Mengajar Sejarah Komunikasi, Siapa Takut?

Mengajar Sejarah Komunikasi, Siapa Takut?

Ignatius Haryanto dalam Webinar “Mengajar Sejarah Komunikasi, Siapa Takut?” (dok.UMN)

TANGERANG – Sejarah merupakan bagian tak terpisahkan dari seluruh aspek hidup setiap orang. Melihat pentingnya meneruskan sejarah kepada setiap generasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (FIKOM UMN) mengadakan Webinar bertajuk “Mengajar Sejarah Komunikasi, Siapa Takut?” pada Rabu (22/7) yang dibawakan oleh Ignatius Haryanto (Dosen Sejarah Jurnalistik FIKOM UMN) sebagai pembicara dan ditemani oleh Muhamad Heychael (Dosen Filsafat dan Etika Komunikasi FIKOM UMN) sebagai moderator.

Masa lalu merupakan momen hidup yang telah berlalu. Namun, yang telah berlalu bukan berarti harus dilupakan, melainkan harus diketahui dan disebarkan dari generasi ke generasi. Jurnalistik atau pers Indonesia juga mempunyai sejarahnya tersendiri di masa lalu. Sejarah itulah yang juga menjadi cikal-bakal terbentuknya hidup pers dan jurnalistik Indonesia pada saat ini.

“Umumnya, mahasiswa mengatakan bahwa ada terlalu banyak yang harus dihafal sehingga mereka tidak suka dengan sejarah. Harus menghafal nama, menghafal tahun, menghafal tempat,” kata Ignatius yang juga akrab disapa ‘Mas Ighar’ ini.

Ketika mengajar, Ignatius mengatakan bahwa ia lebih menekankan bahwa belajar sejarah bukanlah tentang menghafal, melainkan lebih untuk memahami masalah yang terjadi pada zamannya. Ia juga menggunakan gambar-gambar dan ilustrasi yang relevan dengan momen sejarah yang terjadi.

“Kemudian kita juga bisa membicarakan topik tentang hoaks dalam sejarah pers Indonesia. Hoaks ini ya ternyata sudah ada di masa orde lama ada, di masa orde baru pun ada,” tambahnya.

Karikatur, salah satu bentuk materi yang menarik untuk menyampaikan sejarah. (dok.UMN)

Menurutnya, menceritakan tentang masa lalu juga lebih baik jika mempunyai bahan-bahan yang banyak sehingga banyak referensi. Selain itu, akan lebih baik apabila mengundang jurnalis senior sehingga mahasiswa juga dapat berinteraksi dan berdiskusi lebih jauh. Dalam mengajar sejarah, bisa memanfaatkan literatur dari berbagai sumber, bisa  juga dari video pendek, ataupun gambar-gambar ilustrasi. Baginya, games juga sesekali dapat dimanfaatkan dalam mengajar seperti contohnya debat antar kelompok, dan lain-lain.

“Yang penting untuk diingat, sejarah punya keunikan dalam ceritanya. Menggambarkan persoalan yang dihadapi, konteks masalah yang dihadapi, dan mewakili semangat zaman pada waktu itu,” lanjutnya.

Ignatius juga mengatakan bahwa kiranya kita jangan terjebak dalam detil sejarah yang mengasyikkan tetapi kita juga perlu memperhatikan apa pesan yang ingin disampaikan dari suatu peristiwa sejarah. Baginya pula, belajar mata kuliah Sejarah Jurnalistik bukan untuk memberi pengaruh secara langsung terhadap skill mahasiswa namun lebih kepada menambah wawasan dan pengetahuan para mahasiswa jurnalistik yang juga merupakan calon jurnalis-jurnalis di masa depan.

“Sejarah bukan semata-mata bicara tentang masa lalu, tetapi masa lalu yang ada kaitannya dengan hari ini,” tegasnya. (VM/SN)

by Virino Miracle – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi  Informatika | Sistem Informasi  | Teknik Komputer  | Teknik Elektro  | Teknik Fisika  | Akuntansi  | Manajemen | Komunikasi Strategis  | Jurnalistik  | Desain Komunikasi Visual  | Film dan Animasi  | Arsitektur  | D3 Perhotelan  | Program Internasional , di  Universitas Multimedia Nusantara . www.umn.ac.id