
Intip Kompetensi yang Dibangun Mahasiswa UMN Selama Kuliah Agar Siap Kerja
September 15, 2026Dari Persoalan Petani Rumput Laut, Tiga Mahasiswa UMN Lintas Prodi Raih Entrepreneurial Excellence di Vietnam

Mahasiswa UMN Mirabell Stacy Quan, Muhammad Faiq Hakim Ulinnuha, dan Peter Huang (kiri ke kanan) saat menerima penghargaan Entrepreneurial Excellence dalam UNIIC Business Challenge 2026 di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada 20 Agustus 2026. (dok. Peter Huang)

Mahasiswa UMN Mirabell Stacy Quan, Muhammad Faiq Hakim Ulinnuha, dan Peter Huang (kiri ke kanan) saat menerima penghargaan Entrepreneurial Excellence dalam UNIIC Business Challenge 2026 di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada 20 Agustus 2026. (dok. Peter Huang)
TANGERANG – Tiga mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) berhasil meraih Entrepreneurial Excellence dalam UNIIC Business Challenge 2026 yang berlangsung di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada Kamis (20/08/2026). Prestasi tersebut diraih oleh Peter Huang dari Program Studi Manajemen UMN angkatan 2024, Mirabell Stacy Quan dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UMN angkatan 2024, dan Muhammad Faiq Hakim Ulinnuha dari Program Studi Sistem Informasi angkatan 2023 melalui gagasan bisnis yang berupaya menjawab persoalan petani rumput laut dengan memadukan strategi bisnis, teknologi, dan desain.
Ketiganya tidak sekadar membagi tugas berdasarkan latar belakang keilmuan masing-masing. Peter berfokus pada strategi bisnis dan proyeksi keuangan, Hakim mengembangkan sisi teknologi melalui aplikasi, web, dan integrasi AI, sedangkan Mirabell menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam branding dan presentasi visual. Perpaduan tiga perspektif inilah yang menjadi salah satu kekuatan mereka dalam mengembangkan solusi hingga mampu bersaing di kompetisi bisnis tingkat internasional.
UNIIC Business Challenge 2026 merupakan kompetisi bisnis internasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh University Incubation and Innovation Consortium (UNIIC). Tahun ini, kompetisi tersebut diselenggarakan di Hung Vuong University (DHV), Ho Chi Minh City, Vietnam, dan diikuti hampir 100 mahasiswa dari 12 kampus yang berasal dari Filipina, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Afrika Selatan, dan Indonesia.
Dalam kompetisi tersebut, peserta diminta mempresentasikan ide bisnis dalam waktu enam menit berdasarkan pool tema masing-masing, yaitu Improving Communities, Harnessing Technologies, dan Resource Scarcity. Tim UMN berada dalam pool Improving Communities yang menuntut peserta menghadirkan business value bagi komunitas tertentu dengan potensi keberlanjutan di masa depan.
Dari proses brainstorming dan riset terhadap berbagai persoalan yang mungkin dihadapi masyarakat Indonesia, tim kemudian memilih mengangkat persoalan di industri rumput laut. Mereka melihat adanya masalah dari sisi petani berupa rendahnya pendapatan akibat distribusi keuntungan yang tidak adil serta persoalan rasio harga dan kualitas. Di sisi lain, pembeli juga menghadapi kesulitan karena harus memperoleh rumput laut dengan kualitas yang belum tersortir dan tidak pasti, sehingga membutuhkan waktu dan biaya tambahan untuk mendapatkan kualitas yang sesuai.
Dari persoalan tersebut, tim merancang sebuah bisnis yang menghubungkan produsen karagenan dengan petani rumput laut. Solusi tersebut ditujukan untuk menyediakan rumput laut dengan kualitas yang telah dinilai kepada konsumen sekaligus memberikan bayaran yang lebih tinggi bagi petani. Untuk memastikan gagasan tersebut memiliki potensi sebagai bisnis, mereka kemudian mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari masalah yang dihadapi, target pasar, kompetitor, hingga model bisnis.
“Our solution was a business that connects carrageenan producers with seaweed farmers. Providing graded quality seaweed to consumers and higher pay for seaweed farmers,” kata Mirabell.
Persoalan yang diangkat tim ternyata tidak berhenti pada masalah kualitas rumput laut. Menurut Purnamaningsih, S.E., M.S.M., Ketua Program Studi Manajemen UMN, salah satu kekuatan tim justru terlihat dari kemampuan mereka dalam mendefinisikan masalah secara lebih mendalam. Tim mengangkat sistem ijon dalam rantai pasok rumput laut sebagai bagian dari persoalan struktural yang membuat petani terjebak pada perantara.
