
Mau Mulai Belajar Data? Excel Bisa Jadi Langkah Pertamamu!
Oktober 5, 2026
Enam buku yang mengangkat beragam tema, mulai dari komunikasi politik, metodologi penelitian, bahasa dan jurnalistik, hingga kecerdasan buatan (AI) dan semiotika media baru, diluncurkan dalam kegiatan “From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing” di UMN pada Rabu (30/9/2026).
TANGERANG – Menulis buku di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan akademisi. Namun, proses penelitian dan pemikiran akademik tetap dapat dikembangkan menjadi karya yang lebih luas dan mudah diakses melalui buku. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan “From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing” yang diselenggarakan Research, Innovation, and Sustainability (RIS) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Borneo, Gedung P.K. Ojong–Jakob Oetama Tower UMN tersebut menjadi rangkaian lanjutan dari kegiatan serupa yang telah diselenggarakan sejak 2025. Pada kesempatan ini, enam buku diluncurkan dengan mengangkat beragam topik, mulai dari bahasa Indonesia, komunikasi politik, penelitian komunikasi, pengelolaan sumber daya manusia di rumah sakit, hingga perkembangan media dan komunikasi digital.
Bagi Jansen Wiratama, S.Kom., M.Kom., selaku Publications Manager Research, Innovation, and Sustainability UMN, penerbitan buku menjadi salah satu bentuk produktivitas akademik yang perlu terus didorong. Ia mengapresiasi para penulis yang masih mempertahankan semangat menulis dan mengembangkan hasil penelitian hingga dapat diterbitkan, termasuk karya yang melibatkan mitra eksternal dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.
“Di era sekarang ini yang rasanya menulis buku menjadi suatu hal yang kayaknya mulai menurun gitu ya di kalangan praktisi akademisi maupun mahasiswa, tetapi saya sangat apresiasi sekali ya, timnya Bu Niknik [salah satu penulis yang meluncurkan bukunya sekaligus dosen UMN] masih punya semangat untuk menulis bahkan bisa dipublikasikan di penerbit buku Kompas. Saya berharap bukan hanya di Bu Niknik, tim-tim penulis lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, saya apresiasi juga semangatnya, rekan-rekan, mudah-mudahan bisa ditularkan ke dosen-dosen lain sehingga bisa meningkatkan produktivitasnya,” harap Jansen.
Semangat tersebut terlihat dari beragam karya yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut. Salah satunya adalah Sunggi Bahasa, karya lima dosen lintasprodi di UMN, yaitu Dr. Niknik M. Kuntarto, M.Hum.; Marlinda Vasty Overbeek, S.Kom., M.Kom.; Moeljono Widjaja, B.Sc., M.Sc., Ph.D.; Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.A.; dan Rudi Sutomo, S.Kom., M.Si., M.Kom.. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas tersebut berangkat dari penelitian mengenai pengembangan sistem penapis kesalahan bahasa berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk membantu meningkatkan kualitas teks jurnalistik berbahasa Indonesia di era digital.

Sesi penyerahan buku Sunggi Bahasa oleh Wakil Rektor Bidang Research, Innovation, and Sustainability UMN, Dr. Sari Monik Agustin, S.Sos., M.Si., kepada tim penulis dalam kegiatan “From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing” yang diselenggarakan Research, Innovation, and Sustainability (RIS) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Rabu (30/9/2026).
Tidak hanya membahas bahasa dari sisi kebahasaan, Sunggi Bahasa mempertemukan tiga ranah sekaligus, yaitu bahasa Indonesia, jurnalistik, dan teknologi. Salah satunya melalui U-Tapis, aplikasi penapis kesalahan berbahasa Indonesia yang dikembangkan oleh dosen lintasprodi UMN untuk membantu mendeteksi dan mengoreksi penggunaan bahasa. Pengembangan U-Tapis dalam buku tersebut memanfaatkan sejumlah algoritma kecerdasan buatan.
Bagi Niknik, judul Sunggi Bahasa sendiri memiliki makna menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. “Sunggi Bahasa juga berkisah tentang sebuah cinta, yaitu cinta kepada Indonesia, cinta kepada tanah air, dan spesial semoga ada yang mendengarkan di dunia lain bahwa Sunggi ini berasal dari usulan seorang mahasiswa hebat di UMN yang baru beberapa hari yang lalu meninggalkan kita semua, yaitu Annisa. Mari kita berdoa bersama untuk ketenangan di alam sana,” kata Niknik.
Pengembangan teknologi dalam Sunggi Bahasa juga tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia dalam memahami bahasa. Samiaji Bintang Nusantara, yang turut menjadi penulis buku sekaligus memiliki pengalaman di bidang jurnalisme, menjelaskan bahwa kesalahan bahasa dalam pemberitaan tidak semata-mata dapat dilekatkan pada jurnalis. Kecepatan produksi berita dan tuntutan pekerjaan di ruang redaksi menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi proses penulisan.
