
Sadari Pentingnya Komunikasi Berkelanjutan bagi Masa Depan, UMN Turut Ambil Peran
Agustus 28, 2026
Prospek Kerja Lulusan Sistem Informasi UMN: Pilihan Karier Menjanjikan di Era Digital
Agustus 28, 2026
Ilustrasi public speaker (Sumber Gambar: Unsplash/Kane Reinholdtsen)
Di era media sosial, banyak orang menganggap keberhasilan komunikasi diukur dari jumlah views, likes, atau seberapa sering sebuah konten dibagikan. Padahal, sebuah pesan yang viral belum tentu mampu mengubah cara berpikir maupun perilaku audiens. Di sinilah letak perbedaan antara komunikasi yang hanya mengejar popularitas dengan komunikasi yang benar-benar memberikan dampak. Menurut Irwan Fakhrudin, Sekretaris Program Studi Strategic Communication UMN, komunikasi tidak berhenti pada penyampaian pesan. Tujuan akhirnya adalah menciptakan perubahan yang positif bagi masyarakat.
“Kalau dulu komunikasi lebih banyak sekadar informing, sekarang harus moving people. Jadi bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi membuat orang mau bergerak.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi saat ini tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang melihat pesan, melainkan dari seberapa besar pesan tersebut mampu memengaruhi tindakan audiens.
1. Viral Belum Tentu Berdampak
Media sosial membuat informasi menyebar dalam hitungan detik. Banyak konten menjadi viral karena lucu, kontroversial, atau memancing emosi. Namun, popularitas tersebut sering kali hanya bertahan sesaat. Irwan menjelaskan bahwa lanskap komunikasi telah berubah. Dahulu komunikasi berlangsung secara top-down, di mana perusahaan atau institusi menyampaikan pesan dan audiens menerimanya.
Kini, audiens memiliki ruang untuk berdiskusi, mengkritik, hingga memverifikasi informasi secara horizontal melalui komunitas maupun media sosial. Akibatnya, komunikator tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi yang menarik. Mereka harus mampu membuktikan bahwa pesan yang disampaikan sesuai dengan kenyataan.
“Sekarang orang tidak cukup hanya mendengar cerita sebuah brand. Mereka ingin melihat apa yang benar-benar dilakukan.”
Karena itu, komunikasi yang berdampak selalu dibangun di atas kredibilitas, transparansi, dan tindakan nyata.
2. Clarity Menjadi Fondasi Komunikasi
Salah satu konsep yang paling ditekankan Irwan adalah clarity atau kejelasan pesan. Menurutnya, komunikasi yang efektif selalu dimulai dari pesan yang mudah dipahami oleh audiens.
“Yang harus kita lihat pertama adalah clarity of information. Tergantung kejelasan pesan, kesesuaian media yang dipilih, dan pemahaman terhadap audiens.”
Pesan yang jelas bukan berarti sederhana untuk semua orang. Kejelasan justru lahir ketika komunikator memahami siapa audiensnya. Bahasa, contoh, visual, bahkan platform yang digunakan harus disesuaikan dengan karakter penerima pesan.
Sebagai contoh, gaya komunikasi yang efektif untuk Generasi Z belum tentu relevan bagi generasi yang lebih senior. Karena itu, memahami audiens menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi komunikasi.
3. Komunikasi yang Baik Mengubah Perilaku
Dalam pandangan Irwan, komunikasi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan informasi. Komunikasi dapat membentuk kebiasaan, budaya, bahkan peradaban.
“Peran komunikasi sebenarnya ada di membangun perilaku yang positif. Ketika perilaku positif dilakukan oleh banyak orang, itu akan menjadi budaya.”
Inilah alasan mengapa praktisi komunikasi memiliki tanggung jawab besar. Pesan yang dirancang dengan baik mampu menggerakkan masyarakat menuju perubahan positif. Sebaliknya, komunikasi yang disalahgunakan juga dapat menciptakan persepsi keliru dan memengaruhi publik secara negatif.
Karena itu, seorang komunikator tidak cukup hanya kreatif membuat konten. Ia juga harus memahami dampak jangka panjang dari setiap pesan yang dipublikasikan.
4. Dunia Membutuhkan Komunikator yang Menjadi Problem Solver
Menurut Irwan, tantangan komunikasi masa depan bukan lagi sekadar menghasilkan konten yang menarik. Industri membutuhkan komunikator yang mampu memahami persoalan, membangun strategi, dan menawarkan solusi. Kemampuan teknis memang penting, tetapi tidak cukup. Empati, etika, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman terhadap konteks sosial menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.
Hal inilah yang menjadi salah satu fokus pembelajaran di Program Studi Strategic Communication UMN, yaitu membentuk lulusan yang tidak hanya mampu mengeksekusi komunikasi, tetapi juga menjadi problem solver bagi berbagai tantangan di masyarakat maupun dunia industri.
5. Saatnya Beralih dari Viral ke Berdampak
Di tengah derasnya arus informasi digital, mengejar viralitas memang terlihat menggiurkan. Namun, komunikasi yang hanya berhenti pada perhatian sesaat akan cepat dilupakan. Sebaliknya, komunikasi yang memiliki tujuan jelas, memahami audiens, disampaikan dengan clarity, dan didukung tindakan nyata akan meninggalkan pengaruh yang jauh lebih besar. Pada akhirnya, keberhasilan komunikasi bukan diukur dari seberapa ramai orang membicarakannya, tetapi dari perubahan positif yang berhasil diciptakannya.
Ingin mendengar pembahasan lengkap langsung dari Irwan Fakhrudin? Saksikan perspektif selengkapnya melalui obrolan di kanal YouTube Universitas Multimedia Nusantara dan temukan berbagai insight mengenai komunikasi, sustainability, dan kompetensi yang dibutuhkan praktisi komunikasi di masa depan.
By Reyvan Maulid | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




