
“The Art of Touching People’s Heart”, Ovita Pattari Ajak Mahasiswa DKV UMN Ciptakan Karya Bermakna
Maret 26, 2026
Pengembangan smart fly trap (Dok. UMN)
Kolaborasi antara Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui peluncuran aplikasi MySalak pada Januari 2025 lalu menjadi langkah nyata integrasi teknologi dalam sektor pertanian. Aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk membantu petani salak dalam menangani hama.
Pengembangan MySalak melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi UMN dan UGM, organisasi internasional seperti Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), hingga instansi pemerintah seperti Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan upaya bersama dalam menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan aplikatif di lapangan.
Dalam pengembangannya, MySalak melahirkan berbagai inovasi turunan. Salah satunya adalah perangkat smart fly trap yang dikembangkan oleh mahasiswa Teknik Komputer UMN angkatan 2022, Rifqi Habib Ur Rahman. Perangkat ini dirancang sebagai bagian dari pilot project yang berfungsi untuk mengotomatisasi proses monitoring populasi lalat buah di lahan salak.
Berbeda dengan metode konvensional yang masih mengandalkan pengamatan manual, alat ini mampu melakukan perhitungan secara otomatis sekaligus mengirimkan data secara berkala. Sistem ini tetap dapat beroperasi di wilayah perkebunan tanpa akses internet, dengan memanfaatkan teknologi komunikasi jarak jauh bernama LoRa yang memungkinkan pengiriman data melalui sinyal radio.
“Perangkap ini adalah hasil dari pilot project smart trap MySalak, perangkap ini dapat menghitung lalat buah secara otomatis lalu mengirimkan data telemetri tersebut, bahkan di daerah yang tidak memiliki konektivitas internet,” jelas Rifqi.
Permasalahan yang melatarbelakangi pengembangan teknologi ini berakar dari tantangan serius dalam proses ekspor salak. Dalam praktiknya, keberadaan satu buah yang terkontaminasi larva lalat buah dapat menyebabkan seluruh batch ekspor ditolak atau bahkan dimusnahkan, sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani maupun negara pengirim.

Pilot project smart trap MySalak (Dok. UMN)
Sistem monitoring manual yang selama ini diterapkan dinilai memiliki risiko tinggi terhadap kesalahan manusia, baik dalam proses perhitungan maupun keterlambatan deteksi. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih presisi dan responsif untuk memastikan kualitas hasil panen tetap terjaga.
Menurut Rifqi, kehadiran alat monitoring yang andal dapat menjadi solusi untuk menekan risiko tersebut. Dengan pengambilan data yang lebih konsisten dan tidak bergantung pada tenaga manusia, potensi kesalahan dalam proses sortir dapat diminimalisasi. Selain itu, data yang dihasilkan secara real time juga memungkinkan petani untuk mengambil tindakan mitigasi lebih cepat sebelum populasi hama berkembang secara signifikan.
“Ide dari pembuatan perangkap itu sendiri adalah bentuk kebutuhan dari MySalak untuk memperluas akuisisi data dari MySalak. Di mana dengan perangkap ini, pengambilan data FTD (Flies per Trap per Day) menjadi lebih konsisten dan tidak bergantung pada tenaga kerja manusia, yang diharapkan dapat meningkatkan performa prediksi MySalak serta membantu petani dalam monitoring populasi lalat,” lanjut Rifqi.
Secara teknis, perangkat ini memanfaatkan sensor inframerah untuk mendeteksi setiap objek yang melintas di dalam perangkap. Saat ada objek yang melintas dan menghalangi sinar, sistem akan mencatatnya dan menentukan apakah itu lalat. Metode ini dipilih karena lebih hemat biaya dibandingkan kamera, sehingga lebih mudah diterapkan di lahan pertanian.
Pengembangan smart fly trap ini juga tidak lepas dari peran para dosen pembimbing yang memberikan kontribusi signifikan dari berbagai aspek keilmuan. Rifqi pun tidak hanya berfokus pada bidang teknik komputer, tetapi juga harus memahami dasar-dasar entomologi, yakni cabang ilmu biologi yang secara khusus mempelajari serangga. Hal ini untuk memastikan bahwa alat yang dikembangkan sesuai dengan standar monitoring hama. Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi kunci dalam menghasilkan solusi yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga valid secara ilmiah dalam konteks pertanian.
Lebih lanjut, pengujian alat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pengujian lapangan di lingkungan kampus UMN untuk menyimulasikan kondisi nyata, serta pengujian terkontrol di laboratorium Fakultas Pertanian UGM. Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi sekitar 80 persen yang diperoleh dengan membandingkan hasil perhitungan otomatis dengan perhitungan manual dalam interval waktu tertentu. Meski masih dalam tahap pengembangan menuju produksi, capaian ini menunjukkan potensi besar dari teknologi tersebut untuk diimplementasikan secara luas.

Pengujian smart fly trap di Kampus UMN (Dok. UMN)
“Pengujian tersebut dilakukan dengan cara membiarkan alat tersebut berkerja dalam interval yang telah ditetapkan, dihitung secara manual, lalu dibandingkan hitungan manual dan otomatis untuk mendapat akurasi dari perangkap tersebut,” ungkap Rifqi.
Dari sisi implementasi, perangkat ini dirancang sebagai sistem peringatan dini bagi petani. Dengan kemampuan mengirimkan data secara berkala dalam hitungan jam, petani dapat memantau lonjakan populasi lalat buah secara lebih cepat dibandingkan metode manual yang umumnya dilakukan mingguan. Hal ini memungkinkan tindakan mitigasi dilakukan lebih dini, sehingga dapat menekan penggunaan insektisida berlebih sekaligus mencegah terjadinya wabah hama di lahan.
Rifqi melihat bahwa inovasi seperti ini tidak hanya berdampak pada efisiensi teknis, tetapi juga pada peningkatan kepercayaan dalam proses ekspor hasil pertanian. Dengan data yang lebih akurat dan real time, petani diharapkan dapat meminimalisasi risiko kontaminasi yang tidak terdeteksi. Dengan demikian, kualitas produk tetap terjaga dan memenuhi standar internasional.
“Hal yang sangat sering ditegaskan oleh dosen-dosen tercinta saya di [Prodi] Teknik Komputer UMN adalah bahwasanya invensi yang tidak menyelesaikan masalah adalah invensi yang tidak berguna. Dengan logika ini, saya yakin bahwa sebagai mahasiswa, sudah menjadi kewajiban kita untuk memberikan sesuatu yang memiliki usecase nyata kepada masyarakat, almamater, serta negara ini,” tutup Rifqi.
MySalak merupakan aplikasi berbasis AI dan IoT yang dikembangkan melalui program Grant EPICS oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers untuk membantu petani salak mengatasi hama. Inovasi ini juga masuk dalam 117 Inovasi Indonesia versi Business Innovation Center, serta sempat disorot dalam Buletin Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY edisi Juni 2025 oleh Subejo.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.




