
KSPM UMN Kembali Ukir Prestasi, Raih Nilai Transaksi Tertinggi dalam GI BEI Gathering & Road to GI BEI Award 2026
Oktober 14, 2026
Foto bersama jajaran dosen dan mahasiswa Sekolah Athalia (Dok. FIKOM UMN)
Tangerang Selatan, 13 Oktober 2026 – Dr. Arsa Widitiarsa Utoyo, dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN), membawakan workshop Personal Branding: Find Your Voice, Build Your Brand di Sekolah Athalia pada Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini mengajak siswa mengenali potensi diri dan membangun identitas digital yang autentik melalui media sosial.
Workshop yang berlangsung selama 90 menit ini berfokus pada pengembangan keterampilan komunikasi digital, khususnya dalam membangun personal branding melalui platform TikTok dan Instagram. Para siswa diajak memahami bahwa personal branding tidak hanya berkaitan dengan popularitas atau jumlah pengikut, tetapi juga dengan kemampuan mengenali keunikan diri, menyampaikan nilai, dan menjaga konsistensi pesan.
Dalam sesi tersebut, Arsa membahas empat aspek utama, yaitu content pillars, diferensiasi diri, tone of voice, dan konsistensi pesan. Keempat aspek ini menjadi dasar bagi siswa untuk merancang identitas digital yang sesuai dengan minat, kemampuan, karakter, dan nilai yang ingin disampaikan kepada audiens.
Pada materi content pillars, siswa diperkenalkan pada pendekatan I Love, I Know, dan I Care. Pendekatan ini membantu mereka menentukan tiga tema konten berdasarkan hal yang disukai, kemampuan atau pengetahuan yang dimiliki, serta hal-hal yang dianggap penting. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan ide konten yang relevan dengan diri mereka, bukan sekadar mengikuti tren.

Arsa pada workshop bersama siswa-siswi Sekolah Athalia (Dok. FIKOM UMN)
Materi diferensiasi diri mengajak siswa menemukan karakteristik yang membedakan mereka dari kreator lain, baik melalui pengalaman, sudut pandang, gaya penyampaian, maupun nilai yang ditawarkan. Sementara itu, materi tone of voice membantu siswa menentukan gaya komunikasi yang sesuai dengan kepribadian mereka, seperti ramah, humoris, edukatif, inspiratif, atau melalui pendekatan storytelling.
Workshop juga menyoroti pentingnya konsistensi identitas di TikTok dan Instagram. Meskipun setiap platform memiliki karakteristik dan format konten yang berbeda, pesan utama serta nilai yang ingin dibangun perlu tetap selaras agar identitas digital lebih mudah dikenali oleh audiens.
Praktik Menyusun Personal Branding
Tidak hanya mendapatkan materi konseptual, siswa juga terlibat dalam kegiatan praktik melalui lembar kerja Brand Persona Canvas. Dalam aktivitas ini, mereka menyusun rancangan personal branding yang mencakup tiga pilar konten, target audiens, kebutuhan audiens, keunikan diri, gaya komunikasi, serta pesan utama yang ingin disampaikan.
Para siswa kemudian berlatih mempresentasikan rancangan tersebut melalui brand pitch singkat. Aktivitas ini dirancang untuk melatih kemampuan refleksi diri, menyusun strategi komunikasi, dan menyampaikan gagasan secara terstruktur.
Menurut Arsa, pemahaman terhadap diri sendiri merupakan fondasi penting dalam membangun personal branding yang kuat.
“Personal branding bukan sekadar tentang bagaimana kita ingin dilihat orang lain, tetapi juga tentang nilai apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Siswa perlu mengenali apa yang mereka sukai, apa yang mereka kuasai, dan apa yang mereka pedulikan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan media sosial perlu disertai tanggung jawab, termasuk menghormati privasi orang lain, memperhatikan keamanan konten, dan menggunakan karya pihak lain secara etis.
“Jangan hanya berusaha menjadi terkenal, tetapi berusahalah menjadi bermakna. Media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, berbagi kreativitas, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu memanfaatkan media sosial secara lebih strategis, kreatif, dan bertanggung jawab. Keterampilan personal branding juga dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk mengembangkan kepercayaan diri, mengomunikasikan potensi diri, serta membangun reputasi positif di lingkungan digital.

Partisipasi dosen UMN dalam kegiatan edukasi seperti ini turut membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi pendidikan. Melalui berbagi pengetahuan dan pengalaman akademik, UMN dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat relevansi ilmu komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Workshop ini menegaskan bahwa membangun personal branding tidak harus dimulai dengan mengejar popularitas. Langkah awal yang lebih penting adalah mengenali keunikan diri, menentukan arah komunikasi, dan secara konsisten menghadirkan nilai positif bagi orang lain.
By Arsa Widitiarsa Utoyo
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




