Pentingnya RedHat Enterprise di Era Digitalisasi

Pentingnya RedHat Enterprise di Era Digitalisasi

Webinar “Pentingnya Red Hat Enterprise Linux di Era Digitalisasi & Pandemi Corona” (dok. UMN)

TANGERANG – Teknik Komputer Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengadakan Webinar bertajuk “Pentingnya Red Hat Enterprise Linux di Era Digitalisasi & Pandemi Corona” bersama Red Hat Indonesia pada Kamis (14/5).

Sesi Webinar “Pentingnya Red Hat Enterprise Linux di Era Digitalisasi & Pandemi Corona” (dok. UMN)

Hadir sebagai pembicara; Aditya Nugraha selaku Solution Architect Red Hat Indonesia (holds highest ‘Middleware’ certificate in Indonesia), Paul Kristandi selaku Solution Architect Manager Red Hat Indonesia, David Wijaya selaku Business Development Manager GLS Red Hat Indonesia, dan Dareen K. Halim selaku Dosen System Administration Teknik Komputer UMN, serta Samuel Hutagalung selaku Ketua Prodi Teknik Komputer UMN yang bertugas sebagai moderator.

Pada awal sesi, Aditya Nugraha menjelaskan bahwa penggunaan software TI dibagi menjadi dua kategori, yaitu enterprise dan non-enterprise.

“Enterprise biasanya digunakan dalam perusahaan startup, perbankan, finansial, telekomunikasi, dan militer. Sedangkan non-enterprise biasanya digunakan mahasiswa untuk belajar, tugas kuliah, project pribadi, project sementara, dan komersil kecil menengah,” jelas Adit, sapaannya.

Lebih lanjut, ia mengenalkan Red Hat dan fungsinya. Red Hat merupakan salah satu perusahaan terkenal dengan dedikasinya perangkat terbuka (open source). Open source adalah istilah yang digunakan untuk software (perangkat lunak) yang membuka atau membebaskan source code-nya agar dapat dilihat oleh penguna dan membiarkan pengguna melihat cara kerja dari software tersebut.

“Perangkat terbuka atau Open Source selalu berkaitan dengan sesuatu yang cuma-cuma atau gratis. Namun, sebenarnya pengertian membuka kode aplikasi harus mendapatkan izin dari yang membuat. Biasanya dibuka karena untuk komersil dan pembelajaran. Kode terbuka free apa tidak tergantung pada pihak penyedia,” jelas Adit.

Open source dapat menyebar melalui jaringan dan menumbuhkan komunitas baru. Komunitas di sini berfungsi sebagai pemecah masalah.

Open Source mengalami banyak inovasi dan melahirkan komunitas baru dalam berbagai bidang proyek software, contohnya data dan analisis, mobile, management dan automation, platform service, infrastruktur dan cloud.

Aditya juga menjelaskan model pengembangan produk dari Red Hat yang berfungsi sebagai partisipan yang mengatur produk open resource dalam komunitas dan mengintegrasikan produk yang berbeda. Red Hat juga memastikan sertifikasi produk, meng-instal dan memastikan produk dapat berjalan dalam perangkat.

Beberapa fitur Red Hat Enterprise Linux yang juga dijelaskan adalah inovasi dari open source dengan dukungan enterprise, memiliki sertifikasi Common Criteria dan FIPS 140-2, keamanan yang tinggi, masa lifecycle yang lebih panjang hingga 10 tahun, dukungan repository yang luas, dan standar bersertifikasi untuk lingkungan virtual.

Sesi Webinar “Pentingnya Red Hat Enterprise Linux di Era Digitalisasi & Pandemi Corona” (dok. UMN)

Sementara itu, David Wijaya mengungkapkan bahwa tren teknologi industri TI sedang digandrungi, mulai dari blockchain, e-commerce, containers, hingga microservices.

Mengingat banyak pekerja Teknologi Informasi yang diincar oleh perusahaan, ia juga memaparkan peran pekerja TI secara umum, seperti programmer, UX designer, Data Scientist, Infrastruktur, dan Managerial. Masing-masing peran memilki pekerjaan yang berbeda. Dalam bekerja, peran pekerja TI dapat dikategorikan ke dalam beberapa tingkatan sesuai dengan sertifikasi kemampuannya.

David mengungkapkan berbagai peluang dalam dunia teknologi informasi. Menurutnya, Artificial Intelegence akan menjadi masa depan era digital, sehingga mahasiswa jurusan Teknologi Informasi harus mulai membuat perencanaan karier dengan tujuan memahami diri untuk melengkapi hard skill dan soft skill.

“Mahasiswa perlu menaruh kontribusi di open source project dengan tujuan membuat portofolio. Alangkah baiknya jika mempunyai komunitas untuk meningkatkan reputasi. Hal yang terpenting adalah sertifikasi dengan tujuan meningkatkan standar kemampuan profesional,” tutup David. (ABA/CRA)

 

*by Adonia Bernike Anaya – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi InformatikaSistem Informasi Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | ManajemenKomunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan | International Program, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id