
Merajut Karier Lintas Negara, Informatika UMN Buka Peluang Magang Global bersama HENNGE, Jepang
September 7, 2026
FIKOM UMN dan Manila Central University Siapkan Kolaborasi Lintas Negara
September 10, 2026Berawal dari Rasa Penasaran, Mahasiswa DKV UMN Raih Best Animation Award di Kompetisi Projection Mapping Internasional

Tim Ashbun Production yang terdiri dari Lim Kentzhu (kiri), Paulus Winata (tengah), dan Naomi Angeline (kanan) saat menerima penghargaan Best Animation Award dalam Terang Projection Mapping Competition di George Town, Penang, Malaysia. (dok. Paulus Winata)

Tim Ashbun Production yang terdiri dari Lim Kentzhu (kiri), Paulus Winata (tengah), dan Naomi Angeline (kanan) saat menerima penghargaan Best Animation Award dalam Terang Projection Mapping Competition di George Town, Penang, Malaysia. (dok. Paulus Winata)
TANGERANG – Setiap orang punya pengalaman pertama dalam mencoba sesuatu yang baru. Bagi Kentzhu Lim, Naomi Angeline, dan Paulus Winata, pengalaman pertama mereka dalam merancang karya projection mapping justru membawa mereka hingga ke panggung internasional. Tiga mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tahun angkatan 2023 yang tergabung dalam Ashbun Production berhasil masuk sebagai 20 besar finalis “Terang Projection Mapping Competition” di George Town, Penang, Malaysia, melalui karya berjudul “A Shared Horizon”, yang kemudian meraih Best Animation Award.
Projection mapping merupakan teknik menampilkan visual atau animasi yang disesuaikan dengan bentuk permukaan tertentu, seperti bangunan atau objek. Terang Projection Mapping merupakan kompetisi projection mapping internasional yang diselenggarakan oleh Filamen di Malaysia dan ditujukan bagi siswa, mahasiswa, serta sejumlah artist yang diundang. Rangkaian open submission berlangsung pada 10 Mei-18 Juli 2026, sementara pameran finalis, penjurian, dan seremoni berlangsung pada 1–9 Agustus 2026 di George Town, Penang, Malaysia.
Perjalanan tersebut bermula dari rasa penasaran. Ketiga mahasiswa DKV UMN sebelumnya telah beberapa kali bekerja sama dalam tugas kelompok perkuliahan. Dalam proses tersebut, Naomi dan Kentzhu kerap berfokus pada aset ilustrasi, sedangkan Paulus memiliki fokus pada animasi. Ketika melihat open call artist dari Filamen untuk mengikuti kompetisi projection mapping, mereka melihat kesempatan untuk membawa kemampuan yang selama ini mereka miliki ke sebuah medium yang belum pernah mereka kerjakan secara langsung.
Meski terdapat mata kuliah yang membahas projection mapping, ketiganya belum pernah mendesain karya dengan medium tersebut. Pengalaman membuat ilustrasi dan animasi sebelumnya membuat mereka merasa memiliki bekal untuk mencoba, sekaligus mendorong mereka untuk mengetahui sejauh mana kemampuan tersebut dapat diterapkan pada medium yang baru bagi mereka.
“Yang membuat kami tertarik dalam mengerjakan proyek ini adalah rasa penasaran kami untuk mencoba mengikuti dan mendesain sebuah projection mapping. Meskipun terdapat mata kuliah yang membahas projection mapping, kami bertiga belum pernah mendesain medium tersebut,” kata Paulus.

Karya A Shared Horizon karya Ashbun Production yang ditampilkan melalui projection mapping dalam rangkaian “George Town Festival” di Penang, Malaysia. (dok. Paulus Winata)
Bagi ketiga mahasiswa tersebut, keputusan mengikuti kompetisi juga didasari oleh keyakinan terhadap kemampuan yang telah mereka miliki. Pengalaman membuat ilustrasi dan animasi sebelumnya membuat mereka merasa memiliki bekal untuk mencoba projection mapping, meskipun belum pernah secara langsung mengerjakan medium tersebut.
Proses pengerjaan “A Shared Horizon” diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah bulan, di tengah aktivitas perkuliahan dan berbagai tugas yang tetap harus mereka jalani. Memasuki tahap pengembangan konsep, tema “Pasar” yang diberikan Filamen menjadi titik awal bagi ketiganya. Mereka kemudian menghubungkan tema tersebut dengan karakter Penang yang dikenal dengan kekayaan budaya hasil akulturasi Peranakan.
Melalui “A Shared Horizon”, Ashbun Production mengeksplorasi perpaduan identitas Melayu dan Tionghoa melalui representasi naga dan harimau. Kedua karakter tersebut dipertemukan di pasar sebagai ruang pertukaran, interaksi, dan pertemuan budaya. Dari pertemuan tersebut, mereka menggambarkan proses interaksi hingga menyatunya dua identitas yang melambangkan lahirnya budaya Peranakan sebagai identitas baru.
Dalam proses produksinya, ketiganya membagi tanggung jawab sesuai dengan kemampuan masing-masing. Naomi mengerjakan ilustrasi karakter dan objek, Kentzhu mengembangkan ilustrasi environment serta background, sedangkan Paulus menangani animasi dan motion. Pembagian tersebut memungkinkan setiap anggota berkontribusi melalui bidang yang telah menjadi kekuatan masing-masing.