Selain mempertajam masalah, tim juga melakukan revisi terhadap model bisnis dan proyeksi keuangan berkali-kali. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan gagasan yang dibawa bukan hanya menarik secara konsep, tetapi juga memiliki dasar bisnis yang detail dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kekuatan utama tim ini adalah bagaimana ketiga latar belakang jurusan mereka benar-benar saling mengisi, bukan sekadar dibagi tugas: Peter dari Manajemen memimpin strategi bisnis dan model keuangan, Hakim dari Sistem Informasi menerjemahkan ide menjadi solusi teknis yang realistis untuk diimplementasikan, dan Mirabell dari DKV memastikan cerita itu tersampaikan secara visual dengan jelas ke juri, sehingga tim ini dapat menghindari masalah umum mahasiswa yaitu ide bagus tapi eksekusi presentasinya lemah, atau sebaliknya,” kata Purnamaningsih.
Bagi Peter, proses kolaboratif tersebut menunjukkan bahwa perspektif dari bidang yang berbeda dapat membuat sebuah gagasan yang awalnya masih berupa ide menjadi lebih feasible dan realistis. Masukan dari bidang Sistem Informasi dan DKV turut memengaruhi bagaimana bisnis tersebut dapat diterapkan melalui teknologi sekaligus dikomunikasikan secara lebih menarik.
Dalam solusi yang dikembangkan, teknologi menjadi salah satu penopang utama. Tim menggunakan e-commerce untuk mempercepat proses jual beli dari berbagai pihak sekaligus mendukung transparansi. Selain itu, mereka menggunakan computer vision untuk mempercepat proses penilaian kualitas dan mendukung kredibilitas melalui data yang terdokumentasi.
Teknologi tersebut juga dikembangkan dengan mempertimbangkan perspektif dari dua bidang lainnya. Pengetahuan Manajemen diperlukan untuk memahami aspek keuangan dan proses jual beli, sementara masukan dari DKV membantu memastikan teknologi yang digunakan memiliki tampilan yang nyaman dan mendukung branding bisnis.
“Teknologi menjadi penopang yang sangat penting untuk model bisnis yang dibawa, ada 2 teknologi yang digunakan, yaitu e-commerce dan computer vision, e-commerce untuk mempercepat proses jual beli dari berbagai pihak dan menjamin transparansi, sementara computer vision untuk mempercepat proses penilaian serta kredibilitas karena semua terdata dengan baik tanpa bias,” jelas Peter.

Tim mahasiswa UMN saat mempresentasikan ide bisnis dalam UNIIC Business Challenge 2026 di Ho Chi Minh City, Vietnam. (dok. Peter Huang)
Perspektif teknologi tersebut juga dipadukan dengan rancangan yang mempertimbangkan tahapan penerapan di lapangan. Menurut Purnamaningsih, solusi yang dikembangkan Hakim menerjemahkan persoalan ijon dan proses grading manual menjadi tahapan yang lebih realistis untuk diterapkan. Proses tersebut dirancang mulai dari grading manual oleh field agent pada tahun pertama hingga rencana otomasi menggunakan AI pada tahun-tahun berikutnya.
Sementara itu, perspektif DKV berperan dalam menerjemahkan data dan aspek teknis menjadi tampilan serta narasi visual yang lebih mudah dipahami. Hal tersebut tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan presentasi kompetisi, tetapi juga mempertimbangkan pihak-pihak yang nantinya akan berinteraksi dengan solusi tersebut, mulai dari petani dan koperasi hingga investor.
“Keberagaman keilmuan ini terlihat jelas kalau kita lihat bentuk solusi akhir yang mereka hasilkan, bukan cuma di pembagian tugas. Perspektif bisnis dari Peter memastikan solusi ini punya model yang bisa berjalan secara komersial, mulai dari skema revenue share dengan koperasi sampai proyeksi keuangan yang realistis dan bisa dipertanggungjawabkan angkanya,” ungkap Purnamaningsih.
Bagi Mirabell, menerjemahkan ide bisnis menjadi identitas visual dimulai dengan memahami nilai yang ingin ditampilkan oleh sebuah brand dan bagaimana konsumen diharapkan melihatnya. Ia kemudian mengembangkan identitas berupa logo, palet warna, dan gaya visual yang disesuaikan dengan karakter bisnis yang ingin dibangun sebagai brand yang profesional, dapat dipercaya, dan membawa harapan bagi komunitas untuk berkembang.
Bekerja bersama mahasiswa Manajemen dan Sistem Informasi juga membuat Mirabell melihat bahwa sebuah desain dapat dipersepsikan secara berbeda oleh orang dengan latar belakang yang berbeda. Masukan dari anggota tim menjadi bagian dari proses untuk memahami bagaimana sebuah desain dapat diterima oleh khalayak yang lebih luas.
