai karya audio visual secara mandiri, mulai dari jingle hingga video iklan, dengan seluruh aset suara, musik, maupun visual yang dibuat sendiri dari awal.
“Untuk karya-karya UTS dan UAS tersebut selalu di-streaming-kan di YouTube dan sampai sekarang masih bisa dinikmati di YouTube karya dari mahasiswa-mahasiswa Prodi DKV UMN yang mengambil matakuliah Sound Design. Untuk link YouTube-nya sebagai berikut https://www.youtube.com/@sounddesigndkv5008 dan https://www.youtube.com/watch?v=EnW5NgbJunQ&t=11s,” kata Felix yang saat ini tengah menempuh program doktor seni S-3 di Institut Seni Indonesia Bali.
Felix pun menilai potensi mahasiswa UMN di bidang industri kreatif sangat besar, terutama jika didukung dengan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik. Keterlibatan alumni, dosen, dan fasilitas kampus dalam film “Setan Alas!” menjadi salah satu contoh bagaimana sivitas UMN berkontribusi dalam industri kreatif nasional. Bagi mahasiswa yang bercita-cita meniti karier di dunia perfilman, pengalaman ini sekaligus menunjukkan bahwa karya dari lingkungan kampus dapat berkembang hingga menjangkau panggung industri yang lebih luas.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