Tim Ashbun Production yang terdiri dari Lim Kentzhu (kiri), Paulus Winata (tengah), dan Naomi Angeline (kanan) saat menerima penghargaan Best Animation Award dalam Terang Projection Mapping Competition di George Town, Penang, Malaysia. (dok. Paulus Winata)
Dari sisi pembimbing, kekuatan tim tidak hanya terletak pada kemampuan teknis. Dosen DKV UMN, Jupiter Natanael S.Ds., M.M., melihat ketiganya sebagai mahasiswa yang memiliki inisiatif, produktif, dan aktif mencari peluang. Kemampuan tersebut kemudian dipadukan dengan pengalaman Paulus dalam motion design serta kemampuan Naomi dan Kentzhu dalam menciptakan aset visual yang dapat berkoordinasi dengan animasi.
“Pada dasarnya mereka adalah kelompok mahasiswa yang sangat inisiatif, produktif dan suka mencari peluang. Kalau untuk menjawab gimana sih mereka bisa meraih Best Animation Award, anggota kelompok ini terutama Paulus sudah sangat berpengalaman dalam dunia animasi terutama di motion design, namun kinerja Naomi dan Kentzu yang mampu menciptakan asset yang mampu berkoordinasi dengan baik lewat animasinya juga patut diberikan jempol,” kata Jupiter.
Selain kemampuan teknis, karakter kompetitif menjadi salah satu hal yang dinilai menonjol dari ketiganya. Standar yang tinggi dalam menghasilkan karya membuat mereka terus memperhatikan kualitas hasil akhir. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan tugas, mereka juga tetap menyisihkan waktu untuk mengerjakan aset kompetisi.
Karakter tersebut terlihat dalam proses pengembangan animasi “A Shared Horizon”. Tim tidak hanya menggerakkan elemen utama, tetapi juga memberikan perhatian pada detail-detail kecil melalui mikro-animasi. Mereka memastikan berbagai aset visual tetap bergerak sekaligus memperhatikan continuity dan flow sejak tahap storyboard agar keseluruhan animasi dapat mendukung storytelling.
“Kami cukup memperhatikan detail animasi, termasuk mikro-animasi pada berbagai elemen visual. Seluruh aset visual dalam karya ini kami buat untuk tidak berhenti bergerak. Kami juga memperhatikan continuity dan flow terlebih pada saat perancangan storyboard agar membantu menyampaikan storytelling lebih kuat dalam karya,” jelas Paulus.
Kemampuan tersebut tidak berdiri sendiri. Bagi Paulus, proses pembelajaran di DKV UMN memberikan sejumlah bekal yang kemudian dapat diterapkan ketika mereka mengerjakan proyek tersebut. Berbagai mata kuliah memperkenalkan mahasiswa pada software dan kemampuan yang berbeda, sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk menemukan bidang serta perangkat yang paling sesuai dengan proses kreatif mereka.
Pengalaman bekerja dalam kelompok juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Berbagai tugas perkuliahan yang dikerjakan secara berkelompok membuat mahasiswa terbiasa membagi pekerjaan dan berkolaborasi secara efisien. Pengalaman tersebut kemudian terbawa ketika ketiganya harus mengerjakan karya untuk kompetisi.
“Banyak tugas-tugas DKV UMN yang memerlukan kerja sama dengan kelompok sehingga memudahkan kita dalam bekerja sama dalam tim secara efisien karena sebelum-sebelumnya juga banyak mengerjakan tugas secara berkelompok,” ungkap Paulus.