“For translating the business idea into something visual, of course it starts from brainstorming what values our brand wants to portray and how we want our customers to view us. Afterwards, I made the brand identity like logos, color palette, and overall style, to fit the values of the brand, in this case a more professional, trustworthy brand that brings hope to the community to regenerate and grow,” kata Mirabell.
Untuk sampai pada tahap siap dipresentasikan dalam kompetisi internasional, tim melalui proses pengembangan yang cukup panjang. Mereka memulai dengan melakukan brainstorming terhadap berbagai ide yang dibawa masing-masing anggota. Setelah memilih ide yang akan dikembangkan, mereka melakukan riset dan analisis terhadap masalah, target pasar, kompetitor, hingga model bisnis.
Tantangan terbesar muncul ketika mereka harus mempelajari industri yang belum pernah mereka terjun langsung di dalamnya. Kondisi tersebut membuat tim perlu melakukan banyak revisi terhadap bagaimana bisnis akan berjalan, menghasilkan keuntungan, hingga mengantisipasi berbagai kemungkinan masalah di masa depan. Kerja sama tim dan masukan dari dosen kemudian membantu mereka mematangkan business plan yang akan dipresentasikan.
“Proses dimulai dengan brainstorming banyak ide yang dipresentasikan masing-masing. Setelah diputuskan ide yang ingin dijalani, kami melakukan riset dan analisis terhadap segala aspek dari problem, target market, kompetitor, dan business model,” kata Peter
Menurut Purnamaningsih, proses tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi lintas disiplin dapat memberikan nilai tambah yang signifikan ketika sebuah ide dikembangkan menjadi solusi. Sebuah ide kreatif perlu diuji dari berbagai sisi, mulai dari kemungkinan menghasilkan pendapatan berkelanjutan, kemampuan solusi untuk dibangun secara teknis, hingga bagaimana manfaatnya dapat dikomunikasikan kepada pihak yang berbeda.
Kolaborasi juga membuat setiap anggota dapat saling mempertanyakan dan menguji ide sejak awal. Dengan demikian, celah yang mungkin tidak terlihat jika sebuah gagasan dikembangkan dari satu bidang keilmuan dapat ditemukan dan diperbaiki sebelum solusi tersebut dibawa ke kompetisi.
“Pengalaman tim ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin memberikan nilai tambah yang sangat signifikan dalam pengembangan ide menjadi solusi,” jelas Purnamaningsih.
Ketika berhadapan dengan juri, tim menonjolkan persoalan nyata yang dirasakan oleh komunitas petani rumput laut. Mereka kemudian menggabungkannya dengan penerapan teknologi, rancangan bisnis yang realistis, serta kemampuan menyampaikan gagasan melalui pitching yang terstruktur. Kombinasi tersebut menjadi salah satu faktor yang menurut mereka berkontribusi terhadap perolehan Entrepreneurial Excellence.
“Kami menonjolkan problem yang nyata dan sangat dirasakan oleh satu komunitas tertentu – petani rumput laut. Dengan penerapan teknologi yang baik, penerapan bisnis yang realistis, dan dengan pitching yang lancar, hal tersebut berkontribusi besar terhadap kami berhasil meraih Entrepreneurial Exellence,” tutur Peter.

Mahasiswa UMN Muhammad Faiq Hakim Ulinnuha, Mirabell Stacy Quan, dan Peter Huang (kiri ke kanan) berfoto bersama setelah menerima penghargaan Entrepreneurial Excellence dalam UNIIC Business Challenge 2026 di Ho Chi Minh City, Vietnam, 20 Agustus 2026. (dok. Peter Huang)
Pengalaman membawa proyek ke kompetisi internasional juga membuat ketiga mahasiswa melihat kesempatan yang diberikan UMN dari perspektif yang berbeda. Peter menilai kesempatan mengikuti lomba bersama dosen pembimbing, ditambah dukungan finansial, memberikan dorongan bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan mencoba kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara bagi Mirabell, kesempatan mengikuti kompetisi bisnis internasional merupakan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan. Dukungan dari dosen dan rekan satu tim membuatnya merasa memiliki orang-orang yang dapat membimbing selama proses tersebut, sehingga ia lebih berani untuk membawa karyanya kepada orang lain.
“I think that UMN opened up this opportunity for me because I would have never thought to apply to an international competition on my own, especially one about a business pitch since it seemed far out of reach. However, through UMN the competition itself didn’t feel as far or unreachable since I had people helping me throughout and guiding me such as my lecturers and teammates. I think that the support UMN has given me was the push I needed to be brave enough to put my works out for others to see,” kata Mirabell.
By Melinda Chang | UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara.



