
Gambaran Mata Kuliah Program Studi AI di UMN, Belajar Apa Saja?
Mei 4, 2026
Ilustrasi plastik (Sumber: Unsplash/Teslariu Mihai)
Kenaikan harga plastik yang terjadi akhir-akhir ini menjadi pukulan hebat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Lonjakan harga hingga puluhan ribu rupiah membuat banyak pedagang mulai kesulitan menjaga stabilitas biaya produksi. Plastik yang selama ini menjadi urat nadi operasional sebagai kemasan makanan, minuman, maupun produk lainnya kini berubah menjadi tempaan beban yang semakin berat.
Dampaknya semakin terasa di lapangan. Pedagang gorengan, minuman kekinian, hingga usaha rumahan harus menghadapi dilema yakni menaikkan harga jual atau menanggung penurunan margin keuntungan. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan. Salah satu solusi yang mulai dilirik adalah penerapan circular economy atau sirkular. Lalu, apa saja manfaat circular economy sebagai benteng dalam memerangi harga plastik yang kian naik belakangan ini? Simak penjelasan berikut sobat UMN!
1. Circular Economy sebagai Solusi Alternatif
Circular economy adalah konsep ekonomi yang menekankan penggunaan kembali, daur ulang, dan pengurangan limbah agar sumber daya tetap berputar dalam sistem. Berbeda dari model linear (ambil-pakai-buang), pendekatan ini mendorong efisiensi dan keberlanjutan dalam jangka panjang.
Dalam konteks kenaikan harga plastik, circular economy menawarkan cara untuk mengurangi ketergantungan UMKM terhadap bahan plastik baru. Misalnya, menggunakan kemasan yang dapat dipakai ulang (reusable packaging) atau beralih ke bahan alternatif yang lebih tahan lama dan bisa didaur ulang. Pelaku usaha tidak perlu terus-menerus membeli plastik baru yang harganya fluktuatif.
Baca juga: Sustainability Talk UMN: Industri dan Mahasiswa Dorong Ekonomi Sirkular Berkelanjutan
2. Mengurangi Biaya Produksi Secara Bertahap
Salah satu manfaat utama circular economy bagi UMKM adalah penghematan biaya produksi dalam jangka panjang. Meskipun di awal mungkin diperlukan investasi seperti membeli kemasan ramah lingkungan atau sistem pengembalian kemasan maka biaya tersebut dapat terkompensasi seiring waktu.
Sebagai contoh, UMKM yang menjual minuman dapat menawarkan sistem botol isi ulang. Konsumen yang mengembalikan kemasan akan mendapatkan potongan harga. Skema ini tidak hanya mengurangi kebutuhan plastik sekali pakai, tetapi juga menciptakan loyalitas pelanggan. Dalam jangka panjang, pengeluaran untuk membeli plastik baru bisa ditekan secara signifikan.
3. Mengurangi Risiko Ketergantungan pada Plastik
Kenaikan harga plastik yang terjadi saat ini menunjukkan betapa rentannya UMKM terhadap ketergantungan pada satu jenis bahan baku. Circular economy membantu mengurangi risiko tersebut dengan mendorong diversifikasi material dan sistem produksi. Misalnya, pelaku usaha dapat mulai beralih ke kemasan berbasis kertas, daun, atau bahan biodegradable lainnya. Selain itu, limbah produksi juga bisa dimanfaatkan kembali, sehingga tidak terbuang sia-sia. UMKM juga tidak mudah terdampak oleh fluktuasi harga pasar apabila menggunakan circular economy dengan sistem yang lebih fleksibel.
Baca juga: MMT UMN Berinisiatif Bagikan Pengetahuan Seputar Sirkular Ekonomi
4. Meningkatkan Nilai Jual Produk
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, konsumen kini lebih selektif dalam memilih produk. UMKM yang menerapkan prinsip circular economy memiliki nilai tambah karena dianggap lebih peduli terhadap berkelanjutan. Hal ini bisa menjadi strategi diferensiasi di pasar. Ketika harga plastik naik dan banyak pelaku usaha menaikkan harga, UMKM yang mengadopsi sistem ramah lingkungan justru dapat menarik pelanggan baru. Konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga mendukung praktik bisnis yang bertanggung jawab.
5. Dampak Positif bagi Lingkungan dan Bisnis
Selain manfaat ekonomi, penerapan circular economy juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai membantu menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir maupun laut. Apalagi Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah plastik.
Bagi UMKM, langkah ini menjadi modal dalam membangun bisnis yang lebih tangguh dan relevan di masa depan. Pelaku usaha dapat berkontribusi terhadap solusi global sekaligus menekan biaya dengan mengadopsi ekonomi sirkular.
Kenaikan harga plastik yang terus terjadi merupakan sebuah pertanda bahwa model bisnis konvensional perlu diubah. UMKM tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada bahan sekali pakai yang rentan terhadap fluktuasi harga. Circular economy hadir sebagai solusi yang bisa membuka peluang baru dan membantu untuk menekan biaya operasional.
Langkah kecil seperti mengurangi penggunaan plastik, menerapkan sistem pakai ulang, dan memilih bahan alternatif, UMKM dapat bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan ekonomi. Ekonomi sirkular hadir sebagai kebutuhan untuk menciptakan bisnis yang lebih efisien, berkelanjutan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Kalau kamu tertarik mendalami isu seperti circular economy, sustainability, hingga inovasi bisnis ramah lingkungan, saatnya mulai langkahmu dari sekarang. Program studi di Universitas Multimedia Nusantara membuka peluang besar untuk kamu belajar, bereksperimen, dan berkontribusi langsung dalam solusi masa depan. Cari tahu lebih dalam mengenai informasi lengkap program studi, kurikulum, dan jalur pendaftaran sekarang juga melalui website resmi Universitas Multimedia Nusantara, dan siapkan dirimu jadi bagian dari generasi yang membawa perubahan!
By Reyvan Maulid | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




