UMN Selenggarakan Workshop Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi di Era 4.0

UMN Selenggarakan Workshop Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi di Era 4.0

Workshop Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi Universitas Multimedia Nusantara

Sugiyono, Ph.D., Pembicara Workshop “Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi di Era 4.0”. Foto: Reviana Kristin

TANGERANG – Dalam rangka menghadapi perubahan distruptif di era 4.0, Perguruan Tinggi perlu untuk  terus mengembangkan mutunya. Oleh karena itu, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan Workshop yang bertajuk “Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi di Era 4.0”. Workshop ini diselenggarakan di Function Hall UMN pada Jumat (25/1).

Sekitar 45 Perguruan Tinggi Swasta di Banten dan Cirebon diundang oleh UMN untuk mengikuti workshop “Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi di Era 4.0”. Terdapat kurang lebih 130 peserta pada workshop ini yang terdiri dari 50 peserta dosen UMN dan 80 peserta dari Perguruan Tinggi. Hadir sebagai pembicara Sugiyono, Ph.D., selaku Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Sugiyono memaparkan bahwa akreditasi merupakan hal yang wajib bagi perguruan tinggi, “Kita harus punya peta, kita harus punya ukuran tentang mutu dari Perguruan Tinggi atau prodi di wilayah tersebut,” tutur Sugiyono.

Sugiyono menerangkan selain bermanfaat bagi perguruan tinggi, akreditasi perguruan tinggi juga bermafaat bagi mahasiswa, lulusan dan orang tua mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi tersebut.

Sugiyono kemudian memberikan contoh mengenai akreditasi UMN, “Jadi UMN sudah akreditasi Perguruan Tingginya A, kemudian prodinya 90% A jadi itu jaminan bagi lulusan bahwa ke depan saya punya peluang untuk diterima di satu posisi tertentu,” ujar Sugiyono.

Selain itu, Sugiyono menjelaskan bahwa student engagement dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi dan implementasi pembelajaran Perguruan Tinggi ke masyarakat secara langsung merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah perguruan tinggi.

Ia juga berharap bahwa dosen merubah pendekatan kepada Mahasiswa. Pendekatan tersebut dapat dirubah dengan menggeser peran dosen menjadi learning designer.

“Jadi bagaimana kita rubah fungsi dosen yang tadinya dia mengajar knowledge delivering menjadi learning designer,” ujar Sugiyono.

Menurutnya perguruan tinggi harus dapat mengantisipasi perubahan, “Terkait 4.0 sebenarnya 4.0 adalah challenge yang dihadapi oleh perguruan tinggi untuk merubah mindset berpikirnya mengantisipasi perubahan yang distruptif. Jadi perguruan tinggi perlu mendesain kurikulumnya untuk mengantisipasi perubahan”.

Lebih lanjut, Sugiyono menerangkan kepada para peserta workshop bahwa perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang kreatif, inovatif, entrepreneurial, memiliki communication skill dan collaborative skill di era 4.0 ini, “Karena ketika mereka lulus, lingkungannya itu sudah sangat berbeda ketika mereka berkuliah,” ujar Sugiyono.

Workshop yang bermanfaat bagi para dosen

Salah satu peserta workshop, Trihadi Pudiawan Erhan, S.E., M.S.E., yang merupakan dosen Program Studi Manajemen UMN mengatakan bawa workshop ini merupakan workshop yang bermanfaat.

“Sangat bermanfaat karena dengan workshop ini ada fakta-fakta menarik seperti lebih harus ditonjolkan adalah student engagement karena student centered learning itu masih sangat sulit didefinisikan jadi dari tataran (yang diungkapkan oleh Sugiyono) yang sifatnya teknis pelaksanaan kita jadi tahu lebih jelas,” tutur Trihadi.

Workshop Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi Universitas Multimedia Nusantara

Peserta Workshop “Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi di Era 4.0”. Foto: Reviana Kristin

Menurut Trihadi, Mahasiswa saat ini sangat melek informasi dikarenakan para Mahasiswa lahir di masa informasi yang berlimpah. Sehingga menurut Trihadi saat ini tidak bisa mengajar para Mahasiswa dengan metode one-way teaching seperti di zaman dahulu, “Satu-satunya perbedaan yang dipunyai dosen dengan mahasiswa zaman sekarang itu cuma kita lahir duluan saja karena informasi mereka practically bisa dapat dimana saja,” ungkap Trihadi.

Trihadi pun setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Sugiyono, bahwa saat ini para dosen perlu menggeser perannya menjadi leaning designer.

“Pokoknya  dosen itu dosen itu sumber segala ilmu itu sudah nggak  make sense lagi buat anak-anak zaman sekarang jadi memang sebagai dosen memang kita harus mengupdate diri dan perannya bukan sebagai sumber ilmu tapi fasilitator pembelajaran adalah sebagai perencana jadi merencanakan bagaimana pembelajaran itu terjadi,” jelas Trihadi.

Ketika mengajar, Trihadi pun menerapkan student engagement. Ia mengungkapkan dalam pengajaran menggunakan pendekatan secara terstruktur dan organik.  Pada pendekatan terstruktur, Adi memasukkan informasi-informasi terkini ke dalam materi pengajaran atau penugasan, “Sehingga mereka lebih dapat sense atau realnya,” tutur Trihadi.

Trihadi mencontohkan ketika mengajar mata kuliah ekonomi mikro dan makro, ia menggunakan contoh yang disukai atau sehari-hari Mahasiswa seperti menggunakan contoh film yang sedang digandrungi yang bisa dijelaskan dengan ekonomi. Sementara untuk penggunakan organik, Trihadi menggunakan pendekatan dengan membuka sesi diskusi baik di luar dan di dalam kelas.

Semoga workshop yang diselenggarakan ini dapat bermanfaat bagi UMN dan perguruan tinggi lainnya untuk terus mengembangkan mutunya di era industri 4.0.

*by Reviana Kristin – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi InformatikaSistem Informasi Teknik Komputer | Teknik Elektro | Teknik Fisika | Akuntansi | ManajemenKomunikasi Strategis | Jurnalistik | Desain Komunikasi Visual | Film dan Animasi | Arsitektur | D3 Perhotelan | International Program, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id