Angkat Tragedi Lumpur Sidoarjo, Film Karya Mahasiswa UMN Menang di Festival Film Dokumenter 2017

Angkat Tragedi Lumpur Sidoarjo, Film Karya Mahasiswa UMN Menang di Festival Film Dokumenter 2017

Tim Hore Besok Libur bersama dosen pembimbing, Yosep Anggi Noen

Tim Hore Besok Libur bersama dosen pembimbing, Yosep Anggi Noen

Film “Ojek Lusi” (tour on mud) yang mengambil tragedi Lumpur Sidoarjo (LuSi) sebagai latar utama berhasil menjadi pemenang di Festival Film Dokumenter (FFD) 2017 kategori dokumenter pendek. Festival tersebut diselenggarakan pada 9-15 Desember 2017 di Taman Budaya Yogyakarta.

“Ojek Lusi” merupakan film garapan mahasiswa UMN yang tergabung dalam tim “Hore Besok Libur” dengan beranggotakan Winner Wijaya selaku Sutradara, Antonius Willson selaku Produser, Cornelius Kurnia selaku Sound mixing and recording, Ando Loekito selaku Music scoring, dan Yosep Anggi Noen selaku Dosen Pembimbing.

“Ojek Lusi” yang berdurasi 18 menit menceritakan kehidupan masyarakat Sidoarjo setelah terkena tragedi Lumpur Sidoarjo yang menenggelamkan 16 desa di 3 kecamatan. Lokasi tragedi tersebut justru dijadikan “tempat wisata” dan mendorong masyarakat untuk memiliki profesi baru, yakni tukang ojek sekaligus tour guide.

“Saya sempat datang ke sana (Lumpur Sidoarjo) dan yang saya temukan malah tempat wisata. Korban-korban kejadian ini malah jadi pemandu turis dan banyak cerita soal bagaimana mereka kehilangan rumah. Bahkan, ada yang jualan DVD tentang tragedi ini sendiri. Ini unik sekaligus aneh,” ungkap Willson.

Berdasarkan pengalaman tersebut, tim “Hore Besok Libur” membuat film “Ojek Lusi” dengan menampilkan sisi kehidupan korban, tanpa mengeksploitasi kesedihannya.

“Kebanyakan film dan informasi tentang Lumpur Sidoarjo adalah pesanan media. Mereka punya kepentingannya sendiri. Ada banyak filternya. Untungnya, kami tidak masuk jalur seperti itu. Kami tinggal dengan korban, tidur di sana dan bercerita dari apa yang benar-benar kami alami selama proses pembuatan film,” jelas Winner.

Walau awalnya film “Ojek Lusi” ini berawal dari tugas mata kuliah dokumenter, namun tim “Hore Besok Libur” berusaha semaksimal mungkin agar hasilnya tidak nanggung dan mengecewakan. Menurut Winner, film yang dapat menggerakkan hati biasanya adalah film yang dimulai dari keresahan pembuat filmnya.

Tim Hore Besok Libur (Foto: Dok. ffd.or.id)

Tim Hore Besok Libur (Foto: Dok. ffd.or.id)

(Baca juga : Film Pendek Ruah Karya Dosen FTV UMN Raih Piala Citra di Festival Film Indonesia 2017)

Keberhasilan tim “Hore Besok Libur” juga tak lepas dari bimbingan dosen mata kuliah dokumenter, Yosep Anggi Noen. “Bimbingan dosen sangat mempengaruhi bagaimana hasil dari film ini, karena kita banyak belajar dari orang yang lebih berpengalaman sehingga memiliki bayangan mengenai situasi yang akan kita hadapi ketika pembuatan film tersebut,” terang Cornelius.

Ke depannya, mereka berniat untuk memutar film “Ojek Lusi” di depan warga yang dijadikan subjek dalam film ini. “Niatan ini banyak kendalanya, khususnya karena kami masih mahasiswa dan punya banyak beban tugas. Rencananya, pasca selesai Tugas Akhir di semester depan, kami bakal balik lagi ke sana dan muter film ini ke mereka,” kata Willson.

Cornellius juga mengajak teman-teman jurusan Film dan Televisi (FTV) untuk membuat karya dengan sebaik dan seniat mungkin. “Menang di festival dan lain-lain adalah bonus dari hasil kerja keras kita. Yang penting kita harus bisa membuat sesuatu yang membanggakan untuk diri kita sendiri dan sesuai dengan apa yang kita kehendaki,” tutup Cornelius.

Selamat untuk tim “Hore Besok Libur”! Kita nantikan karya-karya kalian selanjutnya!

 

By Chininta Rizka Angelia – Universitas Multimedia Nusantara News Service

 

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika Sistem Informasi Sistem Komputer Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id