Sejumlah aset visual yang dikembangkan Ashbun Production untuk karya “A Shared Horizon”, mulai dari karakter, objek, hingga environment yang menjadi bagian dari keseluruhan visual projection mapping. (dok. Paulus Winata)
Dari perspektif pembelajaran, sejumlah mata kuliah di DKV UMN juga memiliki keterkaitan langsung dengan proses pembuatan “A Shared Horizon”. “Computer Graphic Design” membekali mahasiswa untuk membuat aset menggunakan Adobe Illustrator, “Visual Communication Design” (VCD) membantu proses pengembangan konsep, “Digital Media” memberikan dasar dalam pembuatan animasi, sedangkan “Immersive Design” memperkenalkan mahasiswa pada proses yang berkaitan dengan projection mapping.
Menurut Jupiter, kurikulum DKV UMN juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan konsep dan kemampuan berpikir kreatif. Proses tersebut didukung melalui diskusi, pengumpulan data, asistensi, serta arahan dalam proses pembuatan karya. Sementara itu, mahasiswa yang telah berada di semester enam hingga tujuh dinilai sudah memiliki kemampuan teknis yang cukup untuk mengembangkan karya secara lebih mandiri.
Ketika nama “A Shared Horizon” diumumkan sebagai salah satu dari 20 finalis, pengalaman tersebut menjadi titik penting bagi ketiganya. Status finalis berarti karya yang mereka kerjakan selama sekitar satu setengah bulan akan ditampilkan secara umum dalam rangkaian “George Town Festival” dan disaksikan oleh ribuan penonton.
Bahkan, sebelum berangkat ke Penang, mereka beberapa kali menemukan karya tersebut dibagikan oleh orang lain melalui media sosial. Bagi mereka, hal tersebut menjadi pengalaman yang semakin memperlihatkan bahwa karya yang awalnya dibuat dari rasa penasaran telah mulai menjangkau audiens di luar lingkungan mereka.
Berada di antara finalis dari berbagai negara juga menjadi kesempatan belajar bagi Ashbun Production. Mereka melihat bahwa sejumlah finalis lain telah memiliki pengalaman dalam kompetisi projection mapping. Pengalaman tersebut membuat mereka dapat melihat secara langsung bagaimana karya dengan medium yang sama dikembangkan oleh peserta yang lebih berpengalaman.
“Kami benar benar kagum dengan karya-karya dari peserta lain. Seperti yang kami bilang ini adalah pertama kali kami mengikuti kompetisi lomba projection mapping. Namun, beberapa peserta yang terpilih menjadi finalis kerapkali sudah pernah berkompetisi pada lomba yang serupa. Sehingga kami sangat beruntung untuk melihat hasil dari peserta lain yang sudah berpengalaman,” kata Paulus.

Tim Ashbun Production yang terdiri dari Lim Kentzhu (kiri), Paulus Winata (tengah), dan Naomi Angeline (kanan) saat menerima penghargaan Best Animation Award dalam Terang Projection Mapping Competition di George Town, Penang, Malaysia. (dok. Paulus Winata)
Dari sana, mereka menyadari bahwa projection mapping memiliki tantangan yang berbeda dari pembuatan animasi untuk video biasa. Ukuran medium yang besar memungkinkan detail animasi terlihat dari berbagai sudut, sehingga penempatan, skala, dan timing harus diperhitungkan sebagai bagian dari storytelling.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tetapi juga melalui kesempatan untuk membawa kemampuan yang telah dimiliki ke situasi baru. Bagi ketiganya, kompetisi ini menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus memahami karakter medium yang sebelumnya belum pernah mereka kerjakan.
Pada akhirnya, karya pertama Ashbun Production dalam projection mapping berhasil membawa mereka melampaui tahap finalis. “A Shared Horizon” meraih Best Animation Award dalam “Terang Projection Mapping Competition”, setelah sebelumnya terpilih sebagai salah satu dari 20 finalis kompetisi internasional tersebut.
Pencapaian itu juga menjadi jawaban atas rasa penasaran yang sejak awal mendorong mereka mengikuti kompetisi. Kemampuan yang dibangun melalui berbagai tugas dan mata kuliah di DKV UMN kemudian mendapat ruang untuk diuji dalam sebuah kompetisi internasional.
“Jujur kita juga enggak kepikiran kalau karya kita suatu saat akan ditampilin di gedung sebesar itu dan secara internasional juga, kita juga pasti dimulai dari penasaran dengan skill set kita yang udah dipelajarin apakah bisa kita berkompetisi sampai ke luar negeri? Dan jawabannya ternyata bisa! Jadi, menurut kita, selama kamu punya rasa keinginan dan penasaran yang kuat dalam menggapai sesuatu, pasti bakal kejadian kok,” kata Paulus.
Bagi Ashbun Production, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa karya yang besar tidak selalu dimulai dari pengalaman yang besar pula. “A Shared Horizon” justru bermula dari kesempatan sederhana yang mereka temukan melalui open call dan keberanian untuk mencoba medium yang belum pernah mereka kerjakan. Dari rasa penasaran tersebut, mereka membawa karya pertama mereka ke panggung internasional dan pulang dengan sebuah penghargaan.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



