Urgensi Keberadaan Narkotika di Kehidupan Pelajar Indonesia

Urgensi Keberadaan Narkotika di Kehidupan Pelajar Indonesia

badan narkotika nasional bnn anti narkoba Rony Patinasarani Foundation seminar umn universitas multimedia nusantara universitas terbaik di jakarta

Para Pembicara bersama Perwakilan Satuan Tugas Anti Narkoba dari Berbagai Kampus

TANGERANG – Indonesia dianggap sebagai pasar peredaran narkotika yang paling subur. Terlebih sejauh ini, sudah tercatat ada 11 negara yang memasukkan peredaran narkotika ke Indonesia. Demikian disampaikan Kepala Sub Bidang Pendidikan Badan Narkotika Nasional (BNN) Agus Sutanto dalam Seminar Anti Narkoba di Lecture Theatre UMN pada Rabu (7/11).

Dalam seminar ini, Kepala Sub Bidang Pendidikan Badan Narkotika Nasional (BNN) Agus Sutanto menyayangkan aspek penegakan hukum di Indonesia yang masih sangat lemah.

“Di sini (Indonesia), ada banyak pengangguran. Aspek penegakan hukum masih sangat lemah dan aparat dengan mudahnya dikendalikan oleh sindikat (pengedar narkoba),” ujar Agus.

Agus juga menjelaskan urgensi dari keberadaan narkotika di tengah kehidupan pelajar. Ia memaparkan bahwa pelajar dan mahasiswa adalah kelompok kedua terbanyak yang mengkonsumsi narkoba.

“Tercatat 59% orang yang mengkonsumsi narkoba berasal dari Kelompok Pekerja, sedangkan 24%-nya berasal dari kelompok Pelajar. Dengan kata lain, mayoritas pengguna narkoba merupakan kalangan produktif yang seharusnya masih berpendidikan dan berkarir,” papar Agus.

Bagi Negara, narkotika menimbulkan kerugian material hingga 8,47 triliun rupiah setiap tahunnya. Sedangkan bagi masyarakat, dampak paling terlihat dari konsumsi narkoba adalah masalah kesehatan dan kematian. Agus mengatakan, setiap hari terdapat 30 orang meninggal karena mengalami overdosis konsumsi narkotika.

badan narkotika nasional bnn anti narkoba Rony Patinasarani Foundation seminar umn universitas multimedia nusantara universitas terbaik di jakarta

(ki-ka) Agus Sutanto, Reza Nangin dan Andrew Jonathan

Baca juga : Peran Institusi Pendidikan Dalam Memerangi Narkoba

Data kematian akibat narkotika yang lebih mengejutkan juga disampaikan oleh perwakilan Rony Patinasarani Foundation Andrew Jonathan. Andrew menerangkan bahwa jumlah korban pengguna narkotika jauh lebih banyak dibandingkan korban bencana alam.

“Setiap tahunnya, narkotika melahirkan korban sebanyak 18.250 individu, angka yang jauh lebih banyak dari korban bencana alam yang hanya sebanyak 3.800 individu setiap 5 tahun,” terang Andrew.

Faktor lain yang memperburuk kondisi ini adalah adanya kecenderungan masyarakat untuk memberikan stigma buruk kepada para pengguna dan mantan pengguna narkotika. Agus mengaku, sering menemukan banyak orang tua yang enggan membawa anaknya yang menjadi korban penggunaan narkotika, hingga akhirnya mereka terlanjur mengalami kondisi yang sangat buruk.

“Masyarakat Indonesia masih menganggap aib apabila salah satu anggota keluarganya meninggal atau terkena narkotika,” ujar Agus.

badan narkotika nasional bnn anti narkoba Rony Patinasarani Foundation seminar umn universitas multimedia nusantara universitas terbaik di jakarta

(ki-ka) Citra, Agus Sutanto, Reza Nangin dan Andrew Jonathan

Pada kesempatan yang sama, Manager of Internal Student Affairs UMN Citra Andika mengatakan bahwa UMN sudah aktif bekerja sama dengan BNN untuk menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari narkoba. Hal ini, terlihat dengan diadakannya random check di kampus dalam kurun waktu tertentu.

“Jadi, teman-teman disini jangan pernah takut, sama BNN, sama UMN, saat random check. It’s Okay Not To Be Okay, bukan It’s Okay apabila kalian memakai narkoba. Selalu ada pesan, selalu ada hikmah dibalik setiap ke-enggak-okean kita,” kata Citra.

Sementara itu, perwakilan Duta Anti Narkoba UMN 2017 Agnes Tahir Purba juga mengatakan bahwa pemilihan tema Its Okay Not To Be Okay dilatarbelakangi oleh kecenderungan anak muda yang kini dapat dengan mudah terjerumus ke dalam dunia narkotika karena alasan pergaulan dan penerimaan sosial.

“Maksud dari seminar ini adalah kita ingin teman-teman sebagai generasi penerus bangsa, sama-sama melawan penyalahgunaan dan peredaran narkoba, terutama di lingkungan kampus. Generasi yang cerdas adalah generasi yang bebas narkoba dan menjunjung prestasi,” tutup Agnes.

Seminar Duta Anti Narkoba merupakan rangkaian acara pemilihan Duta Anti Narkoba UMN Generasi ke-3. Mengambil tema Its Okay Not To Be Okay, seminar ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Kepala Sub Bidang Pendidikan Badan Narkotika Nasional (BNN) Agus Sutanto, Mantan Pengguna Narkotika sekaligus Public Figure Reza Nangin dan perwakilan Rony Patinasarani Foundation Andrew Jonathan. Turut hadir dalam Seminar ini perwakilan satuan tugas (satgas) anti narkoba dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan para finalis duta anti narkoba UMN 2018. (MB/CRA)

 

*by Mario Baskoro – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan | International Program, di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id