Peran Institusi Pendidikan Dalam Memerangi Narkoba

Peran Institusi Pendidikan Dalam Memerangi Narkoba

badan narkotika nasional bnn anti narkoba Rony Patinasarani Foundation seminar umn universitas multimedia nusantara universitas terbaik di jakarta

Para Pembicara Bersama Duta Anti Narkoba UMN

TANGERANG – Institusi pendidikan harus bersinergi dengan Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, Masyarakat, dan Keluarga untuk terlibat aktif dalam memberdayakan masyarakat, khususnya kalangan pelajar, agar memiliki kemampuan, pola pikir dan sikap yang terampil untuk memerangi narkoba. Hal tersebut disampaikan Kepala Sub Bidang Pendidikan Badan Narkotika Nasional (BNN) Agus Sutanto dalam Seminar Anti Narkoba di Lecture Theatre UMN pada Rabu (7/11).

Pada kesempatan tersebut, Agus menjelaskan bahwa upaya memerangi narkoba dapat dimulai dengan menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari potensi-potensi keberadaan narkoba, seperti melakukan promosi hidup sehat tanpa narkoba melalui pembentukan komunitas penggiat anti narkoba.

“Keberadaan penggiat anti narkoba memiliki posisi penting untuk melakukan komunikasi dan sosialisasi prinsip hidup sehat tanpa narkoba melalui berbagai media di lingkungan kampus. Contoh konkret di UMN adalah Pemilihan Duta Anti Narkoba,” jelas Agus.

Agus mengingatkan, kegiatan-kegiatan pendidikan anti narkoba di kampus perlu diiringi dengan kebijakan dan alokasi anggaran yang tepat. “Hal ini penting, supaya kegiatan pencegahan narkoba di kampus dapat terus berkelanjutan,” kata Agus.

badan narkotika nasional bnn anti narkoba Rony Patinasarani Foundation seminar umn universitas multimedia nusantara universitas terbaik di jakarta

(ki-ka) Agus Sutanto, Reza Nangin dan Andrew Jonathan

Baca juga : FGD: Forum Diskusi Anti Narkoba Bersama Satgas Kampus Se-Jakarta-Banten

Selain institusi pendidikan, keluarga juga memiliki peran penting dan menjadi tangan pertama yang mengedukasi generasi muda agar jauh dari narkoba. Hal ini ditegaskan oleh Mantan Pengguna Narkoba sekaligus Public Figure Reza Nangin.

Reza menceritakan pengalaman hidupnya saat terjerumus ke dalam dunia kelam tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kehancuran dan hilangnya kasih sayang keluarga bisa menjadi gerbang yang terbuka lebar bagi seseorang untuk semakin berpotensi mengonsumsi narkoba.

“Karena kita tahu, kalau misalnya anak di rumah sudah merasakan kasih sayang yang puas, dia enggak bakalan cari di luar. Dia enggak akan cari perhatian dari narkoba untuk dipakai, karena dia sudah mendapatkan semuanya di rumah,” ungkap Reza.

Baca juga : Urgensi Keberadaan Narkotika di Kehidupan Pelajar Indonesia

Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan Rony Patinasarani Foundation Andrew Jonathan. Ia mengatakan rasa senang yang ditimbulkan oleh narkoba sesungguhnya sama dengan ketika seseorang merasakan cinta dari orang tua dan keluarga.

“Narkoba itu akan mengeluarkan salah satu zat di otak, yaitu zat rasa senang. Sebetulnya, di saat kalian peluk orang tua kalian di rumah, rasa senangnya, rasa enaknya, sama bahkan jauh lebih enak daripada yang kita dapat dari konsumsi narkoba,” kata Andrew.

badan narkotika nasional bnn anti narkoba Rony Patinasarani Foundation seminar umn universitas multimedia nusantara universitas terbaik di jakarta

Mantan Pengguna Narkotika sekaligus Public Figure Reza Nangin

Selain melalui institusi pendidikan dan keluarga, upaya menjauhkan generasi muda dari narkoba juga tidak terlepas dari kesadaran diri sendiri. Terkait hal ini, Reza Nangin mengingatkan untuk jangan sampai merasa bahwa dirinya tidak berharga di mata Tuhan dan orang lain, agar nantinya mereka bisa mengetahui tujuan hidup masing-masing.

“Mengetahui tujuan hidup adalah langkah awal yang baik dari dalam diri sendiri agar terjauh dari narkoba. Ternyata gua lahir itu bukan kebetulan. Hal itu yang membuat gua mengerti bahwa ternyata gua ada di dunia ini, karena ada maksud dan tujuan tertentu. Karena enggak mungkin ada ciptaan (Tuhan) yang diciptakan tanpa tujuan,” kata Reza.

Reza menambahkan, mengetahui tujuan hidup hampir sama dengan mengetahui tujuan dari sebuah alat, yaitu dengan cara membaca manual book dan bertanya pada orang yang menciptakan alat tersebut. “Setiap kita, setiap agama, punya Kitab Suci, itulah manual book kita. Setelah kita baca, lalu kita berdoa, berbicara sama yang sudah menciptakan kita,” tutup Reza. (MB/CRA)

 

*by Mario Baskoro – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan | International Program, di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id