Hal Berbeda dari Moving Image Production Awards 2018

Hal Berbeda dari Moving Image Production Awards 2018

Mahasiswa FTV UMN angkatan 2016 yang mendapat penghargaan dalam MIP Awards 2018

Mahasiswa FTV UMN angkatan 2016 yang mendapat penghargaan dalam MIP Awards 2018 (Copyright: Popsicle UMN).

Motivasi mahasiswa mengerjakan sebuah karya untuk ujian akhir seringkali hanya sekedar ingin mendapatkan nilai yang bagus saja. Dari fenomena tersebut, program studi Film dan Televisi (FTV) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengadakan acara penghargaan yang bertujuan untuk mengapresiasi karya-karya mahasiswa yang berupa film.

(Baca Juga: Mahasiswa FTV UMN Sajikan Karya Animasi & Film Terbaik dalam UMN Screen 2017)

Acara yang bertajuk Moving Image Production (MIP) Awards ini digelar di Lecture Theater P.K Ojong – Jakob Oetama Tower tanggal 12 Januari 2018 yang lalu. Sebanyak 25 film hasil karya mahasiswa FTV angkatan 2016 dipertontonkan dalam acara penghargaan ini.

Ketua acara MIP Awards, Natalie Vea (FTV 2016), yang ditemui sebelum acara pemutaran mengatakan acara ini sudah diadakan beberapa kali sejak 2009. Namun, dalam acara penghargaan tahun ini ada sesuatu yang cukup berbeda. “Acara penghargaan ini lahir dengan konsep dan pemikiran bahwa ini adalah surat cinta dari kami sebagai panitia untuk menyampaikan sesuatu,” ujar Natalie.

Terdapat sembilan kategori penghargaan yang diberikan dalam acara penghargaan ini, yaitu Best Script Writer, Best Director, Best Producer, Best Film, Best Sound Designer, Best Production Designer, Best Editor, Best Cinematographer, dan Best Production Handbook.

Menurut Natalie, acara penghargaan ini merupakan realisasi dari mata kuliah Moving Image Production (MIP). Dia juga mengungkapkan bahwa acara ini bekerja sama dengan Popsicle UMN. “Kita bekerja sama dengan mereka untuk menjadi ekshibitor resmi dari UMN,” tambahnya.

Acara penghargaan ditutup dengan pemberian apresiasi untuk beberapa karya film yang mendapatkan penghargaan. Terdapat film karya mahasiswa yang meraih dua penghargaan, seperti film “Ada Apa dengan Tania?” serta “Nina Bobo”. Film “Nina Bobo” sendiri meraih penghargaan sebagai Best Film dan penghargaan Best Script Writer atas nama Jeremy Randolph. Sedangkan “Ada Apa dengan Tania? meraih penghargaan sebagai Best Producer atas nama Marlyne Vanessa dan penghargaan Best Production Designer atas nama Bagus Jordy Rizkiyanda.

Selain itu, penghargaan lain seperti Best Sound Designer diraih oleh Janet Elizabeth dalam film berjudul “Lembayung”. Kemudian Visi Rarasanti terpilih sebagai Best Editor dalam film yang berjudul “Ruang Sendu”. Lalu Sarah Adillah meraih penghargaan Best Director dalam film yang berjudul “Suci”. Kemudian penghargaan Best Cinematographer diraih oleh Silvia Rike Triyanto dalam film berjudul “Ujar Bumi pada Bulan”. Dan penghargaan terakhir yaitu Best Production Handbook menjadi milik kru dari film “Aksara”.

Natalie berharap bahwa acara ini akan konsisten untuk terus mengapresiasi karya-karya mahasiswa. “Regardless karya itu baik atau buruk, yang penting sudah jadi dan bisa ditampilkan,” ujar Natalie. Menurutnya, ada potensi karya tersebut bisa diikutkan ke festival film internasional asal memenuhi syarat industri film.

Selamat kepada para pemenang dan teruslah berkarya! (YC)

By Kerfin Liong – Universitas Multimedia Nusantara News Service

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika Sistem Informasi Sistem Komputer Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id