ICO-D Tanamkan Nilai Menjadi Desainer Profesional pada Mahasiswa UMN

ICO-D Tanamkan Nilai Menjadi Desainer Profesional pada Mahasiswa UMN

Mahasiswa-mahasiswi DKV UMN mendapatkan kesempatan langsung untuk menghadiri sharing knowledge dari president dan elected president dari ICO-D (International Council of Design) di Lecture Hall, Senin (22/5). ICO-D sendiri merupakan sebuah asosiasi non-pemerintahan beranggotakan para desainer dengan lingkup internasional. Asosiasi ini turut membentuk sebuah komunitas desainer profesional dari berbagai negara.

Con_icod

Pada kesempatan tersebut, presiden David Grossman dari Israel memberikan beberapa insight kepada mahasiswa mengenai bagaimana menjadi desainer masa depan. Yang pertama, mereka perlu berpikir bahwa desainer merupakan sebuah profesi yang harus dilakukan secara profesional.

“Anda harus mengerti bagaimana bertindak, berbicara dan berperilaku secara profesional serta mematuhi peraturan-peraturan yang ada serta berpartisipasi dalam komunitas profesional,” tutur David. Pada poin yang kedua, Ia menekankan pada posisi sebagai desainer komunikasi visual, di mana mereka sering mendapatkan tanggung jawab untuk membuat brand dari suatu perusahaan.

“Branding itu sangat penting, asset yang paling bernilai dari suatu perusahaan dan worth a lot of money. Jika Anda dapat melakukan pekerjaan yang baik, maka nilainya akan bertambah. Sama dengan diri Anda, Anda harus dapat melakukan branding terhadap diri sendiri  sebagai profesional,” ungkapnya.

Poin yang ketiga, David memotivasi pada mahasiswa untuk dapat memiliki plan dan tujuan hidup ke depannya. Ia mengibaratkan dalam pembuatan desain, desainer harus membuat brief dan objective untuk menghasilkan solusi yang baik. “Jika Anda tidak memiliki tujuan, Anda akan mudah untuk dipengaruhi dan didorong untuk melakukan sesuatu yang tidak Anda inginkan,” tutup David.

Zachary Haris Ong sebagai elected president dari ICO-D juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dan membagikan tools of design leadership dari John Maeda yang diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas diri dalam kepemimpinan dan teamwork. “Ada tiga tools yakni to serve, yang berarti berkontribusi lebih dari diri sendiri, kemudian pemahaman akan konteks yang menentukan konten, serta integritas,” jelasnya.

Di sesi terakhir, Vice President ICO-D Cihangir Istek mengingatkan bahwa kampus bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar, tetapi mahasiswa juga perlu untuk memperkaya diri dari hal-hal yang berada di luar kampus, terutama dari dunia kerja. “Dunia akan terus berubah, Anda perlu mengupgrade diri sendiri dan melakukan banyak hal-hal baru,” katanya. Selain itu, mempelajari disiplin lain juga penting karena para desainer mungkin tidak dapat ekspert di bidang lain tetapi harus memahami dan bekerjasama dengan bidang lain untuk menghasilkan suatu karya yang berarti. (*)

by Debora Thea  – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika | Sistem Informasi | Sistem Komputer|Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi | Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia

17 − 4 =

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − 10 =