Skystar Ventures, Inkubator Bisnis Sekaligus Laboratorium dari UMN

Skystar Ventures, Inkubator Bisnis Sekaligus Laboratorium dari UMN

con_02skystarpenghargaan

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak bisa dimungkiri, para mahasiswa saat ini lebih memimpikan bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi yang mereka idamkan.

Beberapa di antaranya lebih memilih membuat perusahaan rintisan (startup) sendiri dibanding harus bekerja di perusahaan multinasional atau perusahaan konvensional, misalnya.

Untuk mendekatkan mahasiswa UMN dengan dunia bisnis, UMN sejak 2013 telah menggandeng Skystar Ventures, yaitu co-working space, venture capital, yang juga inkubator bisnis yang siap menghasilkan perusahaan rintisan berbasis teknologi dan informasi.

Digandeng oleh UMN sejak empat tahun lalu, Skystar Ventures kini makin kokoh di antara geliat pertumbuhan startup di Indonesia. Skystar tak hanya membina startup yang lahir dari lingkungan kampus UMN, tetapi banyak pula dari luar UMN.

Wakil Rektor UMN, Andrey Andoko, mengatakan, Skystar Ventures telah menjadi laboratorium sekaligus menjadi inkubator bisnis. “Bahkan telah masuk dalam jaringan startup dunia, Accelerator Network. Tahun lalu mendapatkan penghargaan inkubator terbaik,” kata Andrey, saat temu media di Jakarta, Selasa (6/6/2017).ingga kini, Skystar Ventures telah melahirkan perusahaan-perusahaan rintisan bisnis yang tumbuh dan sukses bersama pesatnya perkembangan kampus UMN. Selain itu, Skystar juga terus membina dan mendampingi lahirnya banyak startup baru.

Untuk memacu pertumbuhan startup digital di Indonesia, pemerintah juga telah mendorong dengan mengucurkan dana hibah bagi startup yang terpilih.

Nike Putri, Public Relations Skystar Ventures, mengatakan, tahun 2017 ini, startup binaan Skystar Ventures mendapatkan dana hibah total Rp 1,111 miliar dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Terdiri dari perusahaan rintisan Youthmanual yang mendapat dana hibah Rp 398,872 juta, Indoproc mendapatkan Rp 372,872 juta, dan Zefer mendapatkan Rp 340 juta.

Youthmanual merupakan platform persiapan kuliah dan karir online berbasis data, yang didukung teknologi people science.

Sedangkan Indoproc merupakan platform atau pelantar e-procurement, yaitu sistem pengadaan barang secara elektronik. Sementara, Zefer merupakan platform e-commerce dengan fokus pengadaan barang kategori barang dari luar negeri dengan bantuan para pelancong atau traveller.

Platform untuk para traveller

William Sjahrial, Chief Technology Officer (CTO) Zefer, salah satu tenant di Skystar, mengatakan, Zefer merupakan platform e-commerce dari para traveller.

“(Kalau diandaikan) siapa saja yang punya kendaraan bisa berbisnis dengan Uber. Nah, siapa saja yang punya tiket ke luar negeri, bisa bergabung untuk berbisnis dengan Zefer,” kata William.

William mengistilahkan, siapa saja yg punya tiket ke luar negeri, bisa menjalankan kegiatan mini “ekspor-impor”, dengan catatan harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Zefer memang terinspirasi dari kebutuhan pribadi William akan barang-barang dari luar negeri yang susah ditemukan di Indonesia.

Sebelum menekuni startup Zefer di Indonesia, William memang lebih banyak berada di luar negeri. “Waktu di Indonesia, mau beli barang dari luar susah, akhirnya harus nitip teman yang ke luar negeri,” kenang William.

Dari pengalaman itu, akhirnya terpikirkan, alangkah baiknya jika ada platform bagi orang-orang untuk bisa beli barang dengan cara titip ke orang-orang yang sedang ke luar negeri.

“Bisa nitip dibelikan teman di luar negeri. Bisa pula membantu membuka peluang orang-orang untuk bisa travelling ke luar negeri, dengan biaya dari peluang bisnis titip barang ini,” katanya.

Sekarang bepergian ke luar negeri sudah relatif lebih mudah karena sudah tersedia maskapai penerbangan yang jauh lebih murah dibanding dulu.

“Tinggal selangkah lagi bagaimana para traveller biar bisa survive membiayai perjalanan mereka, maka lahirlah Zefer ini,” kata William.

Zefer memang sudah mendapatkan hibah, namun masih belum bisa dibanggakan. “Ini baru permulaan saja,” kata William.

Business Development Skystar Ventures, Indra Dhanurendra, mengatakan, di usianya yang ke-4 tahun, Skystar terus berkembang menjadi inkubator bisnis. “Skystar telah berkembang menjadi inkubasi bisnis di bidang teknologi digital dan mampu menjadi yang terbaik,” katanya.

Di ajang Indonesia Innovations & Innovators Expo (I3E) 2016, Skystar Ventures mengalahkan lebih dari 30 inkubator bisnis se-Indonesia di tingkat universitas dan dinobatkan sebagai Inkubator Terbaik dengan Pendampingan dan Pembinaan terhadap Tenant oleh Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Keberadaan Skystar di UMN sekaligus juga menjadi tempat pelatihan terbaik bagi para mahasiswa UMN. Beberapa lulusan mahasiswa UMNmemilih langsung bekerja di startup-startup yang menjadi tenant Skystar Ventures.

Berita asli: Kompas.com

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika | Sistem Informasi | Sistem Komputer | Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi | Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id

 

two + twenty =

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + nineteen =