Karena itu, buku tersebut diarahkan sebagai bagian dari upaya membantu jurnalis meningkatkan kualitas penggunaan bahasa, bukan untuk menghakimi praktik jurnalistik yang telah berjalan. Teknologi penapis bahasa diposisikan sebagai alat yang dapat mendukung proses tersebut, sedangkan pemahaman dan kemampuan manusia tetap menjadi bagian penting dalam penggunaannya.
Persinggungan antara teknologi dan kemampuan manusia juga menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan U-Tapis. Marlinda Vasty Overbeek menjelaskan bahwa teknologi tersebut dibangun melalui berbagai algoritma kecerdasan buatan, termasuk pembelajaran mesin dan pembelajaran mendalam. Hingga saat ini, pengembangan tersebut telah menghasilkan sekitar 11 modul untuk mendeteksi dan memberikan koreksi terhadap kesalahan bahasa.
Di sisi lain, kehadiran AI juga membawa tantangan baru dalam proses belajar. Salah satu penulis Sunggi Bahasa, Moeljono Widjaja, menilai pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diiringi dengan kemampuan berpikir kritis agar teknologi tidak hanya digunakan sebagai sarana memperoleh jawaban secara instan.

Sesi diskusi buku interaktif bersama para penulis dalam kegiatan “From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing” yang diselenggarakan Research, Innovation, and Sustainability (RIS) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Rabu (30/9/2026).
Selain Sunggi Bahasa, lima buku lainnya memperlihatkan keluasan bidang pengetahuan yang dibawa dari proses penelitian dan penulisan menuju pembaca. Narasi Historis dan Mitologis dalam Arsitektur Komunikasi Politik karya Dr. Lestari Nurhajati dan Abdullah Madiokusumo mengangkat bagaimana sejarah dan mitologi dapat berperan dalam pembentukan pesan, simbol, identitas, legitimasi, serta persepsi publik dalam komunikasi politik.
Sementara itu, Tinjauan Literatur dalam Penelitian Komunikasi karya Prof. Dr. Billy K. Sarwono, Dr. Agustinus Rusdianto Berto, S.Sos., M.Si., Dr. Fitria Angeliqa, M.Si., dan Dr. Camelia Pasandaran membahas kemampuan melakukan kajian literatur secara kritis. Buku tersebut menempatkan tinjauan literatur bukan sekadar kegiatan mengumpulkan atau merangkum sumber, melainkan proses menyatukan berbagai potongan informasi untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai suatu persoalan penelitian.
Dua buku lainnya membawa perhatian pada persoalan pengelolaan manusia dan dinamika komunikasi di tengah perubahan zaman. Human Capital Rumah Sakit Berkelanjutan karya Dr. Mikaira Gultom, M.M. dan Dr. St. Hendro Budiyanto, S.Pd., M.M., CHRA, Nurali, S.Pd., M.M. membahas pengelolaan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi dalam membangun rumah sakit yang adaptif, profesional, dan berkelanjutan. Pembahasannya mencakup kompetensi tenaga kerja, budaya kerja, kolaborasi, kepemimpinan, serta pengembangan kapasitas secara berkelanjutan.
Sementara itu, Membaca Zaman melalui Komunikasi karya Dr. Arsa Widyatarsa Utoyo, S.T., M.Sn. membawa pembaca pada perubahan lanskap komunikasi yang berlangsung semakin cepat. Pergerakan informasi, viralitas berita, pembentukan persepsi melalui gambar, hingga peran media, algoritma, platform digital, influencer, data, dan kecerdasan buatan menjadi bagian dari dinamika yang membentuk cara masyarakat memahami realitas.
Persoalan pembentukan makna di ruang digital juga menjadi perhatian dalam Semiotika Media Baru: Menenun Makna di Era Digital karya Dr. Indiwan Seto Wahjuwibowo, M.Si. Buku tersebut mengajak pembaca melihat bagaimana makna tidak lagi hanya hadir melalui teks, tetapi turut dibentuk oleh simbol, algoritma, interaksi, media sosial, kecerdasan buatan, dan budaya digital sehari-hari.
Rangkaian buku tersebut memperlihatkan bahwa proses “From Manuscript to Bookshelf” tidak berhenti pada aktivitas menghasilkan sebuah buku. Di balik setiap karya terdapat penelitian, pengalaman, persoalan, serta kegelisahan akademik yang kemudian dirumuskan menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kepada pembaca. Enam buku yang diluncurkan juga menunjukkan bagaimana gagasan akademik dapat bergerak melintasi berbagai bidang dan merespons persoalan yang berkembang di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, semangat menulis tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas menghasilkan publikasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga agar pengetahuan terus berkembang dan dapat diwariskan kepada pembaca berikutnya. Dari manuskrip yang berangkat dari riset dan pemikiran, gagasan kemudian memperoleh ruang yang lebih luas untuk dibaca, diperdebatkan, dan dikembangkan kembali.
By Melinda Chang| UMN News Service
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Informatika| Sistem Informasi | Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | Manajemen| Komunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan , di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id




