Webinar UMN: Lawan Disinformasi via Telepon Genggam

Webinar UMN: Lawan Disinformasi via Telepon Genggam

Webinar “Using Mobile Phones to Fight Disinformation” (dok. UMN)

TANGERANG – Fakultas Ilmu Komunikasi  (FIKOM) Universitas Multimedia Nusantara mengadakan Webinar bertajuk “Using Your Mobile Phones to Fight Disinformation” pada Rabu (6/5). Seminar ini  bertujuan untuk menambah pengetahuan seputar cara memerangi  disinformasi menggunakan telepon genggam. Pengetahuan yang dibagikan adalah seputar ilmu dasar digital fact-checking. 

Narasumber Webinar, F.X Lilik Dwi Mardjianto, MA (dok. UMN)

Narasumber Webinar ini adalah Dosen mata kuliah Digital Fact Checking Jurnalistik UMN yaitu, F.X Lilik Dwi Mardjianto, MA. Lilik juga merupakan Ketua Prodi Jurnalistik UMN. Webinar ini dimoderatori oleh Veronica Kaban, M.Si selaku dosen Mobile and Social Media Journalism UMN. 

Di awal sesi webinar, Lilik banyak mengemukakan data mengenai penggunaan internet lewat telepon genggam. Menurut hasil riset Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) pada tahun 2018, penetrasi penggunaan internet indonesia mencapai 171,17 Juta Jiwa dari total populasi penduduk Indonesia. 

Sebagian besar pengguna internet memakai internet untuk  komunikasi lewat pesan. Penggunaan internet paling banyak smartphone untuk mengakses internet. Indonesia termasuk ke dalam negara yang mobile internet oriented tertinggi di dunia.

Lilik juga membahas mengenai istilah Fake News yang sering dimaknai sebagai berita bohong.  

“Istilah ini dikeluarkan dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menyerang media pemberitaan. Sehingga beberapa jurnalis sudah tidak menggunakan istilah Fake News.” ungkap Lilik. 

Di kesempatan yang sama, Lilik juga mengungkapkan apa perbedaan Disinformasi, Misinformasi dan Mal-informasi.

Disinformasi adalah informasi palsu yang disebarkan dengan unsur kesengajaan untuk menipu. Misinformasi adalah informasi yang direkayasa dan disebarkan dengan tidak sengaja. Sedangkan, Mal-informasi adalah informasi yang  memang memiliki unsur kebenaran namun penyajiannya dikemas sedemikian rupa untuk melakukan tindakan yang merugikan beberapa pihak. 

Selain itu, Lilik menjelaskan ada banyak jenis Disinformasi, Misinformasi dan Mal-informasi. Beberapa diantaranya adalah konten yang menyesatkan, konten tiruan, konten salah, konten yang dimanipulasi  dan koneksi yang salah. 

Dalam melakukan fact checking, Lilik mengungkapkan  ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sumber (Source), (Who) yang memuat unsur siapa, (Textual Content) konten berupa teks dan (Visual Content) atau Gambar.

Anatomi Konten dibagi menjadi dua jenis yaitu  visual disertai teks dan teks saja. Visual disertai teks dibagi lagi menjadi konten mencurigakan disertai link, konten mencurigakan disertai sumber yang terkenal dan tidak disertai link ataupun sumber. 

Cara meneliti konten yang benar dan palsu adalah dengan mengelompokan konten berdasarkan anatomi. Berbeda konten berbeda cara yang digunakan untuk mengungkap dan menemukan kebenaran. 

Pada akhir sesi, Lilik membagikan cara meneliti konten yang tersebar di jaringan sosial. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menerapkan Literasi Sumber Berita Digital (Digital Source Literacy). 

“Kita dapat memverifikasi kebenaran sebuah konten dari sebuah website dengan memasukan kode url dari sebuah tautan portal berita. Hal ini cukup mudah dilakukan untuk menunjang literasi digital” jelas Lilik. 

Lilik yang menyarankan beberapa situs untuk melakukan verifikasi sebuah konten seperti who.is dan domainbigdata.com.  Jika konten berita berupa gambar dan sedikit tulisan (Suspicious content Reverse Image) kita dapat membandingkan gambar dan melihat sumber berita yang menggunakan gambar yang sama. 

Veronica Kaban selaku moderator menyimpulkan terkadang banyak orang lebih mementingkan informasi yang lebih tren dan viralitas dibanding klarifikasi data dan muatan dalam konten informasi. 

“Kesadaran masyarakat akan pentingnya verifikasi perlu diperbaiki oleh sebab itu pentingnya mempelajari bagaimana mengecek fakta secara sederhana.” ungkap Veronica Kaban mengakhiri Webinar. (ABA/RK)

 

*by Adonia Bernike Anaya – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi InformatikaSistem Informasi Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | ManajemenKomunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan | International Program, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id